
Penyelenggara layanan bandar udara nasional, InJourney Airports, mengaktifkan operasi 24 jam di 37 bandara di seluruh Indonesia selama periode libur Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru). Kebijakan ini diberlakukan mulai 18 Desember 2025 hingga 4 Januari 2026, ditujukan untuk mengakomodasi proyeksi lonjakan 4,1 persen dalam pergerakan penumpang pesawat, yang diperkirakan mencapai 10,5 juta orang. Langkah ini merupakan respons strategis terhadap estimasi puncak arus keberangkatan pada 20-21 Desember 2025, dengan sekitar 590.000 penumpang setiap harinya, serta puncak arus balik pada 3 dan 4 Januari 2026, yang masing-masing diproyeksikan mencapai 560.000 dan 522.000 penumpang.
Direktur Utama InJourney, Maya Watono, menyatakan kesiapan operasional penuh ini untuk menjamin kelancaran layanan penerbangan dan meningkatkan kualitas pengalaman penumpang selama periode liburan akhir tahun. Mohammad R. Pahlevi, Direktur Utama InJourney Airports, menambahkan bahwa seluruh bandara disiagakan 24 jam untuk menyesuaikan kebutuhan maskapai dan mengoptimalkan penggunaan slot waktu yang tersedia di setiap bandara guna melayani perjalanan udara masyarakat.
Penerapan operasi 24 jam di sejumlah bandara bukanlah kebijakan baru, melainkan strategi yang secara konsisten diterapkan pada masa puncak liburan guna mengurai kepadatan dan memastikan fleksibilitas operasional. Pada Nataru 2024/2025, misalnya, Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan (Kemenhub) mencatat peningkatan jumlah penumpang angkutan udara sebesar 10,2 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, mencapai 3.875.032 orang. Kemenhub juga telah melakukan inspeksi menyeluruh terhadap 257 bandara, termasuk 12 bandara utama oleh inspektur pusat dan 245 bandara lainnya oleh Kantor Otoritas Bandar Udara, untuk memastikan seluruh fasilitas beroperasi sesuai standar keselamatan dan keamanan.
Kesiapan infrastruktur mencakup pemeriksaan menyeluruh pada sisi udara (landasan pacu, jalur taksi, apron, alat bantu visual, sistem kelistrikan, dan drainase) serta sisi darat (terminal penumpang). Antisipasi terhadap potensi cuaca ekstrem dan dampaknya pada penerbangan juga menjadi fokus utama, dengan koordinasi erat bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) untuk penyediaan informasi cuaca real-time.
Untuk mendukung kelancaran dan pelayanan, InJourney Airports mengerahkan sekitar 16.000 personel internal dan ribuan personel eksternal di seluruh bandara. Penambahan personel layanan pelanggan dilakukan untuk mengantisipasi interaksi dengan penumpang, terutama saat terjadi keterlambatan atau kondisi operasional yang tidak normal. Plt. Direktur Jenderal Perhubungan Udara, Lukman F. Laisa, mengimbau operator bandara dan penyedia jasa penerbangan untuk meningkatkan kapasitas angkutan udara, menjaga pertumbuhan permintaan dengan penyesuaian slot waktu, dan memperpanjang jam operasi bandara. Ia juga memastikan bahwa prosedur ramp inspection keselamatan penerbangan, yang meliputi pemeriksaan operasional pesawat udara, akan terus dilakukan.
Kebijakan insentif juga diterapkan, termasuk potongan tarif Pelayanan Jasa Pendaratan, Penempatan, dan Penyimpanan Pesawat Udara (PJP4U) sebesar 50 persen bagi seluruh maskapai nasional, yang diharapkan dapat mendorong minat masyarakat untuk menggunakan transportasi udara. Selain itu, pemerintah pada Nataru 2024/2025 sempat menurunkan harga tiket pesawat sebesar 10 persen untuk mengurangi beban masyarakat, yang terbukti meningkatkan pergerakan penumpang.
Implikasi jangka panjang dari operasional 24 jam bandara dan peningkatan kapasitas infrastruktur ini mencerminkan komitmen pemerintah dan operator dalam mengembangkan konektivitas udara di Indonesia. Peningkatan efisiensi dan fleksibilitas operasional ini tidak hanya mendukung sektor pariwisata dan ekonomi daerah, tetapi juga meningkatkan resiliensi sistem transportasi udara nasional dalam menghadapi lonjakan permintaan musiman. Tantangan utama terletak pada pemeliharaan standar keselamatan yang tinggi, manajemen operasional yang adaptif terhadap dinamika cuaca, serta mitigasi dampak keterlambatan penerbangan agar kenyamanan penumpang tetap menjadi prioritas. Koordinasi lintas sektor dan investasi berkelanjutan dalam teknologi serta sumber daya manusia menjadi krusial untuk memastikan sistem ini berkelanjutan dan mampu melayani pertumbuhan mobilitas masyarakat di masa mendatang.