:strip_icc()/kly-media-production/medias/1817917/original/058473800_1514865745-20180102-IHSG-FF3.jpg)
Pasar modal Indonesia mengakhiri tahun 2025 dengan kinerja yang sangat positif, ditandai oleh penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang signifikan, rekor kapitalisasi pasar, serta lonjakan jumlah investor domestik. Berbagai asosiasi pasar modal menyambut capaian ini dengan optimisme, menyoroti ketahanan pasar di tengah gejolak global dan potensi pertumbuhan berkelanjutan.
Sepanjang tahun 2025, IHSG mencatatkan penguatan impresif sebesar 22,10% dan ditutup pada level 8.644,26 pada perdagangan terakhir, 30 Desember 2025. Indeks juga berhasil menorehkan rekor tertinggi sepanjang masa (all-time high/ATH) sebanyak 24 kali, dengan puncaknya mencapai 8.710,69 pada 8 Desember 2025. Kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia (BEI) menembus angka historis Rp16.000 triliun, melampaui target Roadmap Pasar Modal dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN), dengan rasio terhadap PDB 2024 mencapai 71,41%.
Direktur Utama BEI Iman Rachman menyatakan bahwa tahun 2025 merupakan tahun pembuktian ketahanan dan kesiapan pasar modal Indonesia. "Meskipun di tengah tekanan domestik dan global yang tinggi, pasar mampu menjaga stabilitas, bangkit kembali, dan menorehkan capaian kinerja yang solid," ujarnya dalam konferensi pers penutupan perdagangan tahun 2025. Iman Rachman juga menambahkan bahwa rata-rata nilai transaksi harian (RNTH) saham sepanjang 2025 mencapai Rp18,06 triliun, melampaui target BEI yang sebesar Rp13,3 triliun.
Partisipasi investor menunjukkan peningkatan signifikan, dengan total jumlah investor pasar modal yang mencakup saham, obligasi, dan reksa dana melonjak 36,67% dibandingkan tahun sebelumnya, mencapai 20,3 juta investor per 30 Desember 2025. Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) mencatat, khusus investor saham dan surat berharga lainnya, jumlahnya meningkat lebih dari 2,2 juta menjadi 8,59 juta investor. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyoroti dominasi investor muda, di mana 79% dari total investor individu berusia di bawah 40 tahun. Kepala Departemen Pengaturan dan Pengembangan Pasar Modal OJK, Eddy Manindo Harahap, menyebut lonjakan jumlah investor ini mencerminkan keberhasilan strategi inklusi dan literasi keuangan yang konsisten.
Ketua Asosiasi Perusahaan Efek Indonesia (APEI), Prama Nugraha, sebelumnya pada Maret 2025, menekankan pentingnya kolaborasi antar asosiasi untuk memperluas akses pasar reksa dana, mendorong penambahan emisi, dan meningkatkan literasi serta inklusi keuangan. Kerja sama antara APEI, Asosiasi Manajer Investasi Indonesia (AMII), dan Asosiasi Emiten Indonesia (AEI) bertujuan menarik lebih banyak investor untuk berpartisipasi di pasar modal.
Faktor-faktor pendorong kinerja positif ini meliputi stabilitas ekonomi domestik yang tangguh, meskipun sempat menghadapi tekanan dari ketidakpastian global, tensi geopolitik, dan kebijakan tarif Amerika Serikat di awal tahun 2025. Pertumbuhan ekonomi Indonesia diprediksi tetap berada di kisaran 5,0-5,1%, ditopang oleh konsumsi rumah tangga yang kuat dan peningkatan investasi di sektor hilirisasi, infrastruktur, serta manufaktur. Bank Indonesia juga telah menurunkan BI-Rate sebesar 125 basis poin sepanjang 2025 menjadi 4,75% hingga November 2025, yang mendorong peningkatan risk appetite investor.
Meskipun investor asing mencatatkan jual bersih (net sell) sebesar Rp17,34 triliun sepanjang 2025, terutama pada saham-saham likuid seperti perbankan besar, dominasi investor domestik berhasil menopang pasar. Sektor energi dan teknologi menjadi primadona dengan kenaikan indeks sektoral yang signifikan, sementara saham-saham seperti MD Entertainment (FILM) dan United Tractors (UNTR) banyak diborong asing di akhir tahun.
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Inarno Djajadi, menegaskan bahwa kinerja solid ini adalah hasil kolaborasi erat antara OJK, Self-Regulatory Organization (SRO), industri, dan seluruh pemangku kepentingan. Pasar modal Indonesia menunjukkan resiliensi dan daya saing yang semakin menguat, memperkokoh fondasi pasar modal ke depan. Namun, tantangan ke depan meliputi isu geopolitik, arah suku bunga global, serta kebutuhan untuk meningkatkan kualitas investor agar tidak terjebak pada spekulasi semata. Pasar modal Indonesia memasuki tahun 2026 dengan optimisme, namun juga kesadaran akan perlunya pendalaman pasar melalui penyesuaian jumlah saham beredar di publik dan demutualisasi.