
Gelombang ekonomi digital dan budaya konsumtif yang mendominasi Generasi Z menempatkan mahasiswa pada persimpangan kritis dalam mengelola kelebihan dana yang mereka miliki. Dengan tingkat literasi keuangan yang masih cenderung rendah, rata-rata sebesar 47,56 persen di kalangan pelajar dan mahasiswa di Indonesia, di bawah rata-rata nasional 49,68 persen pada 2023, pilihan alokasi dana lebih ini akan menentukan fondasi stabilitas finansial mereka di masa depan.
Secara historis, mahasiswa kerap dipandang sebagai kelompok yang rentan terhadap perilaku konsumtif, suatu pandangan yang masih relevan hingga saat ini. Survei Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada 2023 menunjukkan adanya kasus pidana yang melibatkan mahasiswa akibat minimnya literasi keuangan, menyoroti urgensi pemahaman yang lebih mendalam tentang pengelolaan uang. Selain itu, data dari sebuah penelitian pada 2023 mengungkapkan bahwa pengeluaran mahasiswa untuk konsumsi makanan dan minuman mencapai 52 persen dari uang saku mereka, diikuti oleh pengeluaran non-konsumsi 36 persen, dan hanya 12 persen yang dialokasikan untuk menabung. Sebuah studi lain pada 2019 juga menunjukkan bahwa sebagian besar mahasiswa menerima uang saku antara Rp 500.000 hingga Rp 1.500.000 per bulan, dengan sebagian kecil menerima lebih dari Rp 3.500.000, yang mengindikasikan variasi dalam ketersediaan dana.
Para ahli keuangan menekankan pentingnya membangun kebiasaan finansial yang sehat sejak dini, mengingat bahwa masa perkuliahan sering menjadi tahap awal kemandirian finansial. I Wayan Nuka Lantara, Pengamat Perbankan, Keuangan, dan Investasi sekaligus Dosen Prodi Manajemen FEB UGM, menyarankan agar Generasi Z perlu mengelola keuangan secara benar melalui perencanaan keuangan dengan menentukan tujuan jangka pendek maupun jangka panjang. Menurutnya, alokasi dana darurat, investasi, dan konsumsi harus diatur secara proporsional, serta diperlukan kedisiplinan untuk tidak terlalu konsumtif dengan menyusun skala prioritas kebutuhan.
Salah satu langkah fundamental adalah pembentukan dana darurat. Dana ini berfungsi sebagai bantalan finansial untuk mengatasi kondisi tak terduga seperti kehilangan pekerjaan paruh waktu, kebutuhan medis mendesak, atau perbaikan kendaraan. Idealnya, dana darurat mahasiswa setidaknya mencakup 3-6 bulan biaya hidup. Membangun dana darurat sejak dini tidak hanya memberikan ketenangan pikiran tetapi juga menanamkan disiplin keuangan seumur hidup.
Selain dana darurat, instrumen investasi dengan modal kecil menawarkan peluang signifikan bagi mahasiswa untuk menumbuhkan aset. Emas, misalnya, dikenal karena nilainya yang stabil dan risiko yang relatif rendah, serta mudah dicairkan. Mahasiswa dapat mulai berinvestasi emas digital mulai dari Rp10.000. Deposito juga merupakan pilihan investasi berisiko rendah dengan bunga tetap, cocok untuk penyimpanan dana yang tidak dibutuhkan dalam waktu dekat. Reksa dana menjadi opsi menarik bagi pemula dengan modal mulai Rp10.000, memungkinkan investasi di berbagai aset melalui manajer investasi. Obligasi pemerintah ritel juga tersedia dengan imbal hasil yang jelas dan risiko rendah, dengan pembelian bisa dimulai dari Rp1 juta. Sementara itu, tabungan berjangka dapat membantu mahasiswa disiplin menabung untuk tujuan jangka pendek, dan bagi mereka yang memiliki pemahaman mendalam tentang teknologi blockchain, investasi cryptocurrency dapat menawarkan potensi hasil menjanjikan, meskipun dengan volatilitas pasar yang tinggi.
Namun, tantangan dalam manajemen keuangan mahasiswa tidak hanya berkisar pada rendahnya literasi, tetapi juga pada gaya hidup konsumtif. Survei Katadata Insight Center 2023 menunjukkan 63 persen mahasiswa memiliki gaya hidup konsumtif. Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi dan Pelindungan Konsumen OJK, Friderica Widyasari Dewi, menekankan bahwa kecakapan digital harus diimbangi dengan kecerdasan finansial untuk mengelola keuangan dengan bijak dan memahami risiko digital.
Implikasi jangka panjang dari keputusan finansial yang diambil mahasiswa sangat besar. Membangun fondasi keuangan yang kuat sejak dini dapat menghasilkan kemerdekaan finansial di masa depan, mengurangi ketergantungan pada utang, dan memungkinkan mereka untuk mencapai tujuan finansial jangka panjang seperti membeli rumah atau mempersiapkan pensiun. Sebaliknya, kurangnya perencanaan dapat menjebak mereka dalam siklus utang konsumtif dan ketidakstabilan finansial. Oleh karena itu, edukasi dan disiplin menjadi kunci utama dalam memberdayakan mahasiswa untuk membuat keputusan finansial yang cerdas.