:strip_icc()/kly-media-production/medias/4658968/original/005284800_1700652026-Screenshot_2023-11-22_181850.jpg)
PT Krakatau Steel Tbk (KRAS) mengamankan fasilitas pinjaman pemegang saham senilai maksimal Rp 4,93 triliun (sekitar US$ 295 juta) dari PT Danantara Asset Management (DAM) pada 19 Desember 2025, sebagai bagian integral dari upaya restrukturisasi dan penyehatan perusahaan baja milik negara tersebut. Dana segar ini, yang ditujukan untuk memperkuat modal kerja dan mendukung keberlanjutan operasional, menandai langkah krusial dalam perjalanan panjang KRAS mengatasi tantangan keuangan dan operasional.
Transaksi pinjaman ini dibagi menjadi dua komponen utama. Sebesar Rp 4,18 triliun akan dialokasikan sebagai pinjaman modal kerja dengan tenor minimal lima tahun, yang utamanya akan digunakan untuk pembelian bahan baku pabrik Hot Strip Mill (HSM) dan Cold Rolled Mill (CRM), serta memenuhi kebutuhan bahan baku pabrik pipa. Sisanya, Rp 752,81 miliar, memiliki tenor minimal enam tahun dan diperuntukkan bagi program pengunduran diri sukarela melalui skema Golden Handshake, serta penyehatan Dana Pensiun Krakatau Steel melalui mekanisme Lump Sum Window.
Keputusan pendanaan ini muncul di tengah kenyataan bahwa kinerja operasional KRAS belum sepenuhnya optimal, meskipun perusahaan telah menjalani berbagai upaya restrukturisasi pada tahun 2019 dan 2024. Manajemen KRAS menyatakan bahwa operasional perseroan sangat bergantung pada kinerja pabrik HSM sebagai tulang punggung produksi baja. Dukungan pendanaan ini sangat dibutuhkan untuk menjaga kelangsungan usaha dan mendukung pemulihan bisnis baja pasca penyelesaian perbaikan HSM, serta menjaga keberlanjutan program restrukturisasi utang yang telah efektif sejak Oktober 2025.
Dalam konteks historis, Krakatau Steel telah bergulat dengan masalah utang dan profitabilitas selama bertahun-tahun. Pada awal tahun 2020, perusahaan berhasil merestrukturisasi utang senilai US$2 miliar (sekitar Rp 27 triliun) dengan 10 kreditur, sebuah langkah yang disebut oleh Menteri BUMN Erick Thohir sebagai restrukturisasi utang terbesar dalam sejarah Indonesia. Restrukturisasi tersebut menghasilkan penghematan biaya bunga dan operasional yang signifikan. Namun, gejolak pasar baja global, persaingan ketat dari impor baja murah, dan insiden kebakaran di salah satu fasilitas pabrik pada tahun 2023 kembali memperumit kondisi keuangan KRAS, menyebabkan kerugian pada tahun 2023 setelah tiga tahun profitabilitas. Pada kuartal I 2025, KRAS masih membukukan rugi bersih sebesar US$46,91 juta, meskipun pendapatan meningkat.
Persetujuan untuk transaksi material ini, yang melebihi 20% dari total ekuitas perusahaan, telah didapatkan dari BP BUMN selaku Wakil Pemerintah Pusat pada 2 Desember 2025, dan disetujui oleh Dewan Komisaris Perseroan pada 3 Desember 2025. Managing Director Danantara Indonesia, Febriany Eddy, menyatakan bahwa pertimbangan pemberian dana kepada Krakatau Steel telah mencapai tahap akhir pada November 2025, menekankan potensi besar perusahaan BUMN tersebut dengan lokasi operasional strategis yang dilengkapi akses tol, jalur kereta, dan pelabuhan laut dalam.
Implikasi jangka panjang dari suntikan dana ini diharapkan dapat memberikan likuiditas yang lebih kuat bagi KRAS, memungkinkan operasional berjalan lebih optimal, menekan biaya produksi, meningkatkan volume produksi dan penjualan, serta memperbaiki daya saing produk perseroan. Langkah ini juga bertujuan mengurangi ketergantungan pada pembiayaan pihak ketiga yang selama ini menambah beban biaya. Krakatau Steel mencatatkan laba bersih US$24 juta pada Kuartal III 2025, menandai momentum positif dari efektivitas restrukturisasi kewajiban dan peningkatan efisiensi operasional. Volume produksi baja konsolidasi hingga kuartal III 2025 mencapai 740 ribu ton, meningkat dari 540 ribu ton pada periode yang sama tahun sebelumnya. Namun, keberhasilan final akan sangat bergantung pada efisiensi operasional berkelanjutan dan kemampuan KRAS untuk beradaptasi dengan dinamika pasar baja yang kompetitif.