:strip_icc()/kly-media-production/medias/5342656/original/097613200_1757397640-3.jpg)
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatatkan kinerja positif sepanjang pekan periode 1-5 Desember 2025, melonjak sebesar 1,46% dan ditutup pada level 8.632,761. Peningkatan ini juga mendongkrak kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia (BEI) sebesar 1,39% menjadi Rp15.844 triliun dari Rp15.626 triliun pada pekan sebelumnya. Rata-rata frekuensi transaksi harian turut meningkat 2,13% menjadi 2,66 juta kali transaksi. Kenaikan signifikan ini didorong oleh sejumlah faktor pemicu utama, baik dari sentimen domestik maupun global.
Salah satu pemicu utama kenaikan IHSG adalah fundamental domestik yang solid. Analis Teknikal BRI Danareksa Sekuritas, Reza Diofanda, menjelaskan bahwa pasar mendapatkan dorongan dari stabilnya indikator makroekonomi seperti surplus neraca perdagangan yang terjaga, inflasi yang tetap terkendali, serta Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur yang masih berada di zona ekspansif. Fundamental domestik yang kuat ini telah meningkatkan kepercayaan pelaku pasar.
Faktor kedua yang turut mendorong penguatan IHSG adalah ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter global. Ekspektasi akan pemangkasan suku bunga oleh bank sentral Amerika Serikat, The Fed, telah menciptakan sentimen positif dan meningkatkan selera risiko (risk appetite) investor di pasar global, termasuk Indonesia. Perkembangan kebijakan moneter AS dinilai masih menjadi faktor paling dominan dalam menentukan arah pasar.
Ketiga, masuknya aliran dana asing juga menjadi katalis penting bagi pergerakan positif IHSG. Head of Research Retail MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, menyebutkan bahwa pergerakan IHSG sepanjang pekan ini terutama ditopang oleh masuknya aliran dana asing seiring rebalancing indeks MSCI yang dilakukan beberapa waktu lalu. Per akhir November 2025, investor asing tercatat melakukan aksi beli saham senilai Rp992,41 miliar dalam sepekan. Kepercayaan terhadap fundamental domestik yang kuat, dikombinasikan dengan valuasi pasar negara berkembang yang atraktif, turut menarik minat investor asing.
Selain itu, beberapa analis juga menyoroti potensi dukungan kebijakan moneter dan fiskal domestik, termasuk ekspektasi pelonggaran moneter oleh Bank Indonesia dan peningkatan belanja pemerintah melalui Danantara, Badan Pengelola Investasi, yang berpotensi menjadi "game changer" dalam menarik pendanaan eksternal dan menyalurkan investasi secara lebih profesional. JP Morgan bahkan memproyeksikan IHSG berpotensi menembus level 10.000 dengan dukungan sektor-sektor seperti perindustrian, barang baku, konsumer, dan properti.