Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Bursa Efek Indonesia Kebut Proses IPO 7 Perusahaan di Januari 2026

2026-01-17 | 19:31 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-17T12:31:20Z
Ruang Iklan

Bursa Efek Indonesia Kebut Proses IPO 7 Perusahaan di Januari 2026

Bursa Efek Indonesia (BEI) melaporkan tujuh perusahaan sedang dalam proses penawaran umum perdana (IPO) per pertengahan Januari 2026, menandai awal tahun yang aktif bagi pasar modal Indonesia di tengah optimisme pertumbuhan ekonomi domestik, meskipun sebagian analis mencermati tantangan likuiditas. Direktur Penilaian Perusahaan BEI I Gede Nyoman Yetna pada Jumat (16/1) mengonfirmasi bahwa lima dari tujuh calon emiten tersebut memiliki aset berskala besar, yakni di atas Rp250 miliar, sementara satu perusahaan berskala menengah antara Rp50 miliar hingga Rp250 miliar, dan satu berskala kecil di bawah Rp50 miliar.

Antrean IPO tersebut menunjukkan keragaman sektoral, meliputi satu perusahaan dari sektor bahan baku, dua dari sektor finansial, satu dari sektor energi, satu dari sektor industri, satu dari sektor teknologi, serta satu dari sektor transportasi dan logistik. Aktivitas awal tahun ini terjadi setelah realisasi IPO tahun 2025 yang hanya mencapai 26 emiten, jauh di bawah target BEI sebanyak 45 perusahaan, meski dana yang dihimpun meningkat signifikan menjadi Rp18,11 triliun dari Rp14,35 triliun pada tahun 2024. Secara keseluruhan, total penghimpunan dana di pasar modal Indonesia pada 2025 mencapai Rp278 triliun, melampaui rata-rata tahunan Rp200 triliun.

Prospek IPO yang terus berlanjut ini selaras dengan target BEI untuk mencatatkan 50 perusahaan baru pada tahun 2026 dan mencapai rata-rata transaksi harian sebesar Rp15 triliun. Nyoman Yetna sebelumnya menyatakan, animo perusahaan untuk melakukan IPO akan terus berlanjut pada tahun 2026, didukung oleh prospek pertumbuhan ekonomi domestik yang positif, stabilitas makroekonomi, dan membaiknya likuiditas. Bank Dunia bahkan telah merevisi naik proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia untuk tahun 2026 menjadi 5%, dengan pemerintah menargetkan 5,4% dalam APBN 2026.

Namun, optimisme ini tidak seragam di kalangan pelaku pasar. Rob Chan, Head of ECM Syndicate for Asia Citi, memperkirakan pasar modal Indonesia kemungkinan akan sepi dari IPO signifikan pada paruh pertama tahun 2026. Chan menilai investor masih mempertimbangkan kondisi likuiditas perdagangan saham yang belum kuat, dan ia memprediksi aksi IPO besar kemungkinan baru akan terealisasi pada semester II 2026 atau bahkan bergeser ke tahun 2027. Kendati demikian, ia menambahkan bahwa peluang IPO tetap terbuka secara selektif, khususnya untuk perusahaan di sektor komoditas yang menunjukkan kinerja penguatan.

Di sisi lain, Oktavianus Audi, VP Equity Retail Kiwoom Sekuritas Indonesia, berpandangan positif terhadap pasar IPO Indonesia tahun 2026. Ia mengidentifikasi beberapa katalis pendorong, termasuk ekspektasi pelonggaran suku bunga yang dapat meningkatkan permintaan dan likuiditas investor, stabilitas makroekonomi domestik, serta potensi meredanya tensi geopolitik global.

Perkembangan ini terjadi di tengah kinerja positif pasar modal Indonesia. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup pada level 9.075 dengan kapitalisasi pasar mencapai Rp16.512 triliun pada Kamis, 15 Januari 2026, mencatat rekor tertinggi sepanjang masa. Selama sepekan terakhir (12-15 Januari 2026), IHSG menguat 1,55% dan investor asing mencatatkan beli bersih sebesar Rp947,45 miliar, dengan total beli bersih tahun berjalan 2026 mencapai Rp7,30 triliun. Rata-rata nilai transaksi harian juga meningkat 3,87% menjadi Rp32,68 triliun.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan BEI secara proaktif telah memperketat aturan IPO guna meningkatkan kualitas emiten dan melindungi investor. Kebijakan ini mencakup peningkatan due diligence serta potensi kenaikan persyaratan free float minimum, terutama untuk perusahaan dengan kapitalisasi pasar di bawah Rp5 triliun. Inarno Djajadi, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK, menjelaskan bahwa aturan ini bertujuan menekan volatilitas harga dan meningkatkan partisipasi investor ritel yang telah mendominasi porsi transaksi sebesar 49,9% pada tahun 2025. Langkah regulasi ini berpotensi membentuk pasar yang lebih kuat dan stabil dalam jangka panjang, memastikan perusahaan yang melantai di bursa memiliki fundamental yang solid.