Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Lonjakan Belanja Nataru Jadi Peluang Emas Emiten Ritel Tingkatkan Profit

2025-12-24 | 21:52 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2025-12-24T14:52:18Z
Ruang Iklan

Lonjakan Belanja Nataru Jadi Peluang Emas Emiten Ritel Tingkatkan Profit

Para emiten ritel nasional bersiap memanen lonjakan pendapatan signifikan menjelang periode Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru), didukung oleh proyeksi kenaikan konsumsi masyarakat dan strategi promosi agresif. Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) memproyeksikan penjualan ritel akan meningkat hingga 8 persen selama Nataru 2025, melebihi pencapaian periode Lebaran sebelumnya, dengan produk makanan dan minuman (mamin) menjadi kategori paling diminati. Momentum ini, yang secara historis selalu menjadi katalis bagi aktivitas ekonomi, diperkuat oleh optimisme konsumen yang tercermin dari Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) November 2025 yang mencapai 124,0 poin, menunjukkan prospek membaiknya ekonomi.

Kenaikan konsumsi ini bukan hanya fenomena musiman biasa. Bank Indonesia (BI) memprediksi penjualan ritel pada November 2025 tumbuh 5,9% secara tahunan (YoY) dan 1,1% secara bulanan (MoM), didorong oleh lonjakan permintaan masyarakat jelang Nataru serta perbaikan penjualan di berbagai kelompok barang seperti perlengkapan rumah tangga, barang budaya dan rekreasi, suku cadang, dan mamin. Survei Mandiri Spending Index (MSI) juga mengindikasikan penguatan konsumsi rumah tangga yang berkesinambungan menjelang Nataru 2025/2026, menandakan daya beli masyarakat tetap solid dan memberikan optimisme bagi pertumbuhan ekonomi kuartal IV 2025. Mobilitas masyarakat yang meningkat, termasuk lonjakan pembelian tiket kereta api sebesar 3,5% secara mingguan, menjadi indikator kuat tingginya aktivitas perjalanan domestik.

Pemerintah secara aktif mendorong momentum ini, salah satunya melalui peluncuran program "EPIC Sale" oleh Aprindo bersama Kementerian Perdagangan dan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian. Program ini, yang merupakan bagian dari rangkaian promosi belanja sepanjang Desember 2024, menargetkan total transaksi mencapai Rp80 triliun, menjadikannya pendorong utama konsumsi domestik di akhir tahun. Bahkan, total transaksi dari Harbolnas, BINA, dan EPIC Sale 2024 telah mencapai Rp71,5 triliun, didominasi produk lokal. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto juga menargetkan pertumbuhan ekonomi nasional mencapai 5 persen pada periode Nataru akhir tahun 2025, didukung oleh peningkatan konsumsi dan penguatan sektor pariwisata. Bank Indonesia pun mencatat perbaikan konsumsi rumah tangga pada triwulan IV 2025 didukung oleh belanja sosial pemerintah dan keyakinan terhadap penghasilan serta ketersediaan lapangan kerja.

Emiten ritel telah menyiapkan berbagai strategi untuk mengoptimalkan momentum ini. Ketua Umum Aprindo, Roy Nicholas Mandey, mengungkapkan bahwa pengusaha ritel telah mempersiapkan stok barang dan program diskon spesial sejak Oktober 2024, termasuk penawaran produk baru dengan harga terjangkau. Aprindo bahkan menargetkan omzet Rp14,5 triliun selama Nataru 2024-2025 melalui program diskon hingga 70 persen untuk kebutuhan pokok. Emiten seperti PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT), PT Midi Utama Indonesia Tbk (MIDI), PT Aspirasi Hidup Indonesia Tbk (ACES), dan PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI) diproyeksikan akan mendulang keuntungan dari kenaikan konsumsi ini. Kinerja MAPI mencetak pendapatan bersih sebesar Rp30 triliun per September 2025, tumbuh 8,76% YoY, dengan laba bersih naik 5,75% hingga kuartal III-2025. Sementara itu, ERAA membukukan penjualan bersih Rp52,36 triliun selama Januari-September 2025, melonjak 7,72%.

Meskipun prospek terlihat cerah, ada sejumlah faktor yang perlu dicermati. Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) sempat melambat tipis menjadi 127,2 pada Januari 2025 dari 127,7 pada Desember 2024. Kenaikan inflasi pada Januari 2026 juga diperkirakan meningkat, terutama didorong oleh perkiraan kenaikan harga bahan baku, upah, PPN, serta permintaan menjelang Ramadan 1447 H. Inflasi Indonesia diproyeksikan mencapai 2,53% pada 2025. Selain itu, meskipun belanja online masih menjadi primadona, terutama untuk produk fesyen, dinamika belanja online 2025 menunjukkan konsumen menjadi lebih rasional, selektif, dan mencari nilai terbaik ketimbang hanya diskon besar. Kenaikan PPN menjadi 12 persen mulai 1 Januari 2025 juga berpotensi memukul daya beli masyarakat, terutama kelas menengah, yang terlihat dari penurunan tabungan sejak 2019.

Secara historis, konsumsi rumah tangga adalah komponen utama PDB Indonesia, dan momentum Nataru selalu menjadi pendorong signifikan. Pada triwulan IV 2024, ekonomi Indonesia tumbuh 5,02% (YoY) yang didukung oleh konsumsi rumah tangga yang meningkat 4,98% (YoY) selama periode Nataru. Namun, pertumbuhan konsumsi rumah tangga pada kuartal I 2025 diperkirakan melambat menjadi hanya 1% secara tahunan. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun Nataru memberikan dorongan musiman yang kuat, keberlanjutan pertumbuhan konsumsi di luar periode tersebut masih menjadi tantangan. Strategi omnichannel yang mengintegrasikan toko fisik dan online, serta fokus pada keberlanjutan dan pengalaman konsumen, akan menjadi kunci bagi emiten ritel untuk memenangkan hati konsumen di tahun 2025 dan seterusnya.