Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Booming Industri: 1.236 Pabrik Baru Ciptakan 218.000 Lapangan Kerja Tahun Ini

2026-01-19 | 02:51 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-18T19:51:16Z
Ruang Iklan

Booming Industri: 1.236 Pabrik Baru Ciptakan 218.000 Lapangan Kerja Tahun Ini

Kementerian Perindustrian melaporkan sebanyak 1.236 perusahaan industri mulai berproduksi perdana pada awal 2026, menyerap 218.892 tenaga kerja. Pencapaian ini, yang didukung investasi sektor industri pengolahan nonmigas sebesar Rp551,88 triliun, menjadi indikator ketahanan sektor manufaktur nasional di tengah ketidakpastian ekonomi global. Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyatakan bahwa fondasi industri manufaktur Indonesia tetap kuat, berfungsi sebagai motor penggerak perekonomian nasional.

Perusahaan-perusahaan baru yang mulai beroperasi pada 2026 ini sebelumnya telah melaporkan tahap pembangunan sepanjang tahun 2025. Total investasi yang mengalir ke sektor industri pengolahan nonmigas mencapai Rp551,88 triliun, dengan Rp444,25 triliun di antaranya merupakan investasi di luar tanah dan bangunan. Penambahan kapasitas produksi ini dinilai krusial untuk menjaga pasokan industri, memperkuat struktur manufaktur, dan menciptakan lapangan kerja baru.

Pemerintah menargetkan pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) industri pengolahan nonmigas mencapai 5,51 persen pada 2026, menegaskan posisi strategis sektor manufaktur sebagai tulang punggung pertumbuhan ekonomi. Menperin Agus Gumiwang Kartasasmita optimistis kinerja positif ini dapat terus dijaga dan ditingkatkan sepanjang tahun.

Untuk mempertahankan momentum pertumbuhan ini, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus mendorong percepatan industrialisasi, transformasi industri 4.0, serta penguatan industri dari hulu hingga hilir. Langkah-langkah ini bertujuan memastikan keberlanjutan pasokan bahan baku dan meningkatkan efisiensi rantai produksi nasional. Dari sisi permintaan, sekitar 80 persen pertumbuhan industri manufaktur nasional pada 2026 masih akan ditopang oleh pasar domestik, sementara sisanya 20 persen berasal dari pasar ekspor. Penguatan pasar domestik dilakukan melalui kebijakan substitusi impor, peningkatan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN), optimalisasi belanja pemerintah dan BUMN untuk produk dalam negeri, serta integrasi industri kecil dan menengah (IKM) ke dalam rantai pasok nasional.

Beberapa subsektor diproyeksikan mengalami peningkatan permintaan signifikan, termasuk industri logam dasar yang didorong oleh proyek infrastruktur dan hilirisasi, industri makanan dan minuman sebagai kontributor terbesar PDB manufaktur, serta industri kimia, farmasi, dan obat yang dipacu oleh peningkatan kebutuhan produk kesehatan dan bahan kimia industri. Kemenperin juga menginisiasi Strategi Baru Industri Nasional (SBIN) sebagai kerangka kebijakan untuk memperkuat fondasi industri secara berkelanjutan, dengan mengedepankan pendekatan forward dan backward linkage guna mengoptimalkan keterkaitan sektor hulu, manufaktur, dan jasa. Target investasi sektor industri pengolahan nonmigas pada 2026 ditetapkan mencapai Rp852,9 triliun.