:strip_icc()/kly-media-production/medias/3913228/original/031127900_1643028888-24_januari_2022-2.jpg)
Harga Bitcoin menembus level psikologis USD 90.000 pada Kamis, 22 Januari 2026, setelah meredanya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan sekutunya di Eropa, khususnya terkait ancaman tarif impor atas isu Greenland. Mata uang kripto terbesar berdasarkan kapitalisasi pasar ini diperdagangkan pada kisaran USD 89.924, meningkat 1,67% dalam 24 jam terakhir, setelah sebelumnya sempat melonjak hingga USD 90.574 pada pagi hari yang sama. Pemulihan dramatis ini terjadi menyusul pernyataan de-eskalasi oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengenai isu Greenland dalam pidatonya di Forum Ekonomi Dunia (WEF) di Davos, Swiss.
Ketegangan antara AS dan Eropa memuncak beberapa waktu lalu ketika Washington mengancam memberlakukan tarif terhadap negara-negara Eropa yang menolak tuntutan AS terkait Greenland. Presiden Trump berulang kali menyatakan minatnya untuk mengakuisisi pulau strategis tersebut, memicu gejolak diplomatik dan kekhawatiran akan potensi retaknya aliansi transatlantik. Namun, setelah serangkaian pertemuan produktif, termasuk dengan Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte, kerangka kerja kesepakatan mengenai Greenland dan wilayah Arktik berhasil dibentuk, yang mendorong pembatalan rencana tarif AS yang seharusnya berlaku pada 1 Februari.
Perkembangan geopolitik ini segera membalikkan sentimen pasar yang sebelumnya memburuk akibat kekhawatiran terhadap ancaman tarif impor AS. Analis Panji Yudha dari Ajaib Kripto mencatat pemulihan harga Bitcoin yang signifikan pada Rabu, 21 Januari, setelah sempat anjlok ke titik terendah lokal di kisaran USD 87.300–USD 88.000. Dominasi pasar Bitcoin (BTC.D) kini berada di level 59,65%, dengan total kapitalisasi pasar aset kripto menguat 1,27% menjadi USD 3,01 triliun.
Meskipun Bitcoin menunjukkan momentum bullish yang kuat, pergerakannya masih diwarnai volatilitas. Lonjakan harga ini memicu likuidasi lebih dari USD 654,95 juta dalam 24 jam di pasar derivatif, dengan posisi short menanggung kerugian USD 337,68 juta. Para ahli pasar sebelumnya telah mengincar level USD 90.000 setelah options expiry senilai USD 24 miliar meredakan tekanan harga pada akhir Desember 2025. Beberapa analis bahkan memprediksi Bitcoin dapat mencapai USD 110.000, meskipun ada kehati-hatian terhadap kemampuan Bitcoin untuk mempertahankan level di atas USD 90.000 yang sempat menjadi tantangan pada Maret 2025. Untuk mengonfirmasi pembalikan tren yang berkelanjutan, analis Benjamin Cowen dari Into The Cryptoverse menekankan pentingnya penutupan harga mingguan Bitcoin di atas rata-rata pergerakan 50 minggu sebanyak dua hingga tiga kali.
Sentimen positif dari de-eskalasi geopolitik berpadu dengan harapan akan kejelasan regulasi kripto di Amerika Serikat, terutama setelah kemenangan Presiden Donald Trump. Banyak investor pasar kripto menyambut janji administrasi Trump untuk membangun kerangka regulasi yang lebih mendukung, yang dapat meningkatkan daya tarik Bitcoin dan minat institusional. Namun, pasar kripto tetap sensitif terhadap indikator ekonomi makro, termasuk pertumbuhan ekonomi, inflasi, dan suku bunga, yang secara signifikan memengaruhi harga Bitcoin. Riset menunjukkan bahwa tarif impor, misalnya, dapat menyedot likuiditas domestik dan mengurangi dana yang masuk ke aset berisiko seperti kripto.
Meskipun narasi "Trump Always Chickens Out" (TACO) yang mengacu pada pola pelunakan kebijakan tarif setelah tekanan pasar kembali memicu sentimen positif jangka pendek di pasar kripto, para investor tetap waspada terhadap risiko. Analis Amr Taha dari CryptoQuant sebelumnya telah memperingatkan tentang peningkatan tekanan jual dari "paus" dan pemegang jangka panjang Bitcoin, dengan setoran besar ke bursa spot yang secara historis sering mendahului kelemahan harga jangka pendek. Perilaku pemegang jangka panjang yang mengunci keuntungan setelah reli, daripada mengakumulasi, juga dapat memperkuat struktur korektif pasar saat ini.