Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

ASII Gelontorkan Rp 2 Triliun untuk Buyback Saham: Siap-siap Harga Terbang?

2026-01-18 | 05:43 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-17T22:43:01Z
Ruang Iklan

ASII Gelontorkan Rp 2 Triliun untuk Buyback Saham: Siap-siap Harga Terbang?

PT Astra International Tbk (ASII) mengumumkan kembali rencana pembelian saham kembali (buyback) senilai maksimal Rp2 triliun, yang akan dilaksanakan mulai 19 Januari hingga 25 Februari 2026. Langkah strategis ini ditempuh tak lama setelah perseroan menyelesaikan program buyback sebelumnya senilai hampir Rp2 triliun pada 13 Januari 2026, lebih cepat dari jadwal semula. Keputusan ini bertujuan untuk meningkatkan nilai pemegang saham, menstabilkan harga saham di tengah fluktuasi pasar, serta menunjukkan keyakinan manajemen terhadap fundamental perusahaan.

Dalam pengumuman resmi yang dirilis pada 15 Januari 2026, manajemen Astra International menyatakan dana untuk buyback akan bersumber dari kas internal perseroan, tanpa melibatkan pinjaman atau hasil penawaran umum. Perseroan meyakini aksi korporasi ini tidak akan berdampak material negatif terhadap kinerja operasional dan pendapatan, mengingat modal dan arus kas perusahaan dinilai cukup memadai. Merujuk pada proforma keuangan per 30 September 2025, laba bersih per saham Astra diperkirakan dapat meningkat dari Rp605 menjadi Rp608 per saham jika anggaran buyback terserap penuh.

Program pembelian kembali saham ini akan mematuhi Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Nomor 13 Tahun 2023 dan Nomor 29 Tahun 2023. Jumlah saham yang akan dibeli tidak akan melampaui 20 persen dari total modal ditempatkan dan disetor, serta memastikan porsi saham publik (free float) tetap terjaga minimal 7,5 persen pasca buyback. Selain itu, saham treasuri yang diperoleh dari buyback memberikan fleksibilitas bagi perseroan dalam mengelola struktur modal jangka panjang, dengan potensi untuk dijual kembali di masa mendatang pada nilai optimal apabila dibutuhkan penambahan modal.

Aksi buyback ini menandai kelanjutan komitmen Astra dalam mengelola nilai sahamnya di tengah dinamika pasar. Sebelumnya, program buyback yang berlangsung dari 3 November 2025 hingga 13 Januari 2026 telah berhasil menyerap 305.213.900 lembar saham dengan total nilai transaksi mencapai Rp1.999.999.829.789, atau nyaris mencapai target Rp2 triliun.

Analis melihat langkah ini sebagai sinyal kuat bahwa manajemen menganggap saham ASII undervalued. Abida Massi Armand, Fundamental Analyst BRI Danareksa Sekuritas, berpendapat buyback dapat mendukung harga saham dalam jangka pendek karena mengurangi jumlah saham beredar dan meningkatkan laba per saham (EPS). Dengan rasio harga terhadap pendapatan (PER) sekitar 7,5 kali untuk tahun penuh 2026, valuasi ASII dinilai masih berada di bawah rata-rata lima tahun terakhirnya, membuka peluang re-rating yang signifikan. Investment Analyst Edvisor Provina Visindo Indy Naila menambahkan, fundamental Astra tetap solid berkat diversifikasi bisnis, meskipun segmen otomotif inti mengalami perlambatan penjualan pada 2025.

Hingga saat ini, saham ASII diperdagangkan di kisaran Rp7.050, setelah sempat mencapai Rp7.300 pada 13 Januari 2026, yang merupakan level tertinggi dalam 52 minggu terakhir. Kisaran harga tertinggi dalam 52 minggu adalah Rp7.300, sementara terendah Rp4.370. Indikasi valuasi price to book value (PBV) saat ini berkisar 0,93 hingga 1 kali, lebih rendah dari nilai intrinsik perusahaan, menunjukkan potensi undervalued. Potensi dividen yield ASII juga masih menarik bagi investor jangka panjang, diperkirakan mencapai 5-6 persen. Investor disarankan untuk mencermati implementasi buyback ini, di samping pemulihan penjualan otomotif dan pertumbuhan bisnis jasa keuangan sebagai katalis utama.