
PT Wong Hang Bersaudara dan PT Akarsa Garment secara resmi membuka kembali operasi pabrik garmen mereka di kawasan industri Jalan Lingkar Luar Pemalang pada Jumat, 19 Desember 2025, sebuah langkah signifikan yang ditargetkan mampu menyerap hingga 1.500 tenaga kerja lokal dan memberikan harapan baru bagi ratusan pekerja yang terdampak penutupan sebelumnya. Revitalisasi pabrik padat karya ini diharapkan menjadi pendorong vital bagi perekonomian daerah yang selama ini bergulat dengan tingginya angka pengangguran.
Pengoperasian kembali pabrik ini menandai kebangkitan kembali aktivitas industri yang sempat terhenti pada 29 Februari 2024, menyebabkan banyak karyawan kehilangan mata pencarian. Salah satu pemilik PT WHB, Alfindra Amanda, menyatakan bahwa visi dan misi perusahaan sejalan dengan arahan Presiden Prabowo untuk membuka lapangan kerja, memperkuat produksi dalam negeri, membangun kemandirian bangsa, mengindonesiakan produk lokal, serta membawa produk asli Indonesia ke mata dunia. Saat ini, pabrik tersebut telah mempekerjakan sekitar 1.300 karyawan, dengan target mencapai 1.500 pekerja pada akhir tahun 2025. Pekerja seperti Dewi dan Nurul, yang sebelumnya harus beralih profesi serabutan selama 18 bulan penutupan, kini mengungkapkan kelegaan mereka dapat kembali bekerja dan memiliki kepastian penghasilan. Manajemen perusahaan, melalui perwakilan Steven Wongso, menegaskan bahwa seluruh hak normatif pekerja, termasuk BPJS dan kewajiban ketenagakerjaan lainnya, telah dipenuhi.
Kabupaten Pemalang menghadapi tantangan serius dalam ketenagakerjaan. Data Badan Pusat Statistik (BPS) per Agustus 2024 menunjukkan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Pemalang mencapai 6,63 persen, melampaui rata-rata Provinsi Jawa Tengah yang berada di angka 4,78 persen. Sebanyak 57.020 warga Pemalang tercatat sebagai pengangguran pada tahun 2024, dengan masalah ketenagakerjaan diidentifikasi sebagai akar permasalahan kemiskinan di daerah tersebut. Kondisi ini mendorong Bupati Pemalang Anom Widiyantoro dan Wakil Bupati Nurkholes untuk secara aktif menarik investor guna mengurangi angka pengangguran.
Gubernur Jawa Tengah, Komjen Pol (P) Drs. Ahmad Luthfi, menegaskan komitmen pemerintah provinsi untuk menciptakan iklim investasi yang kondusif. Ia menjamin keamanan penuh dari praktik premanisme dan kemudahan perizinan melalui sistem satu pintu untuk menghilangkan birokrasi yang berbelit-belit. Kebijakan ini, menurut Gubernur, telah mendorong pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah mencapai 5,37 persen, melampaui rata-rata nasional. Luthfi juga menekankan fokus pemerintah provinsi pada industri padat karya untuk penyerapan tenaga kerja secara masif, serta penguatan peran sekolah vokasi dan Balai Latihan Kerja (BLK) untuk mencetak sumber daya manusia yang kompetitif. Hingga triwulan III 2025, realisasi investasi di Jawa Tengah mencapai Rp66,13 triliun, menyerap lebih dari 326 ribu tenaga kerja. Sementara itu, di Pemalang sendiri, realisasi investasi pada triwulan III 2025 mencapai Rp801 miliar, dengan sektor industri menjadi kontributor terbesar senilai Rp725 miliar, didominasi oleh Penanaman Modal Asing (PMA) sebesar 93 persen.
Wakil Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Wakapolri), Komjen Pol Dedi Prasetyo, yang turut hadir dalam peresmian, menggarisbawahi tanggung jawab Polri dalam mengawal kebijakan Presiden untuk menyejahterakan masyarakat dan buruh. Ia menyoroti pentingnya industri garmen domestik untuk memastikan ketersediaan logistik dasar, seperti pakaian dan sepatu, yang esensial bagi personel di lapangan. Keberadaan investasi industri padat karya seperti ini bukan sekadar menambah angka statistik, melainkan menawarkan solusi nyata terhadap isu struktural ketenagakerjaan dan kemiskinan di Pemalang, sekaligus mengukuhkan posisi Jawa Tengah sebagai pusat industri yang menarik bagi investor.