
Mantan Presiden Amerika Serikat Donald Trump telah membatalkan semua pertemuan yang direncanakan dengan para pejabat Iran, sekaligus mengancam akan memberlakukan tarif 25% segera pada negara mana pun yang berbisnis dengan Teheran. Pengumuman mendadak ini, yang disampaikan di tengah meningkatnya gelombang demonstrasi anti-pemerintah di Iran, memicu lonjakan harga minyak mentah global pada Selasa lalu, dengan patokan West Texas Intermediate (WTI) melonjak 2,8% menjadi $61,15 per barel, mencapai level tertinggi dalam dua bulan, sementara Brent Crude untuk pengiriman Maret naik 3% menjadi $65,77 per barel.
Langkah Trump yang mengejutkan ini muncul saat laporan mengindikasikan ratusan korban tewas dan ribuan penangkapan di Iran menyusul protes nasional yang intensif. Trump, melalui platform Truth Social, menyerukan agar warga Iran terus berdemonstrasi, menegaskan "bantuan sedang dalam perjalanan" dan mengindikasikan bahwa pertemuan dengan pejabat Iran ditunda hingga pembunuhan para demonstran berhenti.
Keputusan ini memperburuk ketegangan yang sudah memuncak antara Washington dan Teheran, yang telah membayangi pasar energi global sejak pemerintahan Trump secara sepihak menarik diri dari kesepakatan nuklir Iran tahun 2015, Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA), pada Mei 2018. Penarikan tersebut diikuti dengan kampanye "tekanan maksimum" yang memberlakukan kembali dan memperluas sanksi yang melumpuhkan terhadap sektor keuangan dan ekspor minyak Iran. Akibatnya, ekspor minyak Iran menurun drastis, dari lebih dari 2 juta barel per hari menjadi di bawah 500.000 barel per hari pada akhir masa jabatan pertama Trump, meskipun ada peningkatan menjadi lebih dari 1,5 juta barel per hari di bawah administrasi berikutnya karena penegakan yang lebih longgar.
Lonjakan harga minyak saat ini mencerminkan kekhawatiran pasar yang mendalam tentang potensi gangguan pasokan dari Iran, produsen minyak terbesar keempat di OPEC dengan kapasitas sekitar 3,3 juta barel per hari. Ancaman tarif 25% pada negara-negara yang berdagang dengan Iran secara langsung menargetkan jalur kehidupan ekonomi utama Teheran, terutama China, yang pada tahun 2025 dilaporkan membeli lebih dari 80% minyak mentah yang diekspor Iran. "Risiko geopolitik berada pada titik tertinggi sepanjang masa," kata Jeff Currie, kepala strategi energi di Carlyle. "Itu adalah resep untuk lonjakan harga sekarang." Analis Barclays memperkirakan bahwa kerusuhan di Iran telah menambah sekitar $3-$4 per barel premi risiko geopolitik pada harga minyak.
Krisis ini juga diperparah oleh berbagai faktor lain yang membebani pasokan global. Cuaca buruk, serangan drone, dan masalah pemeliharaan telah mengganggu ekspor Kazakh dari terminal Caspian Pipeline Consortium (CPC), mengurangi pemuatan hampir setengahnya menjadi sekitar 900.000 barel per hari. Selain itu, intervensi AS di Venezuela juga telah berkontribusi pada sentimen bullish di pasar minyak.
Implikasi jangka panjang dari sikap Trump yang semakin agresif terhadap Iran dapat memicu ketidakstabilan regional yang signifikan. Sementara beberapa negara Teluk Arab seperti Arab Saudi, Oman, dan Qatar dilaporkan telah memperingatkan Washington bahwa upaya untuk menggulingkan rezim Iran dapat mengguncang pasar minyak global dan merugikan ekonomi Amerika, Trump diperkirakan tidak akan sepenuhnya mengindahkan peringatan tersebut. "Pasar taruhan berspekulasi tentang serangan militer AS terhadap Iran," kata Carsten Fritsch dari Commerzbank. "Ini juga bisa menargetkan infrastruktur minyak untuk merampas pendapatan penjualan minyak rezim." Namun, skenario pembalikan rezim, seperti yang diindikasikan Fritsch, berpotensi mencabut sanksi dan mengembalikan produksi minyak Iran ke kapasitas penuh, yang pada gilirannya dapat menekan harga.
Kebijakan "tekanan maksimum" yang terus berlanjut, diperparah dengan ancaman tarif baru, berisiko menghidupkan kembali perang dagang dengan China, importir minyak mentah Iran terbesar di dunia. Ini akan menimbulkan tantangan signifikan bagi ekonomi global yang sudah bergulat dengan ketidakpastian. Sementara itu, rezim Iran menghadapi momen paling genting dalam beberapa dekade, dengan ekonomi yang sangat melemah oleh inflasi yang merajalela, pengangguran, dan pendapatan minyak yang terhambat sanksi serta diskon tinggi. Para pengamat pasar akan terus mencermati perkembangan di Iran dan reaksi AS, karena setiap eskalasi lebih lanjut kemungkinan besar akan memberikan tekanan ke atas pada harga minyak dalam waktu dekat, menciptakan ketidakpastian yang berkelanjutan bagi konsumen dan pasar energi di seluruh dunia.