Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Stasiun Jatake: Fasilitas Rampung, Menanti Debut Kereta Api

2025-12-31 | 22:28 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2025-12-31T15:28:23Z
Ruang Iklan

Stasiun Jatake: Fasilitas Rampung, Menanti Debut Kereta Api

Stasiun Jatake di Pagedangan, Kabupaten Tangerang, telah sepenuhnya rampung dengan fasilitas modern seperti area parkir luas, toilet, eskalator, dan lift, namun hingga akhir Desember 2025, kereta komuter masih belum berhenti melayani penumpang. Direktur Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan, Allan Tandiono, menyatakan bahwa meskipun pembangunan fisik telah selesai dan tahap pengujian operasional sedang berlangsung, peresmian untuk layanan naik turun penumpang masih menunggu kesiapan dari operator, PT KAI (Persero), dan pengembang, Sinar Mas Land. PT KAI sebelumnya telah menargetkan Stasiun Jatake akan mulai beroperasi pada Januari 2026.

Pembangunan Stasiun Jatake yang digagas sejak 30 Maret 2024 ini merupakan proyek strategis hasil kolaborasi PT Kereta Api Indonesia (KAI) dengan pihak swasta, PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSD) melalui Sinar Mas Land, dengan skema pembiayaan kreatif tanpa menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Stasiun ini dikembangkan dengan konsep Transit Oriented Development (TOD), mengintegrasikan fungsi transportasi dengan aktivitas kawasan sekitar, serta dirancang sebagai simpul layanan baru yang mendukung kelancaran mobilitas penumpang sekaligus mendorong aktivitas ekonomi lokal. Stasiun Jatake diharapkan menjadi stasiun KRL termegah di Tangerang, Banten, dan menjadi kebanggaan warga BSD City dan sekitarnya.

Secara teknis, Stasiun Jatake berdiri di atas lahan seluas 2.435 meter persegi dengan bangunan tiga lantai sekitar 3.000 meter persegi. Fasilitasnya mencakup dua peron sisi sepanjang 250 meter dengan lebar masing-masing 6 meter, serta diproyeksikan mampu melayani hingga 20.000 penumpang per hari. Desainnya mengadaptasi instrumen bangunan hijau, termasuk sirkulasi udara alami dan penggunaan panel surya untuk efisiensi listrik. Hingga akhir November 2025, progres pembangunan Stasiun Jatake telah mencapai 98,56 persen, meliputi prasarana utama dan fasilitas penunjang.

Penundaan operasional penuh, meskipun izin dari Kementerian Perhubungan telah terbit pada September 2025, sebagian besar disebabkan oleh koordinasi antara operator dan investor untuk finalisasi serta pengujian prasarana dan kesiapan operasional yang komprehensif. Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi pada Oktober 2025 menyatakan bahwa stasiun ini masih dalam tahap uji coba oleh Direktorat Jenderal Perkeretaapian (DJKA) bersama KAI. Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba menekankan bahwa KAI secara bertahap akan melakukan uji pertama, asesmen keselamatan, dan pengajuan izin operasi, yang seluruhnya mengacu pada regulasi keselamatan perkeretaapian, dengan keandalan prasarana dan keamanan pelanggan sebagai prioritas utama.

Kehadiran Stasiun Jatake sangat relevan mengingat pertumbuhan signifikan pengguna Commuter Line lintas Tanah Abang–Rangkasbitung. Data KAI menunjukkan bahwa jumlah pengguna di lintas tersebut meningkat dari 43.317.716 pada 2022 menjadi 70.496.181 sepanjang Januari-November 2025. Lonjakan angka ini menggarisbawahi kebutuhan mendesak akan infrastruktur transportasi massal yang andal dan terintegrasi untuk mengurangi kepadatan lalu lintas jalan raya. Stasiun ini tidak hanya memperluas jangkauan layanan, tetapi juga dirancang untuk terintegrasi langsung dengan pusat perbelanjaan, menawarkan konsep konektivitas tanpa hambatan yang diharapkan dapat meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap kereta api sebagai pilihan utama mobilitas harian.

Dampak jangka panjang dari operasional Stasiun Jatake diharapkan mampu memperkuat konektivitas wilayah, mendukung mobilitas harian yang lebih tertata dan efisien, serta mendorong pengembangan ekonomi di kawasan berkembang pesat seperti Pagedangan dan sekitarnya. Selain itu, proyek ini menciptakan lapangan pekerjaan dan mengembangkan kawasan permukiman, sejalan dengan visi pembangunan berkelanjutan. Integrasi dengan moda transportasi lanjutan juga menjadi pesan Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, agar pembangunan seperti ini dapat terintegrasi dengan titik-titik simpul Transit Oriented Development (TOD) dan memfasilitasi feeder-feeder dari kantong-kantong permukiman di luar BSD.