Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Libur Natal: Potensi Lonjakan Volatilitas Kripto Mengintai Investor

2025-12-25 | 23:00 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2025-12-25T16:00:46Z
Ruang Iklan

Libur Natal: Potensi Lonjakan Volatilitas Kripto Mengintai Investor

Pasar kripto global berpotensi menghadapi peningkatan volatilitas signifikan selama periode libur Natal 2025, ditandai dengan menipisnya likuiditas, aksi deleveraging institusional, dan potensi pergerakan besar akibat kedaluwarsa opsi bernilai miliaran dolar. Kondisi ini terjadi di tengah pasar yang sudah menunjukkan volatilitas tinggi sepanjang tahun ini, dengan Bitcoin dan Ethereum terjebak dalam fase konsolidasi.

Secara historis, bulan Desember sering menjadi periode krusial bagi pasar kripto, di mana pergerakan harga dapat menentukan arah tren di awal tahun berikutnya. Namun, pola musiman seperti "Santa Claus rally" tidak selalu terwujud, sebagaimana terlihat pada koreksi tajam Bitcoin di tahun 2017.

Penurunan volume perdagangan menjadi faktor utama pemicu volatilitas saat ini. Menjelang libur Natal dan akhir tahun, banyak pelaku pasar, termasuk institusi besar, mengurangi aktivitas atau menutup posisi, menyebabkan likuiditas pasar menipis. Kondisi ini membuat harga lebih sensitif terhadap transaksi dalam jumlah besar, bahkan pergerakan yang relatif kecil dapat memicu fluktuasi tajam. Laporan terbaru dari QCP Asia menyoroti pelemahan likuiditas pasar menjelang libur panjang serta aksi deleveraging institusional sebagai faktor utama yang menjaga Bitcoin (BTC) dan Ethereum (ETH) dalam kisaran sempit. Perusahaan tersebut mencatat penurunan open interest pada kontrak perpetual Bitcoin sekitar US$3 miliar dan Ethereum sekitar US$2 miliar, mengindikasikan berkurangnya penggunaan leverage dan minat spekulatif.

Di samping itu, kedaluwarsa opsi kripto berskala besar menambah potensi gejolak. Sekitar 300.000 kontrak opsi Bitcoin senilai US$23,7 miliar dan 446.000 kontrak opsi IBIT dijadwalkan jatuh tempo pada akhir pekan ini, bersama dengan opsi Ethereum, total nilai nominal kontrak yang jatuh tempo mencapai US$28,5 miliar. Skala penyerahan opsi ini merupakan yang terbesar dalam sejarah, dan secara historis, Bitcoin cenderung mengalami fluktuasi 5% hingga 7% selama periode Natal, sering dikaitkan dengan kedaluwarsa opsi akhir tahun, bukan katalis fundamental baru.

Sentimen pasar juga menunjukkan kehati-hatian. Indeks Fear and Greed tetap berada di zona "Fear", mengindikasikan sentimen negatif yang didominasi oleh ketakutan terhadap koreksi lebih dalam dan rendahnya minat beli. Namun, beberapa analis memandang "extreme fear" sering muncul di dekat titik terendah pasar, membuka peluang bagi investor jangka panjang untuk akumulasi.

Tahun 2025 sendiri telah menyaksikan pasar kripto yang sangat volatil. Harga Bitcoin sempat terkoreksi hingga 23,7% pada kuartal IV 2025 setelah reli kuat di paruh awal tahun, bahkan mencapai rekor tertinggi sepanjang masa di US$126.000 sebelum turun ke kisaran US$80.000-US$90.000. Ironisnya, di tengah volatilitas ini, platform perdagangan derivatif kripto di Indonesia seperti Pintu Futures mencatat pertumbuhan pengguna baru sebesar 37% secara kuartalan, menunjukkan bahwa trader memanfaatkan instrumen derivatif untuk meraih keuntungan baik saat pasar naik maupun turun. Head of Product Marketing Pintu, Iskandar Mohammad, menyatakan bahwa koreksi pasar justru membuka kesempatan bagi trader untuk memanfaatkan posisi short.

Fenomena unik lainnya adalah pergerakan institusional yang kontras dengan perilaku investor ritel. Pada 24 Desember 2025, BlackRock melakukan transaksi kripto senilai lebih dari US$200 juta, mentransfer 2.292 Bitcoin dan hampir 10.000 Ethereum ke Coinbase Prime, meskipun sebagian posisi kemudian dibeli kembali. Pergerakan dua arah ini diyakini sebagai penataan portofolio dan manajemen likuiditas, bukan sinyal pelepasan eksposur, mengingat BlackRock mengelola sekitar US$77,6 miliar aset kripto. Di sisi lain, minat ritel pada aset kripto terus menurun sepanjang tahun ini, dengan data menunjukkan investor ritel menjual sekitar 247.000 BTC selama 2025. Analis Luc dari BeInCrypto bahkan menyoroti pergeseran budaya di mana perhatian investor beralih dari kripto sebagai spekulasi menjadi infrastruktur, dengan dominasi aliran dana institusi.

Implikasi ke depan menunjukkan bahwa arah pasar menuju 2026 akan sangat bergantung pada kondisi makroekonomi global dan partisipasi institusi. Jika likuiditas global membaik dan selera risiko kembali meningkat, fase koreksi saat ini berpotensi menjadi landasan pertumbuhan berikutnya. Namun, kebijakan bank sentral seperti Federal Reserve dan Bank of Japan, yang berpotensi menaikkan suku bunga, dapat menambah tekanan pada pasar aset berisiko. Investor disarankan untuk menerapkan manajemen risiko yang cermat, seperti menentukan titik stop loss dan take profit, serta melakukan diversifikasi portofolio.