
Warga di Kecamatan Peusangan, Aceh, bergotong royong memanggul tabung gas elpiji (LPG) melintasi Sungai Tingkeum setelah jembatan utama di Desa Teupin Redeup terputus akibat diterjang banjir bandang. Kondisi darurat ini telah berlangsung sejak 4 Desember 2025, memaksa masyarakat dan tim penyalur energi untuk beradaptasi demi memastikan pasokan kebutuhan rumah tangga tetap terpenuhi.
Putusnya jembatan di Desa Teupin Redeup, yang juga disebut sebagai Jembatan Awe Geutah di Peusangan Siblah Krueng, telah memutus total akses transportasi darat. Bencana banjir dan longsor yang melanda wilayah tersebut sekitar 25-26 November 2025 menyebabkan kerusakan parah pada infrastruktur, termasuk ambruknya Jembatan Kuta Blang di jalan nasional yang menjadi penghubung utama antara Banda Aceh dan Medan. Tercatat, setidaknya 11 jembatan di sepanjang aliran Krueng Peusangan di Kabupaten Bireuen putus akibat banjir bandang tersebut.
Menyikapi keterbatasan akses, PT Pertamina Patra Niaga, bersama tim agen LPG, relawan, dan warga setempat, melakukan distribusi LPG secara manual dan estafet. Mereka memanggul tabung melewati jalur darurat, menyeberangi Sungai Tingkeum, bahkan mengalirkan tabung melalui "sling rail" yang dipasang secara gotong royong. Upaya kolaboratif ini memastikan ratusan tabung LPG berhasil dipindahkan dan disalurkan ke rumah-rumah warga di Kecamatan Peusangan dan sekitarnya.
Area Manager Communication, Relation and CSR Pertamina Patra Niaga Regional Sumatera Bagian Utara, Fahrougi Andriani Sumampouw, menyatakan bahwa aksi ini bukan hanya tentang pengiriman energi, melainkan cerminan keteguhan masyarakat dalam menghadapi kesulitan. "Energi harus tetap merata. Dengan segala keterbatasan yang ada, ini adalah usaha kami memastikan masyarakat tetap mendapatkan layanan energi, terutama LPG," ujarnya, menegaskan komitmen Pertamina untuk menjaga ketersediaan energi di wilayah terdampak bencana.
Pemerintah Provinsi Aceh telah merespons cepat situasi ini. Wakil Gubernur Aceh, Fadhlullah, didampingi Bupati Bireuen, Mukhlis, telah meninjau langsung lokasi jembatan Awe Geutah yang ambruk pada 6 Desember 2025. Pemerintah menargetkan pembangunan jembatan alternatif, yakni jembatan Bailey, akan dilakukan secepat mungkin untuk memulihkan konektivitas dan memastikan distribusi logistik tidak terhenti terlalu lama. Kementerian Pekerjaan Umum (PU) juga telah memulai pembangunan jembatan Bailey di jalur alternatif Bireuen-Lhokseumawe atau Banda Aceh-Medan, khususnya di Desa Teupin Reudeup. Pembangunan jembatan Bailey di Awe Geutah ditargetkan selesai dalam lima hari untuk dapat segera dipergunakan warga. Pemerintah daerah saat ini berkoordinasi dengan BPBD, Dinas PUPR, dan instansi teknis lainnya untuk menyusun skema pembangunan jembatan darurat, sekaligus merancang fondasi jembatan permanen.