Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Kredit Karbon Indonesia Jadi Buruan Investor Global di COP 30 Brasil

2025-12-01 | 13:44 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2025-12-01T06:44:01Z
Ruang Iklan

Kredit Karbon Indonesia Jadi Buruan Investor Global di COP 30 Brasil

Sebanyak 40 proyek karbon dari 20 perusahaan Indonesia telah menarik minat sejumlah pihak untuk membeli kredit karbon dengan total volume 90.101.796 ton setara karbon dioksida (CO₂e) pada Konferensi Perubahan Iklim COP30 UNFCCC di Belém, Brasil, yang berlangsung dari 10 hingga 21 November 2025. Paviliun Indonesia menjadi pusat perhatian dengan sesi "Seller Meet Buyer" yang untuk pertama kalinya digelar dalam sejarah partisipasi Indonesia di COP UNFCCC, guna memfasilitasi perdagangan karbon secara langsung.

Hingga 17 November 2025, transaksi yang dibukukan di Paviliun Indonesia telah mencapai hampir Rp 7 triliun, dari target pemerintah sebesar Rp 16 triliun untuk 90 juta ton CO2 yang ditawarkan dari 44 proyek selama COP 30. Nilai ini berasal dari penjualan 12 juta ton CO2 berbasis teknologi dan 1,5 juta ton CO2 dari sektor Kehutanan dan Penggunaan Lahan Lain (FOLU), serta beberapa sektor pembangkit. Target keseluruhan dari 44 proyek yang dipamerkan mencapai potensi sekitar 90 juta tCO₂e yang siap memasuki pasar global.

Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq menjelaskan bahwa penawaran kredit karbon Indonesia mencakup Sertifikat Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca (SPE GRK) Indonesia maupun skema sertifikasi lain yang diakui pemerintah. Dari 40 proyek yang ditawarkan, 11 proyek telah tersertifikasi dengan volume 11.413.548 ton CO₂e, 15 proyek dalam proses sertifikasi dengan volume 5.065.163 ton CO₂e, dan 14 proyek lainnya berstatus Project Information Note (PIN) dengan volume 73.623.085 ton CO₂e. Proyek-proyek ini berasal dari sektor energi (21 proyek), FOLU (delapan proyek), dan pengelolaan sampah (11 proyek).

Beberapa perusahaan Indonesia yang terlibat dalam penawaran proyek karbon termasuk Pertamina dengan Pembangkit Listrik Tenaga Biogas (PLTBg) Sei Mangkei, Carbon Ethics dengan Proyek Pulang Pisang Preserve, serta Reforest'Action dengan Proyek Aforestasi dan Penghijauan Bentang Alam Sumba. PT Bursa Efek Indonesia (BEI) melalui IDXCarbon juga mencatat transaksi dan peminatan pembelian hingga 2,75 juta tonCO2 atas kredit karbon Indonesia selama COP 30. Pihak-pihak yang menunjukkan minat atau melakukan transaksi antara lain PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA), Value Network Ventures Pte Ltd, South Pole, Energy Management Indonesia, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, Iklim Muda Sentosa (CarbonEthics), PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA), dan Pertamina (Persero) serta anak usahanya.

Pemerintah Indonesia menargetkan potensi transaksi kredit karbon hingga USD 1 miliar atau sekitar Rp 16 triliun, dengan menjual 90 juta ton kredit karbon dari proyek berbasis alam dan teknologi. Pada forum tersebut, Indonesia juga menandatangani Perjanjian Pengakuan Bersama (MRA) dengan Verra, standar karbon independen terbesar di dunia, yang memungkinkan Indonesia menawarkan hingga 50 juta ton kredit karbon di COP30. Selain itu, Indonesia juga menjalin kerja sama dengan Pemerintah Swedia untuk mempercepat penurunan emisi melalui skema nilai ekonomi karbon.

Meskipun potensi pasar karbon Indonesia diakui besar, dengan perkiraan 13,4 miliar ton CO2e antara 2024 dan 2050, ada tantangan terkait harga. Utusan Khusus Presiden Bidang Iklim dan Energi, Hashim Djojohadikusumo, menyoroti perbedaan harga kredit karbon berbasis hutan Indonesia yang berkisar US$8-US$10 per ton, jauh di bawah harga di Eropa yang bisa mencapai US$50-US$100 per ton. Pemerintah Indonesia sendiri telah meluncurkan perdagangan karbon internasional pada Januari 2025, dengan harga kredit karbon yang ditawarkan di pasar internasional seharga Rp 96.000 per ton untuk unit Indonesia Technology Based Solution (IDTBS) dan Rp 144.000 per ton untuk unit IDTBS Renewable Energy (IDTBS-RE).