
Ekonomi Amerika Serikat tumbuh pada laju tahunan 4,3% pada kuartal ketiga 2025, jauh melampaui proyeksi awal para ekonom sebesar 3,3%, didorong oleh pengeluaran konsumen yang kuat, lonjakan ekspor, dan belanja pemerintah yang meningkat. Capaian ini menandai pertumbuhan tercepat dalam dua tahun terakhir, melampaui pertumbuhan 3,8% pada kuartal sebelumnya, meskipun ada perlambatan investasi bisnis. Data yang dirilis oleh Biro Analisis Ekonomi (BEA) pada Selasa, 23 Desember 2025, menunjukkan ketahanan ekonomi AS di tengah kekhawatiran yang masih ada terkait pasar tenaga kerja dan inflasi.
Pertumbuhan PDB yang kuat ini utamanya mencerminkan peningkatan pengeluaran konsumen sebesar 3,5%, laju terkuat sejak kuartal keempat 2024, yang dipimpin oleh belanja untuk barang rekreasi, kendaraan, perjalanan internasional, serta layanan kesehatan. Selain itu, ekspor melonjak tajam 8,8% setelah kontraksi di kuartal kedua, dan belanja pemerintah, khususnya di sektor pertahanan, memberikan dorongan tambahan. Namun, investasi tetap, terutama di sektor perumahan, menunjukkan pelemahan dan menahan laju pertumbuhan secara keseluruhan.
Kontekstualisasi pertumbuhan ini penting mengingat proyeksi yang lebih konservatif sebelumnya. Federal Reserve Atlanta melalui model GDPNow-nya memperkirakan pertumbuhan sebesar 3,5%, sementara Federal Reserve New York memproyeksikan sekitar 2,3% karena ketidakpastian dalam perdagangan bersih dan persediaan. Konsensus ekonom umumnya memperkirakan pertumbuhan tahunan sekitar 3,2% hingga 3,3%. Laporan PDB kuartal ketiga ini, yang sempat tertunda hampir dua bulan akibat penutupan pemerintahan federal, dirilis bersamaan dengan data laba perusahaan.
Meskipun pertumbuhan ekonomi yang kuat ini memberikan kepastian, implikasinya terhadap kebijakan moneter Federal Reserve menjadi sorotan. Data inflasi yang menyertai, dengan indeks harga untuk pembelian domestik naik 3,4%—jauh lebih tinggi dibandingkan 2,0% pada kuartal kedua—dapat mengubah perhitungan The Fed. Sebelumnya, The Fed telah memangkas suku bunga federal funds sebesar 25 basis poin menjadi kisaran 3,5%–3,75% pada pertemuan Desember 2025, sebagai respons terhadap pasar tenaga kerja yang melemah dan inflasi yang masih di atas target 2%. Tingkat inflasi tahunan di AS pada November 2025 tercatat 2,7%, melambat dari 3,0% pada September, namun inflasi inti masih di atas target The Fed.
Ketua The Fed Jerome Powell dan pembuat kebijakan lainnya saat ini menganggap pelemahan pasar tenaga kerja sebagai kekhawatiran yang lebih besar. Data tenaga kerja menunjukkan bahwa meskipun lapangan kerja non-pertanian meningkat 119.000 pada September 2025, tingkat pengangguran juga naik menjadi 4,4%. Biro Statistik Tenaga Kerja bahkan memangkas proyeksi pertumbuhan lapangan kerja dari April 2024 hingga Maret 2025 sebesar 911.000, mengindikasikan pasar kerja yang lebih lemah dari laporan awal. Popularitas kecerdasan buatan (AI) juga diidentifikasi sebagai faktor yang mengikis permintaan pekerja, terutama di posisi entry-level.
Pertumbuhan ekonomi AS yang solid ini, meskipun tidak diimbangi oleh penciptaan lapangan kerja yang sepadan, memicu diskusi tentang "pemulihan berbentuk K" (K-shaped recovery), di mana konsumsi lebih banyak didorong oleh kelompok berpenghasilan tinggi dan perusahaan besar, sementara kelompok menengah ke bawah tertinggal. Hal ini dikaitkan dengan dampak kebijakan Presiden Donald Trump, termasuk tarif impor, yang mendorong kenaikan harga namun juga melindungi rumah tangga berpenghasilan tinggi melalui lonjakan pasar saham dan harga rumah.
Dana Moneter Internasional (IMF) sebelumnya telah merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi AS untuk 2025 menjadi 2,7% pada Januari, naik dari perkiraan sebelumnya, berkat kekuatan permintaan domestik dan pasar tenaga kerja yang solid. Namun, pada April 2025, IMF kembali memangkas proyeksi pertumbuhan AS menjadi 1,8% karena ketidakpastian perang dagang dan lesunya belanja konsumen. Ini menunjukkan betapa cepatnya prospek dapat berubah tergantung pada data ekonomi dan kebijakan yang berlaku.
Ke depan, prospek ekonomi AS akan terus dipengaruhi oleh keseimbangan antara pertumbuhan yang kuat dan tekanan inflasi yang persisten, serta respons kebijakan moneter Federal Reserve. Pasar akan memantau ketat data inflasi dan tenaga kerja, yang akan menjadi penentu utama arah kebijakan suku bunga The Fed di tahun 2026. Kebijakan perdagangan agresif dan ketegangan geopolitik juga tetap menjadi faktor risiko yang dapat memengaruhi rantai pasok global dan prospek ekonomi dunia secara lebih luas.