
Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, memastikan ketersediaan cadangan beras di Sumatera aman menjelang perayaan Tahun Baru Imlek dan bulan suci Ramadan 2026, meskipun wilayah tersebut menghadapi tantangan bencana hidrometeorologi. Pernyataan ini disampaikan dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi VI DPR RI pada Rabu, 21 Januari 2026, menekankan langkah proaktif pemerintah untuk menjaga stabilitas pasokan pangan di tengah periode konsumsi tinggi.
Secara nasional, stok beras Bulog mencapai 3.351.900 ton per 9 Januari 2026, jumlah yang diklaim cukup untuk menghadapi Imlek, Ramadan, hingga Lebaran. Cadangan Beras Pemerintah (CBP) per 12 Januari 2026 tercatat 3,36 juta ton, dengan 3,23 juta ton di antaranya merupakan CBP. Rizal menambahkan bahwa Bulog menargetkan penyerapan 4 juta ton beras dari petani lokal sepanjang 2026, yang berpotensi meningkatkan total cadangan hingga hampir 7 juta ton.
Fokus distribusi saat ini diarahkan ke wilayah-wilayah terdampak bencana di Sumatera. Di Provinsi Aceh, Bulog menguasai CBP sebesar 62.820 ton per 18 Januari 2026, di mana 14.435 ton telah disalurkan untuk penanganan bencana. Stok di Sumatera Utara mencapai 17.425 ton dengan 5.098 ton telah disalurkan, sementara Sumatera Barat memiliki stok 5.627 ton dengan 1.069 ton didistribusikan. Rizal menyebutkan, jumlah bantuan beras telah dilipatgandakan dari kebutuhan masing-masing provinsi sesuai arahan Presiden dan Menteri Pertanian untuk memastikan seluruh masyarakat mendapatkan dukungan pangan. Bahkan, Bulog telah menyiagakan 50 ton beras di bandara seperti Bandara Minangkabau dan Lanud Soewondo setiap hari untuk mempercepat respons bantuan. Untuk daerah yang sulit diakses seperti Takengon di Aceh dan Sibolga di Sumatera Utara, Bulog melakukan pengiriman lintas cabang untuk memperkuat pasokan.
Meskipun jaminan ketersediaan stok diberikan, Sumatera menghadapi tantangan signifikan dari bencana hidrometeorologi yang telah merusak sekitar 102.000 hektare lahan pertanian, dengan 11.000 hektare di antaranya mengalami puso atau gagal panen di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Asisten Deputi Cadangan Pangan dan Bantuan Pangan Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Sugeng Harmono, mengakui dampak bencana dan cuaca ekstrem terhadap sektor pertanian di wilayah tersebut. Namun, produksi padi nasional pada Januari hingga Desember 2025 dilaporkan mencapai 34,71 juta ton, meningkat 13,36% dari 2024, menghasilkan surplus sekitar 3 juta ton dibandingkan kebutuhan konsumsi tahunan sekitar 31 juta ton.
Harga beras di Sumatera Barat menjadi yang termahal se-Indonesia per 2 Januari 2026, dengan harga beras kualitas medium I di pasar modern mencapai Rp 18.600 per kg. Untuk mengatasi potensi lonjakan harga menjelang hari besar, pemerintah melalui Badan Pangan Nasional (Bapanas) menyiapkan tujuh aksi strategis, termasuk pemantauan harga harian, Fasilitasi Distribusi Pangan (FDP), perpanjangan penyaluran SPHP Beras, dan Gerakan Pangan Murah (GPM). Target SPHP Beras untuk tahun 2026 adalah 1,5 juta ton. Kepala Bapanas, Andi Amran Sulaiman, menegaskan bahwa stok beras nasional sebesar 3,2 juta ton per 15 Januari 2026 cukup untuk memenuhi kebutuhan hingga 3-6 bulan ke depan.
Secara historis, periode menjelang Imlek dan Ramadan seringkali diiringi dengan peningkatan permintaan dan potensi kenaikan harga komoditas pangan. Intervensi Bulog dan pemerintah daerah melalui operasi pasar dan penyaluran SPHP menjadi krusial untuk menahan laju inflasi pangan. Wakil Gubernur Sumatera Utara, Surya, dalam panen raya padi di Kabupaten Karo pada 20 Januari 2026, menekankan komitmen pemerintah untuk memperkuat infrastruktur pertanian, irigasi, dan akses pembiayaan bagi petani. Pemerintah juga berencana mempercepat pencairan bantuan sosial reguler PKH dan BPNT tahap awal pada 2026, termasuk penyaluran beras 10 kg kepada Keluarga Penerima Manfaat (KPM), untuk menjaga daya beli masyarakat menjelang hari besar keagamaan.