:strip_icc()/kly-media-production/medias/4883222/original/037561100_1720093648-20240704-IHSG-ANG_3.jpg)
PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) akan membayarkan dividen interim tahun buku 2025 sebesar Rp 145,14 per saham, merealisasikan total pembayaran dividen tunai interim senilai Rp 4,18 triliun (setara USD 250 juta) pada 15 Januari 2026. Keputusan ini ditetapkan berdasarkan kurs tengah Bank Indonesia (BI) pada 2 Januari 2026, yakni Rp 16.720 per dolar Amerika Serikat. Pembagian dividen ini mengindikasikan komitmen perusahaan terhadap pengembalian nilai kepada pemegang saham di tengah dinamika pasar batu bara global.
Sekretaris Perusahaan ADRO, Maharani Cindy Opssedha, menyatakan bahwa keputusan pembagian dividen interim ini diambil oleh direksi dan disetujui dewan komisaris pada 17 Desember 2025. Dana dividen bersumber dari laba bersih perseroan per 30 September 2025, yang tercatat sebesar US$ 301,58 juta. Saldo laba ditahan yang tidak dibatasi penggunaannya per periode tersebut mencapai US$ 3,32 miliar, dengan total ekuitas US$ 5,15 miliar, menunjukkan posisi keuangan yang kuat untuk mendukung kebijakan dividen ini. Maharani juga menambahkan bahwa penetapan kurs konversi ini tidak memiliki dampak signifikan terhadap kegiatan operasional, kondisi keuangan, aspek hukum, maupun kelangsungan usaha perseroan.
Jadwal pembayaran dividen interim ini telah diumumkan, dengan tanggal cum dividen di Pasar Reguler dan Pasar Negosiasi pada 29 Desember 2025, ex dividen pada 30 Desember 2025, serta cum dividen di Pasar Tunai pada 2 Januari 2026 dan ex dividen pada 5 Januari 2026. Tanggal pencatatan pemegang saham yang berhak menerima dividen (recording date) jatuh pada 2 Januari 2026 pukul 16.00 WIB.
Kinerja keuangan Adaro Energy pada sembilan bulan pertama 2025 menunjukkan laba bersih yang dapat diatribusikan kepada entitas induk sebesar US$ 301,58 juta, meskipun terjadi penurunan laba bersih dan pendapatan usaha secara tahunan dibandingkan 2024. Sebagai perbandingan, pada sembilan bulan pertama 2024, ADRO mencatatkan laba bersih US$ 1,18 miliar, turun tipis dari US$ 1,21 miliar pada periode yang sama tahun 2023. Penurunan kinerja pada 2025 sejalan dengan tren harga batu bara global yang berfluktuasi dan cenderung menurun sepanjang 2025, dengan harga acuan Newcastle ditutup di kisaran US$ 107,5 per ton pada akhir Desember 2025. Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI) memproyeksikan harga batu bara tidak akan bergerak jauh pada 2026 akibat suplai global yang kuat dan perlambatan permintaan, terutama dari Tiongkok dan India.
Meskipun demikian, Adaro Energy secara historis dikenal sebagai emiten yang rutin membagikan dividen sejak IPO pada 2008, menunjukkan komitmen kuat terhadap pengembalian kepada pemegang saham. Perusahaan juga telah melakukan transformasi bisnis menuju pilar hijau melalui Adaro Minerals dan Adaro Green, sebagai bagian dari upaya transisi energi. Kebijakan dividen interim ini dipandang sebagai salah satu cara perusahaan untuk terus memberikan nilai kepada investor di tengah upaya diversifikasi dan adaptasi terhadap lanskap energi global yang berubah. Analis memperkirakan bahwa dividen besar seperti ini menjadi daya tarik bagi investor yang mencari pendapatan pasif, meskipun harga saham cenderung mengalami penyesuaian pada tanggal ex-dividen. Menteri Keuangan memproyeksikan harga batu bara acuan tahun 2026 berada di kisaran US$ 95-100 per ton.