:strip_icc()/kly-media-production/medias/4816480/original/079795300_1714383491-fotor-ai-2024042913369.jpg)
Harga Bitcoin terkoreksi tipis pada 18 Januari 2026, diperdagangkan di sekitar level US$95.116,48 setelah sempat menyentuh US$97.000, mencerminkan penurunan 0,20% dalam 24 jam terakhir. Di sisi lain, Ethereum menunjukkan penguatan, naik 0,83% menjadi US$3.314,32, mempertahankan posisinya di atas ambang batas psikologis US$3.300. Pergerakan kontras ini terjadi di tengah sentimen pasar yang kompleks, di mana Bitcoin menghadapi tekanan jual dari investor institusional dan penambang, sementara Ethereum menarik minat berkat utilitas jaringannya dan adopsi institusional yang terus meningkat.
Volatilitas Bitcoin pada pertengahan Januari 2026 terjadi setelah periode penguatan signifikan, di mana aset kripto terbesar ini sempat menembus angka US$95.000 pada 14 Januari 2026. Namun, pekan yang berakhir 9 Januari 2026 mencatat arus keluar bersih sebesar US$681,01 juta dari Bitcoin Spot ETF. Data ini menunjukkan sebagian investor institusional melakukan aksi ambil untung atau mengurangi eksposur mereka terhadap Bitcoin. Analis dari Bittime mengindikasikan bahwa pergerakan ini mencerminkan ketidakpastian investor menjelang data makroekonomi penting dan dinamika pasar global. Lebih lanjut, data menunjukkan penambang Bitcoin juga memanfaatkan harga tinggi untuk merealisasikan keuntungan, dengan peningkatan penjualan dari 55 BTC menjadi 604 BTC dalam 24 jam terakhir, menambah tekanan jual di pasar.
Berbeda dengan Bitcoin, Ethereum menunjukkan resiliensi dan pertumbuhan. Pada 18 Januari 2026, Ethereum mencatatkan kenaikan mingguan sebesar 7,17% dan kenaikan bulanan sebesar 13,98%, meskipun masih dalam fase pemulihan dari koreksi sekitar 16,72% dalam 90 hari terakhir. Penguatan ini didukung oleh peningkatan aktivitas jaringan, terlihat dari melonjaknya 393.600 dompet baru dalam sehari pada 16 Januari 2026. Para analis pasar, seperti Raoul Pal, CEO Global Macro Investor GMI, menekankan peran Ethereum sebagai "Global Settlement Layer" dan fondasi utama dalam proses digitalisasi aset dunia nyata (RWA). Institusi memilih Ethereum karena keamanannya yang telah teruji, bukan sekadar janji kecepatan.
Faktor makroekonomi juga turut memengaruhi lanskap kripto. Data inflasi Amerika Serikat untuk Desember 2025 yang relatif stabil dan sesuai ekspektasi telah meredam kekhawatiran pasar, memberikan ruang bagi aset berisiko seperti kripto untuk bergerak lebih leluasa. Antony Kusuma, Vice President INDODAX, menyatakan bahwa stabilnya inflasi membuat pasar lebih tenang, mendorong investor global melirik kembali aset berisiko karena ketidakpastian kebijakan moneter menurun dan likuiditas global berpotensi tetap terjaga.
Meskipun demikian, pandangan jangka panjang untuk kedua aset ini bervariasi. Arthur Hayes, mantan CEO BitMEX, memprediksi Bitcoin berpotensi mengalami lonjakan signifikan pada 2026 karena meningkatnya likuiditas dolar AS dan kebijakan Federal Reserve yang diperkirakan akan memperbesar neraca keuangannya. Sementara itu, analis seperti Ali Martinez, memproyeksikan Bitcoin akan mencapai dasar siklus sekitar Oktober 2026 dengan kisaran harga US$38.000 hingga US$50.000, berdasarkan pola siklus historis. Di sisi Ethereum, para ahli memproyeksikan potensi reli yang kuat pada tahun 2026 jika gambaran makroekonomi membaik, dengan pergerakan harga dalam kisaran US$4.900 hingga US$7.700. Matthew Hougan, CEO BitWise, menilai siklus empat tahunan Bitcoin sudah mulai kehilangan relevansinya dan digantikan oleh dukungan makro yang lebih kuat terhadap kripto, terutama karena penurunan suku bunga dan keterlibatan pemerintah terhadap aset kripto.
Divergensi harga antara Bitcoin dan Ethereum pada hari ini menggarisbawahi evolusi pasar kripto yang semakin kompleks dan selektif. Bitcoin terus mengukuhkan posisinya sebagai standar cadangan digital dan aset lindung nilai yang diminati institusi, sementara Ethereum semakin diakui sebagai infrastruktur penting untuk tokenisasi aset dunia nyata dan pengembangan aplikasi terdesentralisasi. Perbedaan fundamental ini cenderung mendorong pergerakan harga yang tidak selalu sejalan, menuntut investor untuk mempertimbangkan narasi dan katalis unik masing-masing aset dalam menyusun strategi investasi mereka ke depan.