Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Mengukur Potensi IHSG Pekan Depan: Investor Pantau Ketat Keputusan The Fed

2025-12-07 | 22:45 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2025-12-07T15:45:41Z
Ruang Iklan

Mengukur Potensi IHSG Pekan Depan: Investor Pantau Ketat Keputusan The Fed

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan akan menghadapi pekan yang penuh dinamika pada 8-12 Desember 2025, dengan sorotan utama tertuju pada keputusan Federal Reserve (The Fed) terkait suku bunga acuan. Pasar global secara luas mengantisipasi The Fed akan memangkas suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin pada pertemuan Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) yang dijadwalkan pada 9-10 Desember 2025 waktu AS. Jika terealisasi, ini akan menjadi pemangkasan ketiga kalinya oleh The Fed tahun ini.

Pada penutupan perdagangan Jumat, 5 Desember 2025, IHSG terpantau melemah tipis 0,09% ke level 8.632,7. Meskipun demikian, indeks sempat menembus rekor intraday baru di level 8.689, menunjukkan tren penguatan yang masih bertahan di atas rata-rata pergerakan MA20, MA50, dan MA200. Secara teknikal, IHSG masih berada dalam tren bullish, namun momentum penguatan mulai melemah, ditandai oleh indikator MACD dan Stochastic RSI yang menunjukkan kondisi jenuh beli.

Ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed umumnya dianggap positif bagi pasar negara berkembang seperti Indonesia. Penurunan suku bunga di Amerika Serikat cenderung membuat aset-aset di pasar emerging market lebih menarik, mendorong masuknya modal asing (capital inflow) ke pasar saham domestik. Hal ini juga berpotensi memperkuat nilai tukar rupiah dan meredakan tekanan inflasi impor, memberikan ruang bagi Bank Indonesia untuk melonggarkan kebijakan moneternya di kemudian hari. Analis memprediksi bahwa peluang pemangkasan suku bunga oleh The Fed yang lebih dari 85% akan meningkatkan sentimen bullish dan memicu level psikologis baru bagi IHSG.

Namun, investor juga perlu mencermati potensi anomali atau respons negatif. Pernah terjadi pada Desember 2024, di mana IHSG justru turun tajam setelah The Fed memangkas suku bunga acuannya. Hal ini disebabkan oleh respons negatif di pasar saham AS yang kemudian merambat ke bursa global, mencerminkan ketidakpastian investor dan aksi jual aset berisiko. Beberapa pejabat The Fed juga menyarankan kehati-hatian agar tidak terlalu agresif dalam memangkas suku bunga jika inflasi belum sepenuhnya terkendali.

Selain keputusan The Fed, pergerakan IHSG pekan depan juga akan dipengaruhi oleh sejumlah data ekonomi penting, baik dari domestik maupun global. Dari dalam negeri, pasar akan menantikan rilis data penjualan sepeda motor November 2025 pada 8 Desember, Indeks Keyakinan Konsumen November 2025 pada 9 Desember, serta data penjualan ritel Oktober 2025 pada 10 Desember. Sementara dari ranah global, data neraca dagang dan inflasi Tiongkok untuk November, serta pembaruan data pasar tenaga kerja AS seperti pembukaan lapangan kerja dan klaim pengangguran, juga akan menjadi perhatian investor.

Menjelang akhir tahun, sentimen "window dressing" atau upaya manajer investasi untuk mempercantik portofolio juga berpotensi memberikan dorongan bagi IHSG. Untuk pekan depan, analis memproyeksikan IHSG akan bergerak dalam rentang 8.600-8.700. Dengan level support terdekat di 8.550, pivot di 8.600, dan resistance di 8.700, potensi penguatan IHSG dinilai terbatas pada awal pekan. Sejumlah saham yang direkomendasikan untuk dicermati antara lain PNLF, TLKM, MEDC, ADMR, MBMA, dan PGEO. TLKM dan UNTR juga disebut-sebut sebagai saham yang bisa menjadi fokus pemodal. Jangka panjang, beberapa sekuritas bahkan memproyeksikan IHSG berpotensi mencapai 9.000 hingga 10.000 pada tahun 2026, didorong oleh ekspektasi penurunan suku bunga global dan pemulihan ekonomi yang berkelanjutan.