Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Gejolak Perang Dagang Dorong Emas Meroket, Target Rp 2,82 Juta/Gram Terbidik

2026-01-18 | 15:56 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-18T08:56:22Z
Ruang Iklan

Gejolak Perang Dagang Dorong Emas Meroket, Target Rp 2,82 Juta/Gram Terbidik

Akselerasi ketegangan perang dagang global, terutama antara Amerika Serikat dan Tiongkok, telah mendorong proyeksi lonjakan harga emas dunia yang diperkirakan dapat menembus level Rp 2,82 juta per gram di pasar domestik Indonesia dalam waktu dekat. Para analis dan ekonom memperingatkan bahwa friksi perdagangan yang memanas, ditandai dengan serangkaian tarif baru dan pembatasan ekspor yang saling berbalas, meningkatkan ketidakpastian ekonomi global, sehingga mendorong investor beralih ke aset safe haven seperti emas. Kebijakan proteksionis yang semakin agresif dari negara-negara maju memicu kekhawatiran resesi global, memperkuat daya tarik logam mulia sebagai penyimpan nilai di tengah gejolak pasar finansial.

Konflik dagang yang terjadi saat ini merupakan kelanjutan dari eskalasi tarif yang pertama kali muncul secara signifikan pada akhir 2010-an, ketika Amerika Serikat memberlakukan tarif besar-besaran terhadap produk Tiongkok, diikuti dengan balasan serupa dari Beijing. Sejak saat itu, meskipun ada periode peredaan, tensi tidak pernah sepenuhnya sirna, dan bahkan diperburuk oleh isu-isu seperti keamanan siber, hak kekayaan intelektual, dan persaingan teknologi tinggi, khususnya di sektor semikonduktor dan energi bersih. Kebijakan AS yang membatasi akses Tiongkok terhadap teknologi chip canggih, misalnya, telah mendorong Beijing untuk menggandakan upaya kemandirian teknologinya, berpotensi menciptakan fragmentasi lebih lanjut dalam rantai pasok global. Laporan dari Bloomberg pada November 2025 menunjukkan bahwa negosiasi antara kedua negara cenderung stagnan, dengan kedua belah pihak enggan memberikan konsesi signifikan.

Analis dari Goldman Sachs, dalam laporan terbarunya di awal Januari 2026, merevisi perkiraan harga emas ke atas, memprediksi bahwa ketidakpastian geopolitik dan prospek penurunan suku bunga oleh bank sentral utama akan menjaga minat investor terhadap emas. Meskipun laporan tersebut tidak menyebutkan secara spesifik angka Rp 2,82 juta per gram, konsensus di kalangan analis komoditas di Asia Tenggara mengindikasikan bahwa harga emas fisik di pasar Indonesia akan mengikuti tren kenaikan global, didorong oleh depresiasi rupiah terhadap dolar AS dan meningkatnya permintaan domestik. Head of Research & Development PT Aneka Tambang Tbk, Bapak Budi Santoso, menyatakan dalam sebuah forum diskusi investasi pekan lalu bahwa "Dalam skenario perang dagang yang memburuk, kami melihat potensi harga emas untuk mencapai level psikologis baru, bahkan bisa melampaui Rp 2,8 juta per gram dalam beberapa bulan mendatang, mengingat karakteristik emas sebagai pelindung nilai."

Implikasi jangka panjang dari perang dagang yang memanas ini sangat luas. Selain memicu kenaikan harga emas, konflik ini berpotensi merusak pertumbuhan ekonomi global, mengganggu rantai pasokan, dan meningkatkan inflasi. Perusahaan-perusahaan multinasional terpaksa merevisi strategi produksi dan distribusinya, mencari alternatif pemasok dan pasar di luar negara-negara yang terlibat dalam konflik tarif. Bank Dunia dalam laporan prospek ekonominya pada Desember 2025 menyoroti bahwa fragmentasi ekonomi global akibat proteksionisme dapat mengurangi pertumbuhan PDB dunia sebesar 0,5% hingga 1,0% per tahun dalam dekade mendatang. Untuk konsumen di Indonesia, kenaikan harga emas ini dapat menjadi berkah bagi mereka yang memiliki emas sebagai investasi, namun juga menjadi tantangan bagi mereka yang ingin membeli perhiasan atau menjadikan emas sebagai tabungan jangka pendek di tengah daya beli yang mungkin tertekan oleh inflasi. Pemerintah dan bank sentral di berbagai negara, termasuk Bank Indonesia, akan menghadapi dilema kebijakan yang kompleks, menyeimbangkan antara menjaga stabilitas harga, mendorong pertumbuhan ekonomi, dan mengelola dampak volatilitas pasar keuangan yang dipicu oleh ketegangan geopolitik. Potensi resesi global yang semakin nyata menjadi ancaman serius, yang akan terus menjaga daya tarik emas sebagai investasi krusial di masa ketidakpastian.