
Badan Urusan Logistik (Bulog) Kantor Wilayah Aceh menegaskan ketersediaan stok beras di seluruh wilayah Aceh berada dalam kondisi sangat aman dan mencukupi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat menjelang Tradisi Megang, bulan suci Ramadan, dan Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah/2026 Masehi. Pernyataan ini disampaikan Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, setelah meninjau langsung persediaan di 15 gudang Bulog yang tersebar di Aceh, menepis kekhawatiran publik terkait stabilitas harga dan pasokan pangan strategis.
Per 18 Januari 2026, Bulog Aceh menguasai Cadangan Beras Pemerintah (CBP) sebesar 62.820 ton, yang tersebar merata di seluruh jaringan gudang dan kantor cabang di provinsi tersebut. Angka ini, menurut Rizal, menjadi fondasi kuat bagi Bulog Aceh dalam menjalankan mandat pemerintah, mulai dari stabilisasi pasokan dan harga hingga penyaluran bantuan sosial. Selain beras, Bulog Aceh juga mengelola stok minyak goreng sebanyak 191.428 liter, menegaskan komitmen menjaga dukungan pangan pokok secara optimal.
Ketersediaan stok yang meyakinkan ini muncul di tengah pengalaman masa lalu yang menghadirkan tantangan signifikan. Pada Desember 2025, beberapa kabupaten dan kota di Aceh sempat menghadapi penipisan stok beras akibat dampak bencana banjir dan tanah longsor yang menghambat jalur distribusi, memicu lonjakan harga beras hingga Rp 33.000 per kilogram di beberapa lokasi, dan memerlukan pengiriman pasokan darurat. Meskipun demikian, respons cepat pemerintah melalui penambahan suplai dan normalisasi distribusi berhasil meredakan situasi, dengan harga beras kualitas bawah I di Aceh tercatat Rp 16.150 per kilogram pada 14 Januari 2026, meskipun masih termasuk tinggi secara nasional. Tingkat realisasi penyaluran bantuan pangan dan CBP di tingkat kabupaten dan kota di Aceh juga menunjukkan tren positif, mendekati atau bahkan mencapai 100 persen hingga pertengahan Januari 2026.
Aceh secara historis berupaya keras untuk mencapai kemandirian pangan. Pada 2025, produksi padi di Aceh diproyeksikan mencapai 1,75 juta ton Gabah Kering Giling (GKG), meningkat sekitar 5,43 persen dibandingkan capaian 2024 yang sebesar 1,66 juta ton GKG. Jika dikonversikan menjadi beras untuk konsumsi penduduk, produksi beras di Aceh pada 2025 diperkirakan mencapai 1,01 juta ton. Data Badan Pusat Statistik (BPS) per Maret 2023 menunjukkan rata-rata konsumsi beras di Aceh adalah 7,13 kilogram per orang per bulan. Dengan produksi 1,7 juta ton gabah yang setara 1,2 juta ton beras, dan kebutuhan konsumsi sekitar 680 ribu ton per tahun, Aceh diproyeksikan memiliki surplus beras hingga 400.000 ton pada tahun 2025. Peningkatan produksi ini bahkan sempat memungkinkan Aceh menghentikan impor beras dan Bulog Aceh memiliki stok aman hingga Juni 2026.
Meski demikian, penguatan logistik di wilayah pedalaman dan dataran tinggi seperti Takengon (Aceh Tengah dan Bener Meriah) tetap menjadi fokus. Gudang Bulog di Takengon memiliki estimasi stok fisik sekitar 280 ton per 17 Januari 2026, yang sedang diperkuat dengan pengiriman tambahan 5.000 ton beras dari Gudang Lhokseumawe hingga akhir Januari 2026 untuk mengantisipasi kebutuhan selama periode puncak konsumsi. Kondisi geografis dan potensi kendala transportasi pascabencana menjadi perhatian utama dalam memastikan distribusi yang merata dan berkelanjutan.
Secara nasional, Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, juga memastikan stok beras secara keseluruhan di tanah air mencapai 3,35 juta ton, dinilai cukup untuk menghadapi Imlek, Ramadan, hingga Idulfitri. Bulog bahkan memproyeksikan Cadangan Beras Pemerintah (CBP) secara nasional bakal mencapai 7 juta ton pada 2026. Komitmen ini mencerminkan strategi pemerintah untuk menjaga ketahanan pangan melalui stabilisasi pasokan, harga, dan penyaluran bantuan, memastikan masyarakat dapat menjalani hari besar keagamaan dengan tenang tanpa kekhawatiran akan ketersediaan pangan.