Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Menguak Sentimen Pemicu Penguatan Harga Bitcoin Terkini

2025-12-27 | 00:29 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2025-12-26T17:29:37Z
Ruang Iklan

Menguak Sentimen Pemicu Penguatan Harga Bitcoin Terkini

Bitcoin, mata uang kripto terbesar berdasarkan kapitalisasi pasar, menunjukkan tanda-tanda pemulihan signifikan menjelang akhir tahun 2025, dengan harga stabil di kisaran US$89.000 setelah sempat terkoreksi tajam dari puncaknya di US$126.073 pada Oktober 2025. Reli penguatan ini didorong oleh sejumlah sentimen fundamental, termasuk kejelasan regulasi yang meningkat, adopsi institusional yang berkelanjutan, dan harapan akan pelonggaran kebijakan moneter global di tahun 2026.

Setelah mencatat rekor tertinggi sepanjang masa di US$126.073 pada awal Oktober 2025, Bitcoin dan pasar kripto secara keseluruhan mengalami koreksi signifikan, dengan kapitalisasi pasar kripto global menyusut dari US$4,28 triliun menjadi sekitar US$3 triliun. Penurunan ini, menurut Fahmi Almuttaqin, analis Reku, menandai perubahan sentimen pasar yang drastis namun simultan membentuk fondasi baru bagi siklus berikutnya. Meski dibayangi ketidakpastian makroekonomi, beberapa indikator mulai menunjukkan potensi pemulihan menjelang tahun 2026.

Salah satu pendorong utama optimisme ini adalah kematangan lanskap regulasi kripto secara global. Laporan terbaru TRM Labs, "Global Crypto Policy Review & Outlook 2025/26", menyoroti tahun 2025 sebagai titik balik kebijakan aset digital, dengan regulasi yang semakin jelas. Lebih dari 70% pemerintah di 30 yurisdiksi utama, yang mewakili 70% eksposur kripto global, bergerak untuk menciptakan kerangka regulasi khusus bagi stablecoin, memposisikannya sebagai medium pertukaran di blockchain publik. Di Amerika Serikat, pengesahan GENIUS Act pada pertengahan 2025 menciptakan kerangka kerja federal untuk penerbit stablecoin pembayaran, mewajibkan cadangan likuid 1:1 dan audit independen bulanan, yang secara efektif memperlakukan stablecoin setara dengan ketelitian perbankan. Kejelasan regulasi ini menjadi katalisator bagi partisipasi institusional skala besar.

Adopsi institusional Bitcoin terus meluas secara signifikan. Lebih dari 190 perusahaan publik kini mencatatkan Bitcoin di neraca mereka, menurut data Bitcoin Treasuries. Michael Saylor, Executive Chairman MicroStrategy, perusahaan publik dengan kepemilikan Bitcoin terbesar, menyoroti bahwa permintaan masif dari perusahaan dan dana Exchange-Traded Fund (ETF) telah jauh melampaui pasokan harian yang dihasilkan penambang. Pada tahun 2025, perusahaan menyerap hingga 1.755 BTC per hari, sementara ETF membeli tambahan 1.430 BTC per hari, jauh melampaui rata-rata pasokan harian 900 BTC dari penambang. Arus masuk dana institusional melalui ETF spot Bitcoin mencapai US$57,4 miliar hingga 19 Desember 2025, dengan total kapitalisasi pasar aset kripto mencapai US$3,02 triliun.

Meskipun demikian, kebijakan moneter global tetap menjadi faktor yang memengaruhi pergerakan harga. Federal Reserve AS (The Fed) telah melakukan tiga pemangkasan suku bunga sebesar 25 basis poin pada September, Oktober, dan Desember 2025, membawa suku bunga turun ke kisaran 3,5%-3,75% pada akhir tahun. Awalnya, ekspektasi suku bunga yang lebih rendah mendukung aset berisiko, namun sikap hati-hati The Fed di tengah inflasi yang masih tinggi membuat momentum tidak berkelanjutan. Arthur Hayes, pendiri sekaligus mantan CEO BitMEX, menilai kebijakan Reserve Management Purchases (RMP) The Fed, yang melibatkan pembelian obligasi pemerintah jangka pendek sebesar US$40 miliar setiap bulan, memiliki fungsi mirip Quantitative Easing (QE) dan berpotensi menambah likuiditas global. Hayes memproyeksikan Bitcoin berpotensi mencapai US$200.000 (sekitar Rp3,3 miliar) pada Maret 2026, jika likuiditas global membaik.

Proyeksi harga Bitcoin untuk tahun 2026 sangat bervariasi di kalangan analis dan institusi keuangan. Standard Chartered memproyeksikan Bitcoin mencapai US$150.000 pada akhir 2026, dengan dorongan utama dari arus dana ETF Bitcoin spot. Firma riset Bernstein juga menempatkan target US$150.000 untuk 2026, mengutip peran ETF Bitcoin dalam menciptakan modal institusional yang lebih stabil. Korbit Research Center memprediksi kisaran US$140.000-US$170.000 untuk tahun yang sama, dengan kombinasi kebijakan fiskal pro-pertumbuhan AS dan permintaan institusional yang meningkat. JPMorgan memperkirakan Bitcoin berpotensi menyentuh US$170.000 dalam 6 hingga 12 bulan menuju 2026, membandingkan karakteristiknya dengan emas. Analis lain seperti Cathie Wood (CEO ARK Invest) secara konsisten memprediksi Bitcoin mencapai US$500.000 sekitar 2026, didasarkan pada asumsi peningkatan alokasi institusional yang signifikan. Sementara itu, Brad Garlinghouse (CEO Ripple) memproyeksikan US$180.000 pada akhir 2026, dengan kejelasan regulasi dan adopsi institusional sebagai faktor utama.

Meskipun prospek jangka panjang menunjukkan penguatan, pasar kripto masih menghadapi volatilitas. Analis Lenaert Snyder dari Pintu News mencatat bahwa harga BTC baru-baru ini tertolak di level US$90.500 setelah upaya pemulihan yang gagal, menunjukkan sentimen pasar yang berputar (rotasional) daripada tren satu arah. Namun, bertahannya harga di atas zona support utama menjaga pandangan jangka pendek tetap konstruktif. Koreksi di akhir 2025 ini berpotensi menyerupai pola akhir siklus seperti tahun 2015 dan 2018, di mana penurunan tajam diikuti oleh pemulihan yang kuat, meskipun fase pemulihan kali ini kemungkinan akan lebih panjang jika The Fed tidak melakukan pelonggaran secara agresif. Kebijakan pemerintah Indonesia juga menunjukkan dukungan terhadap industri ini, dengan revisi Undang-Undang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (UU P2SK) yang bertujuan memperkuat tata kelola dan perlindungan aset kripto di bawah pengawasan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Hal ini menunjukkan pengakuan negara terhadap aset kripto sebagai aset keuangan digital dan upaya menciptakan peta jalan ekosistem yang lebih akuntabel.