Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

China Perketat Impor Daging Sapi AS-Australia, Ancaman Tarif 55% Mengintai

2026-01-01 | 02:23 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2025-12-31T19:23:35Z
Ruang Iklan

China Perketat Impor Daging Sapi AS-Australia, Ancaman Tarif 55% Mengintai

Beijing, Tiongkok memberlakukan tarif tambahan sebesar 55 persen pada impor daging sapi yang melampaui kuota tahunan dari sejumlah negara pemasok utama, termasuk Amerika Serikat dan Australia, berlaku mulai 1 Januari 2026. Langkah ini diambil menyusul penyelidikan Kementerian Perdagangan Tiongkok yang menyimpulkan lonjakan impor daging sapi telah "merusak industri domestik Tiongkok secara serius". Kebijakan ini, yang digambarkan sebagai "langkah pengamanan" (safeguard measures), akan berlaku selama tiga tahun hingga 31 Desember 2028, dengan kuota yang akan sedikit meningkat setiap tahunnya.

Di bawah aturan baru ini, Tiongkok menetapkan kuota impor daging sapi spesifik per negara untuk tahun 2026. Australia menghadapi kuota sekitar 200.000 ton (beberapa laporan menyebut 205.000 ton), sementara Amerika Serikat dibatasi hingga 164.000 ton. Brazil mendapatkan kuota terbesar dengan 1,1 juta ton, dan Argentina sekitar setengah dari jumlah itu. Kementerian Perdagangan Tiongkok juga mengumumkan penangguhan sebagian perjanjian perdagangan bebas (FTA) dengan Australia yang mencakup daging sapi.

Keputusan ini muncul di tengah tren penurunan harga daging sapi di Tiongkok dalam beberapa tahun terakhir, yang diakibatkan oleh kelebihan pasokan dan melambatnya permintaan seiring perlambatan ekonomi negara tersebut. Pada saat yang sama, volume impor daging sapi Tiongkok justru melonjak, menjadikan Tiongkok pasar yang sangat penting bagi negara-negara pengekspor daging sapi utama seperti Brazil, Argentina, dan Australia. Pada 2024, Tiongkok mengimpor rekor 2,87 juta ton daging sapi secara keseluruhan. Kuota total impor untuk 2026 ditetapkan sebesar 2,7 juta metrik ton, sedikit di bawah angka 2024.

Reaksi dari negara-negara pengekspor beragam. Produsen daging sapi Australia menyatakan "sangat kecewa" dengan kebijakan ini. Kepala Eksekutif Australian Meat Industry Council (AMIC), Tim Ryan, menyebut tarif tersebut "tidak adil maupun tidak pantas" dan berpotensi mengganggu hubungan perdagangan yang saling menguntungkan di bawah Perjanjian Perdagangan Bebas Tiongkok-Australia (ChAFTA). Ia menambahkan bahwa keputusan ini tampak "menghargai negara-negara lain yang telah membanjiri volume daging sapi ke pasar Tiongkok dalam beberapa tahun terakhir".

Bagi Amerika Serikat, dampaknya diperkirakan terbatas bagi beberapa eksportir besar, seperti Tyson Foods, mengingat ekspor daging sapi AS ke Tiongkok telah menurun drastis akibat sengketa perdagangan sebelumnya dan berakhirnya izin fasilitas pabrik. Sebelumnya, banyak fasilitas produksi daging sapi AS tidak memenuhi syarat untuk mengekspor ke Tiongkok karena kegagalan Beijing memperbarui pendaftaran izin sejak Februari lalu. Pada November 2025, pengiriman AS ke Tiongkok hanya mencapai 55.172 ton.

Secara historis, hubungan perdagangan daging sapi antara Tiongkok dengan AS dan Australia telah mengalami fluktuasi. Pada tahun 2020, Tiongkok pernah melarang impor dari empat rumah jagal Australia karena masalah label dan sertifikasi kesehatan, yang memicu diversifikasi pasar oleh Australia. Sementara itu, ekspor daging sapi AS ke Tiongkok sempat terhenti pada kuartal kedua 2025 akibat tarif yang mengganggu, meskipun ada jeda tarif sementara pada pertengahan Mei yang sedikit meredakan ketegangan.

Analis Hongzhi Xu, seorang analis senior di Beijing Orient Agribusiness Consultants, memperkirakan impor daging sapi Tiongkok akan menurun pada tahun 2026 sebagai dampak dari langkah-langkah baru ini. Ia menyoroti bahwa peternakan sapi potong Tiongkok tidak kompetitif dibandingkan dengan negara-negara seperti Brazil dan Argentina, dan situasi ini tidak dapat diubah dalam jangka pendek melalui kemajuan teknologi atau reformasi kelembagaan. Keputusan ini menunjukkan prioritas Tiongkok dalam melindungi industri domestiknya di tengah tantangan ekonomi global dan tekanan harga internal.