Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Wall Street di Persimpangan: Data Ekonomi AS dan The Fed Penggerak Pasar Pekan Ini

2025-12-15 | 16:15 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2025-12-15T09:15:47Z
Ruang Iklan

Wall Street di Persimpangan: Data Ekonomi AS dan The Fed Penggerak Pasar Pekan Ini

Wall Street memulai pekan ini dengan bayang-bayang data ekonomi penting Amerika Serikat dan sinyal kebijakan moneter terbaru dari Federal Reserve, yang diperkirakan akan memicu volatilitas di pasar saham. Investor saat ini berada dalam mode "wait and see" seiring dengan rilis data ketenagakerjaan dan inflasi yang sempat tertunda.

Federal Reserve (The Fed) pada Rabu, 10 Desember 2025, waktu setempat atau Kamis, 11 Desember 2025, dini hari WIB, secara resmi memangkas suku bunga acuan sebesar 25 basis poin, menempatkannya dalam kisaran 3,50%–3,75%. Pemangkasan ini merupakan yang ketiga kalinya secara berturut-turut sepanjang tahun 2025, membawa suku bunga ke level terendah sejak Oktober 2022.

Meskipun keputusan pemangkasan suku bunga ini sesuai dengan ekspektasi pasar, hasil voting Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) yang terbagi 9 banding 3 menunjukkan adanya perbedaan pandangan internal di antara para pejabat The Fed. Beberapa anggota komite berpendapat bahwa pelonggaran kebijakan lebih lanjut diperlukan untuk mengatasi potensi pelemahan pasar tenaga kerja, sementara yang lain khawatir bahwa pelonggaran yang berlebihan dapat memperburuk inflasi. Proyeksi "dot plot" The Fed mengindikasikan hanya akan ada satu pemangkasan suku bunga 25 basis poin lagi pada tahun 2026 dan satu lagi pada tahun 2027. The Fed juga merevisi proyeksi pertumbuhan PDB untuk tahun 2026 naik menjadi 2,3% dari sebelumnya 1,8% pada September, serta sedikit menurunkan perkiraan inflasi PCE untuk tahun 2025 dan 2026. Selain itu, The Fed telah memulai pembelian obligasi Treasury jangka pendek senilai $40 miliar per bulan sejak 12 Desember 2025, untuk menjaga likuiditas pasar.

Pekan ini, fokus investor akan tertuju pada rilis data ekonomi AS yang krusial. Laporan ketenagakerjaan non-pertanian (nonfarm payrolls) AS untuk November 2025 dijadwalkan akan dirilis pada Selasa, 16 Desember 2025, diikuti oleh data Indeks Harga Konsumen (CPI) bulanan pada Kamis, 18 Desember 2025. Kedua data ini akan menjadi barometer utama bagi The Fed dalam menilai arah inflasi dan pasar tenaga kerja, yang pada gilirannya akan memengaruhi kebijakan moneter ke depan. Kesenjangan data yang diakibatkan oleh penutupan pemerintahan federal selama 43 hari sebelumnya telah menyulitkan investor untuk membaca kondisi ekonomi terkini, sehingga rilis data ini menjadi sangat penting. Sementara itu, Indeks Manufaktur Empire State untuk Desember telah dirilis pada 15 Desember 2025, menunjukkan kenaikan menjadi 18,70 dari sebelumnya 10,6. Beberapa pejabat The Fed juga dijadwalkan untuk menyampaikan pidato minggu ini, termasuk pidato anggota FOMC Williams pada 15 Desember 2025. Presiden The Fed Cleveland, Beth Hammack, sebelumnya telah menekankan perlunya tingkat suku bunga yang tetap restriktif untuk menekan inflasi, sembari mengakui bahwa kurangnya data sebelumnya menyulitkan pembacaan inflasi.

Sentimen pasar saham AS pada akhir pekan lalu menunjukkan pergerakan yang beragam. Indeks saham berjangka AS bervariasi pada Minggu malam, 14 Desember 2025, dengan investor tetap mewaspadai saham-saham teknologi. Indeks S&P 500 dan Nasdaq Composite mengalami pelemahan akibat aksi ambil untung dan kekhawatiran terkait valuasi saham-saham kecerdasan buatan (AI) menyusul panduan yang mengecewakan dari Oracle dan Broadcom. Sebaliknya, Dow Jones Industrial Average justru menguat dan mencetak rekor baru. Analis memperkirakan pasar akan menghadapi volatilitas jangka pendek seiring investor mencermati dampak dari perubahan suku bunga, laporan pendapatan korporasi, dan data makro yang akan datang terhadap prospek pertumbuhan laba tahun 2026.