Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Kadin Peringatkan: Krisis Pengangguran Mayoritas Hantam Generasi Muda

2025-12-01 | 12:59 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2025-12-01T05:59:16Z
Ruang Iklan

Kadin Peringatkan: Krisis Pengangguran Mayoritas Hantam Generasi Muda

Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Anindya Bakrie, menyoroti isu krusial terkait dominasi anak muda dalam angka pengangguran di Tanah Air. Pernyataan ini menggarisbawahi tantangan serius yang dihadapi Indonesia dalam memanfaatkan bonus demografi.

Data terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS) per Agustus 2025 menunjukkan bahwa kelompok usia 15-24 tahun masih menjadi penyumbang tingkat pengangguran terbuka (TPT) tertinggi, mencapai 16,89 persen. Secara keseluruhan, jumlah pengangguran di Indonesia mencapai 7,46 juta orang dengan TPT sebesar 4,85 persen pada periode yang sama. Angka ini sedikit menurun dibandingkan Agustus 2024 yang tercatat 7,47 juta orang dengan TPT 4,91 persen.

Aliansi Ekonom Indonesia sebelumnya juga mengungkapkan bahwa tingkat pengangguran usia 15-24 tahun mencapai 15% sepanjang 2016-2024, tiga kali lipat lebih besar dibandingkan kelompok usia dewasa 25-34 tahun. Mirisnya, sekitar 25 persen anak muda Indonesia dalam kurun waktu tersebut dinyatakan tidak produktif, artinya tidak sedang bekerja, bersekolah, mengikuti pelatihan, maupun mempersiapkan kerja, dengan dominasi perempuan dalam kelompok ini. Indonesia bahkan disebut menjadi negara dengan persentase jumlah pengangguran tertinggi di Asia Tenggara, mencapai 4,76% per Maret 2025.

Anindya Bakrie menekankan bahwa tingginya angka pengangguran anak muda ini disebabkan oleh beberapa faktor struktural. Salah satunya adalah ketidaksesuaian atau mismatch antara keterampilan yang dimiliki lulusan pendidikan dengan kebutuhan industri. Selain itu, terbatasnya lapangan pekerjaan yang tersedia tidak sebanding dengan membludaknya jumlah angkatan kerja muda, termasuk bagi mereka yang berpendidikan tinggi. Penciptaan lapangan kerja berkualitas juga cenderung minim, dengan 80% atau sekitar 14 juta lapangan kerja baru tercipta dari sektor berbasis rumah tangga dengan upah di bawah rata-rata dan tanpa jaminan sosial. Kurangnya pengalaman kerja menjadi penghambat lain bagi kaum muda untuk memasuki dunia profesional.

Wakil Ketua Dewan Pengupahan Nasional Kadin, Agoes Dermawan, juga telah memperingatkan bahwa jika pemerintah gagal memformulasikan pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan pasar kerja, bonus demografi Indonesia dapat berubah menjadi "Indonesia Cemas" akibat peningkatan pengangguran. Data BPS tahun 2023 menunjukkan, terdapat 9,89 juta (22,25%) penduduk usia muda 15-24 tahun yang termasuk dalam kategori Not in Employment, Education or Training (NEET), angka yang masih lebih tinggi dari rata-rata dunia.

Menanggapi permasalahan ini, Kadin Indonesia terus mendorong kolaborasi antara sektor bisnis dan pendidikan untuk menciptakan program pelatihan, kesempatan magang, dan sertifikasi yang relevan. Anindya Bakrie juga menyoroti potensi penciptaan lapangan kerja baru melalui industrialisasi hijau dan sektor pertanian, di mana banyak anak muda kini mulai aktif. Sebagai contoh konkret, Kadin Jakarta bersama Pemerintah Provinsi Jakarta telah membentuk Komite Vokasi yang bertujuan menjembatani kebutuhan dunia usaha dengan lulusan sekolah atau universitas. Kadin mengakui pentingnya menjaga stabilitas tenaga kerja dan mengantisipasi lonjakan pengangguran agar pertumbuhan ekonomi nasional dapat terus berlanjut.