
Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot Tanjung pada akhir Desember 2025 meninjau langsung kesiapan pasokan bahan bakar minyak (BBM), LPG, dan listrik di sejumlah wilayah kunci di Sumatera Utara dan Sumatera Barat, menggarisbawahi komitmen pemerintah dalam menjaga ketahanan energi menjelang perayaan Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru) di tengah tantangan pascabencana hidrometeorologi. Kunjungan yang menempuh jalur darat dari Tapanuli Utara hingga Kota Padang ini bertujuan memastikan seluruh infrastruktur energi beroperasi optimal dan kebutuhan masyarakat terpenuhi.
Secara umum, pasokan BBM di Sumatera Barat dilaporkan dalam kondisi stabil, dengan Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung menyatakan tidak adanya antrean signifikan di berbagai SPBU yang dipantau di Pasaman Barat, Pasaman, Agam, Padang Pariaman, dan Kota Padang. Pemerintah telah meningkatkan cadangan BBM rata-rata dari sembilan hari menjadi 13 hari di Sumatera Barat, bahkan untuk Pertamax Turbo cadangan ditingkatkan hingga 35 hari. Namun, kendala distribusi tetap menjadi perhatian serius, terutama pada jalur Sitinjau Lauik yang kerap mengalami kemacetan panjang, menyebabkan keterlambatan pengiriman BBM hingga enam hingga delapan jam ke daerah seperti Bukittinggi, Batu Sangkar, Payakumbuh, dan Kabupaten Agam. Situasi ini, menurut Yuliot, dapat memicu antrean panjang di masyarakat.
Untuk pasokan LPG, pemerintah memastikan percepatan penyaluran ke seluruh daerah guna memenuhi kebutuhan rumah tangga selama Nataru, dengan Wamen ESDM Yuliot mengimbau Pertamina berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan kepolisian untuk mengawal distribusi. Di Sumatera Utara, peninjauan fokus pada pangkalan LPG di Mandailing Natal, di mana Yuliot menegaskan bahwa ketersediaan LPG telah ditingkatkan, bahkan mencapai 108 persen di beberapa daerah yang sebelumnya 100 persen, dengan pengalihan pasokan dari daerah dengan konsumsi rendah ke wilayah yang membutuhkan.
Di sektor kelistrikan, kondisi Sumatera Barat telah pulih 100 persen pascabencana, termasuk di daerah terdampak parah seperti Jorong Lambeh, Kecamatan Palembayan, setelah sebelumnya sempat mengalami gangguan akibat longsor. Meskipun demikian, masih terdapat 145 pelanggan yang belum terlayani listrik, namun PT PLN (Persero) telah menyediakan bantuan genset dan lampu darurat. Sementara itu, di Sumatera Utara, pemulihan kelistrikan pascabencana juga relatif cepat, meskipun Menteri ESDM Bahlil Lahadalia sebelumnya mengakui adanya titik-titik krusial dengan kendala infrastruktur berat yang menghambat distribusi di beberapa kabupaten di Aceh yang berbatasan dengan Sumatera Utara, seperti Aceh Tamiang, Bener Meriah, dan Gayo Lues.
Peninjauan ini juga menyoroti aspek mitigasi bencana geologi, mengingat potensi curah hujan tinggi di akhir tahun. Wamen ESDM Yuliot menyebutkan adanya tiga gunung api berstatus Siaga (Level III) secara nasional, dengan 24 gunung berstatus Waspada (Level II) dan 42 lainnya dalam kondisi Normal. Langkah antisipasi ini mencerminkan upaya pemerintah dalam mengelola risiko berlapis terhadap ketahanan energi di wilayah yang rentan bencana. Upaya koordinasi antara Kementerian ESDM, PLN, Pertamina, serta TNI-Polri menjadi fundamental dalam memastikan infrastruktur yang rusak dapat segera diperbaiki dan akses energi masyarakat tetap terjamin, terutama di daerah-daerah terpencil yang masih menghadapi tantangan logistik signifikan. Pengamat energi, Marwan Batubara, sempat menyoroti bahwa krisis distribusi BBM di wilayah bencana lebih disebabkan oleh hambatan akses daripada keterbatasan stok, dengan memprediksi pemulihan total distribusi bisa tercapai dalam waktu sekitar dua minggu setelah kejadian bencana.