
Sembilan perusahaan tekstil raksasa asal China menyatakan minat kuat untuk membangun pabrik di Indonesia, sebuah langkah strategis yang diharapkan dapat memperkuat daya saing industri tekstil dan produk tekstil (TPT) nasional. Ketertarikan ini diungkapkan oleh Wakil Menteri Perindustrian (Wamenperin) Faisol Riza pada Minggu, 7 Desember 2025, di Indonesia Sport Summit 2025, Jakarta. Menurut Faisol, beberapa dari rencana investasi besar ini bahkan sudah mulai berjalan.
Minat perusahaan-perusahaan China ini sebagian besar dipicu oleh hambatan ekspor langsung dari China, terutama ke pasar Amerika Serikat, yang mendorong mereka mencari basis produksi baru. Indonesia dilihat sebagai alternatif strategis setelah sebelumnya banyak yang melirik Vietnam. Relokasi industri ini diharapkan dapat menciptakan banyak lapangan kerja di Indonesia serta meningkatkan volume ekspor negara. Kinerja industri alat olahraga Indonesia sendiri saat ini berada dalam fase kompetitif, dengan Amerika Serikat sebagai tujuan ekspor utama.
Sebagai salah satu realisasi investasi dari China, PT Xinhai Knitting Indonesia telah memulai pembangunan pabrik senilai US$40 juta, setara dengan sekitar Rp 652,2 miliar (kurs 21 Juli 2025) atau Rp 648 miliar (kurs 14 Juli 2025), di Brebes, Jawa Tengah. Pabrik yang akan memiliki luas 8 hektare ini diproyeksikan mampu menyerap hingga 8.000 tenaga kerja dan akan menjadi pemasok bagi jaringan fesyen global seperti H&M. Peletakan batu pertama proyek ini telah dilakukan pada Jumat, 11 Juli 2025, dan rencana produksi ditargetkan mulai Juli 2026.
Kementerian Perindustrian menyambut baik investasi Xinhai, menyebutnya sebagai langkah strategis yang akan memperkuat daya saing sektor TPT nasional di tengah kondisi ekonomi global yang tidak menentu. Pembangunan pabrik ini juga sejalan dengan visi Indonesia untuk mewujudkan sektor manufaktur yang tangguh, inklusif, dan berwawasan lingkungan, dengan rencana penggunaan panel surya dan sistem pengolahan limbah berstandar industri hijau. Sektor TPT sendiri merupakan salah satu sektor prioritas dalam peta jalan pembangunan industri nasional dan telah mencatat pertumbuhan positif 4,64% pada Triwulan I tahun 2025, dengan nilai ekspor mencapai US$3,38 miliar dari Januari hingga April 2025, meningkat 3,57% dari periode yang sama tahun sebelumnya. Saat ini, sektor TPT menyerap lebih dari 3,76 juta tenaga kerja, atau sekitar 19,18% dari total tenaga kerja di sektor manufaktur nasional.
Meskipun ada gelombang investasi baru, industri tekstil Indonesia masih menghadapi tantangan serius. Data menunjukkan adanya penutupan pabrik dan pemutusan hubungan kerja (PHK) yang masif dalam beberapa tahun terakhir, memunculkan kekhawatiran akan deindustrialisasi dini pada sektor padat karya ini. Sekretaris Jenderal Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filament Indonesia (APSyFI), Farhan Aqil Syauqi, menyatakan bahwa tren PHK masih berlanjut di tahun 2025 karena banyaknya perusahaan yang tumbang pada tahun 2023 dan 2024. Lonjakan realisasi investasi di sektor TPT dan alas kaki sebesar 124,9% pada tahun 2024, mencapai Rp4,53 triliun dengan penyerapan 1.907 tenaga kerja, belum sepenuhnya menggantikan investasi yang terhenti akibat penutupan pabrik.
Pemerintah berupaya mengatasi tantangan ini dengan mendorong penguatan struktur industri dan meningkatkan daya saing ekspor melalui kebijakan-kebijakan strategis, termasuk revisi Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) No. 8 Tahun 2024 dan Permendag No. 17 Tahun 2025 untuk menjaga pasar domestik dari banjir produk impor. Selain itu, pemerintah juga sedang mempersiapkan lahan di Kertajati, Majalengka, Jawa Barat, sebagai salah satu lokasi potensial untuk pabrik garmen dari investor China. Investasi yang masuk ini tidak hanya berfokus pada hilir (garmen) tetapi juga pada midstream dan upstream (serat, benang, kain), yang diharapkan dapat menyediakan bahan baku bagi industri dalam negeri dan menyerap lebih dari 41 ribu tenaga kerja ketika beroperasi penuh.