Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Akselerasi DME: Solusi Pengganti LPG Siap Dimulai Februari

2026-01-19 | 06:03 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-18T23:03:39Z
Ruang Iklan

Akselerasi DME: Solusi Pengganti LPG Siap Dimulai Februari

Pemerintah Indonesia dan PT Pertamina (Persero) terus mempercepat proyek pengembangan Dimethyl Ether (DME) sebagai alternatif strategis pengganti Liquefied Petroleum Gas (LPG), dengan groundbreaking yang telah dilaksanakan pada Februari 2022 di Kawasan Industri Tanjung Enim, Sumatera Selatan. Inisiatif ini menandai langkah krusial dalam upaya menekan ketergantungan impor LPG yang membebani neraca perdagangan dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), sekaligus mengoptimalkan pemanfaatan cadangan batu bara peringkat rendah dalam negeri. Proyek hilirisasi batu bara menjadi DME ini, yang digarap melalui kerja sama antara PT Bukit Asam Tbk (PTBA), PT Pertamina (Persero), dan Air Products and Chemicals Inc., ditargetkan dapat mengurangi impor LPG hingga 1 juta ton per tahun.

Proyek DME Tanjung Enim ini memiliki kapasitas produksi DME sebesar 1,4 juta ton per tahun dari sekitar 6 juta ton batu bara per tahun. Produksi DME ditargetkan akan dimulai pada kuartal IV tahun 2027. Investasi untuk proyek ini diperkirakan mencapai sekitar 2,1 miliar dolar AS. Inisiatif ini merupakan bagian dari upaya pemerintah untuk mencapai kemandirian energi dan memanfaatkan sumber daya alam domestik secara lebih efisien. Selama ini, konsumsi LPG nasional sekitar 80% masih dipenuhi dari impor, yang menyebabkan Indonesia mengeluarkan devisa triliunan rupiah setiap tahunnya. Dengan asumsi harga LPG di angka 570 dolar AS per ton dan kurs Rp 14.500 per dolar AS, potensi penghematan devisa dari substitusi DME mencapai Rp 9,7 triliun per tahun.

Secara historis, upaya mencari alternatif LPG telah menjadi agenda mendesak bagi pemerintah Indonesia. Ketergantungan terhadap impor LPG telah lama menjadi isu krusial yang berdampak pada stabilitas ekonomi makro. Subsidi LPG yang terus membengkak, mencapai sekitar Rp 78,4 triliun pada tahun 2022, menjadi beban fiskal yang signifikan. Proyek DME diharapkan dapat secara substansial mengurangi beban subsidi ini. Meskipun demikian, transisi dari LPG ke DME memerlukan adaptasi infrastruktur dan edukasi masyarakat. Uji coba penggunaan DME sebagai bahan bakar rumah tangga telah dilakukan di berbagai daerah, termasuk di Lahat, Sumatera Selatan, dengan hasil yang menjanjikan terkait efisiensi dan keamanan. DME diklaim memiliki karakteristik api yang mirip dengan LPG, sehingga diharapkan adaptasi peralatan seperti kompor tidak akan terlalu rumit.

Implikasi jangka panjang dari proyek DME mencakup diversifikasi bauran energi nasional, peningkatan nilai tambah batu bara dalam negeri melalui hilirisasi, serta penciptaan lapangan kerja. Namun, pengembangan DME berbasis batu bara juga menghadapi tantangan terkait isu lingkungan. Meskipun DME menghasilkan emisi karbon dioksida yang lebih rendah dibandingkan LPG saat dibakar, proses gasifikasi batu bara untuk menghasilkan DME sendiri merupakan industri yang intensif karbon. Para pengembang proyek berkomitmen untuk menerapkan teknologi ramah lingkungan dan manajemen emisi yang ketat. Selain itu, aspek distribusi dan penerimaan konsumen terhadap DME sebagai bahan bakar baru juga akan menjadi faktor penentu keberhasilan proyek ini. Pemerintah dan Pertamina perlu memastikan ketersediaan pasokan yang stabil, harga yang kompetitif, dan infrastruktur distribusi yang memadai untuk mendukung adopsi DME secara luas di seluruh Indonesia.