
Genangan air kembali melumpuhkan sebagian ruas Jalan Tol Sedyatmo yang merupakan akses vital menuju Bandara Internasional Soekarno-Hatta pada Selasa, 13 Januari 2026, mengakibatkan gangguan signifikan pada lalu lintas dan jadwal penerbangan. Insiden ini, yang terjadi setelah hujan deras sejak Minggu, 11 Januari 2026, memaksa pengendara mencari jalur alternatif dan menunda perjalanan udara. Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya melaporkan bahwa genangan setinggi 10-15 sentimeter masih terjadi di Gerbang Tol Cengkareng hingga ramp Rawa Bokor pada Selasa pagi, dengan titik terparah di KM 31.4A dan Off Ramp Rawa Bokor KM 31+000.
Senior Manager Representative Office 2 Jasamarga Metropolitan Tollroad, Ginanjar Bekti, menjelaskan bahwa tingginya debit air di Kali Perancis menjadi penyebab utama genangan belum surut. "Satu-satunya aliran pembuangan genangan yang terjadi saat ini adalah menuju Kali Perancis, namun karena kondisi Kali Perancis juga masih meluap, maka genangan agak sulit dialirkan," ujar Ginanjar pada Selasa, 13 Januari 2026. Pihak Jasa Marga telah mengoptimalkan delapan unit mesin pompa dan berkoordinasi dengan Kepolisian serta Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Ciliwung-Cisadane untuk penanganan sungai yang meluap.
Dampak langsung dari genangan ini adalah perlambatan arus lalu lintas yang parah dari dan menuju Bandara Soekarno-Hatta. Kompol Dhanar Dhono Vernandhie, Kasat Patroli Jalan Raya Ditlantas Polda Metro Jaya, mengonfirmasi bahwa genangan tersebut mengakibatkan arus kendaraan tersendat di kedua arah. Pada Senin, 12 Januari 2026, genangan air dengan ketinggian bervariasi antara 15 hingga 50 sentimeter juga terjadi di beberapa ruas jalan akses bandara, termasuk KM 33 Tol Sedyatmo, jalur Soewarna, dan Perimeter Utara. Akibatnya, pengelola Bandara Internasional Soekarno-Hatta mengimbau penumpang untuk tiba tiga jam lebih awal dari jadwal penerbangan. Data Airport Operation Control Center (AOCC) CGK pada Senin, 12 Januari 2026, mencatat 109 penerbangan mengalami penundaan (delay), 7 penerbangan melakukan putar balik (go around), dan 31 penerbangan dialihkan (divert) ke bandara lain.
Permasalahan genangan di Tol Sedyatmo bukan merupakan fenomena baru. Insiden serupa telah berulang kali terjadi dalam beberapa tahun terakhir. Pada Januari 2025, Wakil Menteri Pekerjaan Umum Diana Kusumastuti meninjau lokasi banjir di KM 31+200 arah Bandara Soekarno-Hatta, mengidentifikasi penyebabnya adalah curah hujan tinggi yang berlangsung lama dan kondisi air laut pasang, yang menghambat aliran air dari drainase tol ke saluran penghubung. Saat itu, Kementerian PU melalui BBWS Ciliwung-Cisadane menurunkan empat unit pompa mobile dan merencanakan pengerukan polder serta koordinasi dengan PT Angkasa Pura II dan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk peningkatan kapasitas kolam retensi dan drainase kawasan.
M. Azis Muslim, seorang pengamat tata kota, menyatakan bahwa infrastruktur penangkal banjir yang belum optimal menjadi penyebab utama banjir berulang di Jakarta dan sekitarnya. Ia mendorong pemerintah untuk meningkatkan drainase dan pengerukan kali, menekankan bahwa Teknologi Modifikasi Cuaca bukanlah solusi jangka panjang. Ini sejalan dengan laporan dari Tangerang pada Januari 2026 yang menyebutkan bahwa buruknya sistem drainase dan penyempitan saluran air akibat padatnya pemukiman penduduk memperparah keadaan setiap kali musim penghujan tiba, dengan saluran air di wilayah tersebut juga menjadi muara pembuangan air dari jalur Tol Bandara.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah memprediksi bahwa pada Januari 2026, 81,1% Zona Musim di Indonesia, termasuk DKI Jakarta, telah memasuki musim hujan, dengan potensi curah hujan tinggi hingga sangat tinggi di beberapa wilayah. BMKG juga mengeluarkan peringatan dini potensi hujan disertai kilat/petir dan angin kencang untuk wilayah Jabodetabek pada 14-15 Januari 2026. Prediksi ini mengindikasikan bahwa tantangan penanganan genangan air di infrastruktur vital seperti Tol Sedyatmo akan terus berlanjut. Kesiapan infrastruktur drainase dan sistem penanganan air terpadu, yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan dari pengelola jalan tol, pemerintah daerah, hingga balai besar sungai, menjadi krusial untuk memastikan kelancaran konektivitas menuju gerbang utama Indonesia ini di tengah pola cuaca yang semakin ekstrem.