
Sisa gaji bulanan suami-istri sebesar Rp 1,8 juta setelah memenuhi berbagai kebutuhan pokok menimbulkan pertanyaan besar mengenai kemampuan mereka untuk membeli kendaraan pribadi. Analisis mendalam menunjukkan bahwa membeli mobil, terutama unit baru, akan menjadi tantangan finansial yang signifikan, bahkan cenderung tidak memungkinkan, mengingat besarnya biaya kepemilikan.
Harga mobil baru termurah di Indonesia, khususnya kategori Low Cost Green Car (LCGC) seperti Daihatsu Ayla atau Toyota Calya, dimulai dari sekitar Rp 137 jutaan hingga Rp 170 jutaan. Jika mengambil skema kredit dengan uang muka (DP) 20% dan tenor lima tahun, cicilan bulanan untuk mobil seharga Rp 150 juta diperkirakan mencapai Rp 2,4 juta. Angka ini sudah melebihi sisa gaji Rp 1,8 juta. Secara umum, lembaga pembiayaan menyarankan rasio cicilan mobil tidak lebih dari 30% dari total penghasilan bulanan. Untuk cicilan Rp 3 juta per bulan, gaji minimal ideal yang disarankan adalah sekitar Rp 9 juta hingga Rp 10 juta. Bahkan untuk cicilan Rp 1,6 juta per bulan, gaji minimal yang direkomendasikan adalah Rp 4,8 juta, itupun seringkali membutuhkan uang muka yang besar atau tenor yang sangat panjang.
Melihat skenario mobil bekas, pilihannya memang lebih terjangkau. Banyak mobil bekas yang ditawarkan di bawah harga Rp 50 juta, seperti Suzuki Karimun Estilo, Nissan Livina generasi pertama, atau Toyota Avanza generasi pertama. Beberapa model lain yang juga masuk dalam kategori harga ini termasuk Daihatsu Xenia, Suzuki APV, dan Hyundai Atoz. Untuk mobil bekas seharga sekitar Rp 80 juta, dengan uang muka Rp 15 juta dan tenor empat tahun, cicilan bulanan bisa sekitar Rp 1,5 juta. Namun, angka ini masih merupakan beban yang besar bagi pendapatan sisa Rp 1,8 juta.
Selain cicilan, biaya operasional dan kepemilikan mobil juga harus diperhitungkan dengan cermat. Bahan bakar minyak (BBM) merupakan pengeluaran rutin yang signifikan. Sebagai contoh, jika sebuah mobil memiliki konsumsi BBM 1:12 km/liter dengan rata-rata jarak tempuh 30 km per hari, kebutuhan bahan bakar bulanan bisa mencapai sekitar 75 liter. Dengan harga bensin Rp 13.000 per liter, total biaya BBM per bulan adalah sekitar Rp 975.000.
Selanjutnya, biaya asuransi juga menjadi komponen penting. Asuransi komprehensif untuk mobil baru biasanya berkisar 2-3% dari harga mobil per tahun. Untuk mobil seharga Rp 250 juta, premi asuransi bisa sekitar Rp 520 ribu per bulan. Meskipun asuransi pihak ketiga untuk mobil bekas mungkin lebih murah, mulai dari Rp 500 ribu per tahun, namun asuransi komprehensif tetap berada di kisaran 2-3% dari harga pasar mobil.
Biaya perawatan dan servis rutin tahunan juga bervariasi, namun untuk mobil penumpang biasa dapat berkisar antara Rp 3 juta hingga Rp 8 juta per tahun, atau sekitar Rp 250 ribu hingga Rp 667 ribu per bulan. Selain itu, ada Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) tahunan yang umumnya 1,5% hingga 2% dari nilai pasar kendaraan. Untuk mobil seharga Rp 200 juta, PKB bisa mencapai Rp 3 juta hingga Rp 4 juta per tahun, atau sekitar Rp 250 ribu hingga Rp 333 ribu per bulan. Beban pajak progresif juga dapat dikenakan jika seseorang memiliki lebih dari satu kendaraan.
Dengan demikian, jika sisa gaji Rp 1,8 juta per bulan harus menanggung cicilan, bahan bakar, asuransi, perawatan, dan pajak, maka akan sangat sulit untuk diwujudkan. Bahkan untuk mobil bekas dengan cicilan Rp 1,5 juta, sisa Rp 300 ribu tidak akan cukup untuk menutupi biaya BBM, apalagi asuransi dan perawatan. Para ahli keuangan menyarankan untuk memiliki dana darurat dan tabungan minimal 25% dari gaji, serta memprioritaskan kebutuhan pokok. Membeli mobil dengan sisa pendapatan yang terbatas memerlukan perencanaan finansial yang sangat matang, mempertimbangkan opsi transportasi alternatif, atau menabung lebih agresif untuk uang muka yang jauh lebih besar agar cicilan bulanan bisa ditekan seminimal mungkin.