Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

ATR Ungkap Fakta Hilang Kontak Pesawat Rute Yogyakarta-Makassar

2026-01-18 | 08:38 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-18T01:38:11Z
Ruang Iklan

ATR Ungkap Fakta Hilang Kontak Pesawat Rute Yogyakarta-Makassar

Sebuah pesawat ATR 42-500 dengan registrasi PK-THT yang dioperasikan oleh Indonesia Air Transport (IAT) dilaporkan hilang kontak pada Sabtu, 17 Januari 2026, sekitar pukul 13.17 WITA, dalam penerbangan dari Bandara Adisutjipto Yogyakarta menuju Bandara Sultan Hasanuddin Makassar. Insiden ini terjadi di sekitar wilayah Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, memicu respons darurat dari berbagai pihak, termasuk produsen pesawat ATR yang menyatakan kesiapan penuh untuk membantu investigasi.

Kementerian Perhubungan menjelaskan kronologi awal kejadian. Pesawat dengan Pilot in Command Capt. Andy Dahananto tersebut mengangkut 10 orang, terdiri dari tujuh awak pesawat dan tiga penumpang. Tiga penumpang diidentifikasi sebagai pegawai Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) yang sedang dalam misi pengawasan sumber daya kelautan dan perikanan. Menurut keterangan Direktorat Jenderal Perhubungan Udara, Air Traffic Control (ATC) Makassar Area Terminal Service Center (MATSC) mengarahkan pesawat untuk pendekatan ke landasan pacu RWY 21 Bandara Sultan Hasanuddin. Namun, dalam proses tersebut, pesawat teridentifikasi tidak berada pada jalur pendekatan yang seharusnya. ATC kemudian memberikan arahan untuk koreksi posisi, namun komunikasi dengan pesawat terputus setelah arahan terakhir disampaikan. Kondisi ini menyebabkan ATC mendeklarasikan fase darurat DETRESFA (Distress Phase), mengindikasikan bahaya serius atau kemungkinan kecelakaan.

Produsen pesawat ATR, yang berbasis di Toulouse, Prancis, telah menanggapi insiden ini dengan menyatakan bahwa mereka telah menerima informasi mengenai kecelakaan yang melibatkan ATR 42-500 di Indonesia. Mereka menyampaikan keprihatinan mendalam kepada semua individu yang terkena dampak. Pihak ATR juga menegaskan bahwa para spesialisnya sepenuhnya terlibat dan siap mendukung investigasi yang akan dipimpin oleh otoritas Indonesia dan operator.

Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Makassar segera mengerahkan 25 personel tim penyelamat ke titik koordinat terakhir dugaan hilang kontak, yang diperkirakan berada di kawasan pegunungan kapur Bantimurung, Desa Leang-leang, Kabupaten Maros. Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara (TNI AU) juga telah mengerahkan helikopter untuk mendukung upaya pencarian. Sementara itu, Bandara Sultan Hasanuddin Makassar telah membuka Crisis Center di Terminal Keberangkatan sebagai pusat koordinasi informasi.

Insiden ini terjadi di tengah kondisi cuaca yang dinamis, memicu Kementerian Perhubungan untuk kembali menekankan pentingnya kewaspadaan seluruh operator penerbangan terhadap perubahan cuaca. Direktorat Jenderal Perhubungan Udara mengimbau agar perencanaan penerbangan dilakukan secara maksimal dan prosedur standar operasional (SOP) terkait cuaca minimum pada tahap dispatch, take off, dan landing dipatuhi. Selain itu, implementasi Approach and Landing Accident Reduction (ALAR) Toolkit juga ditekankan sebagai langkah pencegahan insiden, terutama di wilayah pegunungan atau kondisi cuaca buruk. Kejadian ini menjadi pengingat kritis tentang kompleksitas keselamatan penerbangan dan perlunya transparansi menyeluruh dalam setiap investigasi kecelakaan udara, guna memastikan perbaikan berkelanjutan pada standar operasional dan regulasi.