Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Airlangga: Ekonomi RI Lebih Resisten Resesi Dibanding AS-China

2026-01-15 | 03:10 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-14T20:10:15Z
Ruang Iklan

Airlangga: Ekonomi RI Lebih Resisten Resesi Dibanding AS-China

Pernyataan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengenai peluang resesi ekonomi Indonesia yang lebih rendah dibandingkan Amerika Serikat dan Tiongkok menjadi sorotan tajam, memperkuat narasi ketahanan ekonomi domestik di tengah gejolak global yang terus berlanjut. Klaim tersebut, yang diutarakan dalam berbagai kesempatan sepanjang akhir 2023 dan awal 2024, didasarkan pada fundamental ekonomi Indonesia yang didorong oleh konsumsi domestik yang kuat dan pengelolaan fiskal yang hati-hati, sebuah kontras dengan tantangan inflasi persisten dan kebijakan moneter ketat di Barat serta perlambatan struktural di Tiongkok.

Airlangga Hartarto secara spesifik menyebutkan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia berhasil mempertahankan momentum di atas 5% selama beberapa kuartal berturut-turut, seperti tercatat pada kuartal ketiga 2023 yang mencapai 4,94% secara tahunan, menunjukkan daya tahan dari tekanan global. Angka ini didukung oleh kontribusi signifikan dari konsumsi rumah tangga yang mencapai sekitar 52% dari produk domestik bruto (PDB). Selain itu, ia juga menyoroti peran penting hilirisasi sumber daya alam dan surplus neraca perdagangan yang konsisten sebagai bantalan ekonomi. Indonesia mencatat surplus perdagangan selama 43 bulan berturut-turut hingga November 2023, menunjukkan kekuatan ekspor di tengah permintaan global yang tidak menentu. Kebijakan fiskal yang terukur, dengan rasio utang pemerintah terhadap PDB yang relatif rendah dibandingkan negara maju, juga memberikan ruang manuver yang lebih besar bagi pemerintah untuk stimulus jika diperlukan.

Di sisi lain, ekonomi Amerika Serikat menghadapi tekanan inflasi yang tinggi, mendorong Federal Reserve untuk menaikkan suku bunga secara agresif. Inflasi inti AS masih berada di atas target 2% The Fed pada awal 2024, meskipun sedikit melambat. Kenaikan suku bunga ini meningkatkan risiko resesi karena menekan permintaan dan investasi, sebuah kekhawatiran yang disuarakan oleh beberapa ekonom dan lembaga keuangan. Sementara itu, Tiongkok menghadapi tantangan struktural yang kompleks, termasuk krisis properti yang berlarut-larut, tingkat pengangguran kaum muda yang tinggi, dan perlambatan pertumbuhan ekonomi yang lebih luas. PDB Tiongkok tumbuh 5,2% pada tahun 2023, namun kekhawatiran terhadap deflasi dan kepercayaan konsumen yang rendah tetap membayangi prospeknya.

Analisis dari berbagai lembaga menunjukkan bahwa ketahanan Indonesia sebagian besar berasal dari karakteristik ekonominya yang didominasi oleh permintaan domestik. Berbeda dengan AS dan Tiongkok yang lebih bergantung pada ekspor atau sektor keuangan yang rentan terhadap guncangan eksternal, ekonomi Indonesia memiliki "peredam" alami. Namun, bukan berarti Indonesia sepenuhnya imun terhadap dampak global. Perlambatan ekonomi global dapat mempengaruhi permintaan komoditas dan investasi asing langsung, yang pada akhirnya dapat menekan pertumbuhan. Tingkat inflasi domestik, meskipun terkendali di sekitar 2,61% secara tahunan pada Januari 2024, tetap menjadi perhatian Bank Indonesia untuk memastikan stabilitas harga.

Beberapa ekonom mengamini pernyataan Airlangga, menunjuk pada fundamental makroekonomi Indonesia yang solid. Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menyatakan optimisme bahwa ekonomi Indonesia akan tetap tangguh di tengah ketidakpastian global, didukung oleh stabilitas sistem keuangan dan kebijakan moneter yang pre-emptive. Namun, ada juga pandangan yang lebih berhati-hati, mengingatkan bahwa risiko eksternal seperti fluktuasi harga komoditas global, ketegangan geopolitik, dan volatilitas pasar keuangan dapat dengan cepat mengubah prospek. Tantangan domestik seperti peningkatan produktivitas, penciptaan lapangan kerja berkualitas, dan daya saing industri tetap menjadi agenda utama untuk mempertahankan momentum pertumbuhan jangka panjang. Implikasi dari klaim ini adalah penguatan kepercayaan investor terhadap Indonesia sebagai tujuan investasi yang relatif stabil, namun juga menuntut pemerintah untuk terus menjaga kewaspadaan dan reformasi struktural guna memitigasi risiko-risiko yang masih ada.