Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan akan bergerak mendatar pada perdagangan Senin, 1 Desember 2025, meskipun ada potensi penguatan terbatas setelah ditutup melemah pada penutupan perdagangan Jumat (28/11) lalu. Analis memperkirakan IHSG akan bergerak pada kisaran 8.470 hingga 8.600. Investor akan mencermati rilis data ekonomi domestik penting di awal Desember, seperti indeks PMI manufaktur, neraca perdagangan, dan inflasi. Meskipun demikian, IHSG diproyeksikan masih memiliki ruang untuk menguat hingga akhir tahun, dengan target teknikal di level 8.600 pada Desember 2025 dan secara jangka menengah hingga panjang masih berada di area bullish.
Sejumlah saham menarik perhatian analis untuk perdagangan awal pekan ini. Phintraco Sekuritas merekomendasikan beberapa saham untuk dicermati, termasuk PGAS. Sementara itu, MNC Sekuritas merekomendasikan ASII, BBRI, PTRO, dan TPIA untuk dicermati.
PT Astra International Tbk (ASII) direkomendasikan "Buy on Weakness" oleh MNC Sekuritas. Saham ASII sempat terkoreksi 0,38% ke level Rp6.550 dengan tekanan jual yang meningkat. Namun, BRI Danareksa Sekuritas mempertahankan rekomendasi "BUY" untuk ASII dengan target harga Rp7.450, menawarkan potensi kenaikan 14,2% dan perkiraan yield dividen sekitar 7%. Prospek positif ASII didorong oleh pemulihan volume kendaraan roda empat (4W) dan peningkatan margin pada tahun fiskal 2026 seiring penguatan daya tawar merek Astra dan kontribusi lini hibrida sebagai alternatif kendaraan listrik berbasis baterai. Secara teknikal, ASII membentuk fase bullish consolidation yang didukung sinyal positif dari Stochastics K_D dan RSI, dan menguat 2,33% secara harian menjadi Rp6.600 pada 26 November. Investor asing menunjukkan minat yang menguat dengan mencatatkan net buy sebesar Rp1,5 triliun dalam sebulan terakhir hingga November 2025.
Untuk PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), analis dari MNC Sekuritas juga merekomendasikannya. Saham BBRI diperdagangkan di sekitar Rp3.800 pada 26 November 2025, turun 0,78%. BBRI akan menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada 17 Desember 2025 untuk membahas perubahan anggaran dasar, pendelegasian kewenangan persetujuan rencana kerja dan anggaran perusahaan 2026, serta perubahan susunan pengurus perseroan. Meskipun mencatatkan laba bersih yang sedikit lebih rendah di sembilan bulan pertama 2025 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, aset dan ekuitas perseroan menunjukkan peningkatan. Namun, BBRI mengalami tekanan jual asing dengan net sell sebesar Rp1,2 triliun dalam beberapa hari terakhir. Secara teknikal, tren jangka panjang BBRI masih bearish di bawah Simple Moving Average (SMA) 200-hari, namun diperdagangkan dalam kisaran sideways sejak akhir bulan lalu. BBRI dinilai prospektif dengan potensi dividend yield menarik sebesar 8,4% untuk 2025.
PT Petrosea Tbk (PTRO) juga masuk dalam daftar rekomendasi MNC Sekuritas. Saham PTRO mencapai harga tertinggi sepanjang masanya di Rp10.125 pada 26 November 2025. Petrosea baru saja menyelesaikan akuisisi 60% saham Scan-Bilt Pte. Ltd. (SBPL) senilai SG$10,3 juta atau setara Rp131,84 miliar pada 28 November 2025, sebuah langkah strategis untuk memperkuat portofolio bisnisnya. Prospek kinerja PTRO dinilai positif didukung oleh outlook harga komoditas tambang yang berpeluang membaik di 2025, diversifikasi portofolio bisnis, serta kontribusi dari kontrak yang telah diamankan. Aksi stock split dengan rasio 1:10 yang dilakukan pada Januari 2025 juga disambut positif pasar, meningkatkan likuiditas saham dan memperluas basis investor.
PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) direkomendasikan oleh MNC Sekuritas. Saham TPIA sempat menguat 2,88% atau 200 poin ke level Rp7.150 pada awal November 2025 dan berhasil membukukan laba setelah sebelumnya rugi pada kuartal III-2025. Pendapatan bersih perusahaan melesat 314,5% secara tahunan menjadi US$5,1 miliar. Direktur Utama Chandra Asri Pacific, Erwin Ciputra, melakukan pembelian 450.000 saham TPIA pada 19-25 November 2025, yang menunjukkan kepercayaan manajemen terhadap prospek perusahaan. Analisis teknikal menunjukkan potensi reversal dengan dukungan di Rp6.950 dan target antara Rp8.000 hingga Rp8.100. Prediksi harga saham TPIA pada akhir 2025 dapat berfluktuasi antara Rp6.718 dan Rp8.210, dengan perkiraan rata-rata sekitar Rp7.464.
PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) direkomendasikan oleh Phintraco Sekuritas untuk trading. Meskipun Mandiri Sekuritas mempertahankan rekomendasi "Netral" dengan target harga yang diturunkan menjadi Rp1.600 akibat penurunan volume perdagangan gas dan penyempitan margin distribusi, PGAS diperkirakan masih mampu memberikan dividend yield sekitar 10%. Tantangan pasokan gas diperkirakan berlanjut, namun PGAS mengantisipasinya dengan proyeksi kontribusi LNG sekitar 20% terhadap total pasokan perdagangan gas pada 2025. Segmen pemrosesan, regasifikasi, dan transmisi gas menunjukkan prospek positif dengan pertumbuhan pendapatan. Kiwoom Sekuritas Indonesia merekomendasikan "trading buy" untuk PGAS dengan target harga Rp1.715, mengutip strategi pengalihan gas ekspor ke pasar domestik. Secara teknikal, Investing.com memberikan sinyal "Sangat Beli" untuk PGAS, meskipun indikator RSI menunjukkan kondisi overbought.