Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

IFSH Siap Genjot Pendapatan hingga Rp 1 Triliun di 2026

2026-01-22 | 15:10 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-22T08:10:38Z
Ruang Iklan

IFSH Siap Genjot Pendapatan hingga Rp 1 Triliun di 2026

PT Ifishdeco Tbk (IFSH) menargetkan pendapatan sekitar Rp 1 triliun pada tahun 2026, disertai proyeksi laba bersih di kisaran Rp 100 miliar. Target ini mencerminkan upaya pemulihan setelah perusahaan mengalami kontraksi kinerja signifikan pasca puncak pendapatan pada tahun 2023. Direktur IFSH, Iwan Luison, menyatakan perseroan akan melanjutkan strategi operasional yang telah berjalan, terutama dengan mengandalkan produksi bijih nikel dan silika sesuai Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB).

Pada tahun 2023, IFSH membukukan pendapatan sebesar Rp 1,433 triliun, melonjak 52,6 persen dari Rp 939,03 miliar pada tahun 2022. Laba bersih juga mencapai Rp 211,26 miliar pada periode yang sama. Namun, kinerja tersebut tidak berlanjut pada tahun berikutnya. Penjualan neto IFSH pada tahun 2024 terpangkas 32,13 persen secara tahunan menjadi Rp 972,70 miliar. Tren penurunan berlanjut pada periode sembilan bulan pertama tahun 2025, di mana pendapatan tercatat sebesar Rp 668,82 miliar, turun 6 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, dengan laba bersih periode berjalan anjlok 37 persen menjadi Rp 37,60 miliar. Dengan demikian, target pendapatan Rp 1 triliun pada 2026 menandakan ambisi IFSH untuk melewati level pendapatan 2024 dan kembali ke jalur pertumbuhan, meskipun masih di bawah rekor capaian tahun 2023.

Untuk mencapai target pemulihan ini, IFSH merencanakan peningkatan volume produksi bijih nikel secara bertahap. Perseroan membidik produksi bijih nikel mencapai 2.291.975 ton pada tahun 2026. Corporate Secretary IFSH, Rivka Rotua Natasya, menyatakan optimisme bahwa produksi bijih nikel dapat terus tumbuh dan memberikan nilai bagi pemegang saham serta pemangku kepentingan lainnya. Konsesi tambang yang dikelola IFSH tersebar di Tinanggea, Kabupaten Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara, dengan total luas 2.580 hektar dan Izin Usaha Pertambangan (IUP) Operasi Produksi seluas 800 hektar. Selain itu, IFSH juga memiliki aset di Kolaka Utara dan Konawe Selatan melalui anak perusahaan.

Selain strategi operasional, manajemen IFSH juga membuka peluang untuk melakukan aksi korporasi pada tahun 2026, khususnya terkait rencana akuisisi tambang baru. Penjajakan untuk akuisisi tambang telah dilakukan sejak tahun sebelumnya dan ditargetkan terealisasi pada tahun ini. Ekspansi anorganik melalui akuisisi tambang nikel baru ini diharapkan dapat memperkuat posisi IFSH di industri pertambangan nasional dengan memperbesar cadangan nikel dan menambah sumber pertumbuhan baru di masa depan. Langkah ini selaras dengan prospek industri nikel di Indonesia yang masih cerah, didorong oleh tingginya permintaan global terhadap kendaraan listrik yang membutuhkan nikel sebagai komponen utama baterai.

Meskipun prospek jangka panjang industri nikel menjanjikan, IFSH tetap menghadapi tantangan fluktuasi harga nikel global dan kondisi pasar yang dinamis, seperti yang terlihat dari penurunan kinerja pada 2024 dan 9M 2025. Fokus pada efisiensi operasional dan optimalisasi kapasitas produksi melalui investasi teknologi pertambangan yang efisien dan ramah lingkungan menjadi kunci bagi IFSH untuk menjaga daya saing dan mencapai target pendapatannya. Keberhasilan realisasi akuisisi tambang juga akan menjadi faktor penentu dalam mempercepat pencapaian target Rp 1 triliun dan memastikan lintasan pertumbuhan yang berkelanjutan bagi perusahaan di tahun-tahun mendatang.