Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

KEK Industropolis Batang Raih Investasi Rp 4,87 Triliun Sepanjang 2025

2025-12-27 | 06:04 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2025-12-26T23:04:41Z
Ruang Iklan

KEK Industropolis Batang Raih Investasi Rp 4,87 Triliun Sepanjang 2025

Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Industropolis Batang, yang berada di bawah Holding BUMN Danareksa, berhasil menarik investasi senilai Rp4,87 triliun sepanjang tahun 2025, memanfaatkan lahan seluas 93,67 hektare. Capaian ini menegaskan posisi KEK Batang sebagai salah satu motor penggerak utama dalam agenda industrialisasi nasional, didukung oleh masuknya 12 investor dari berbagai negara termasuk Hong Kong, Singapura, Malaysia, Indonesia, dan Tiongkok.

Investasi signifikan ini telah memicu optimisme, dengan proyeksi penyerapan lebih dari 9.000 tenaga kerja langsung, memberikan dampak ekonomi substansial bagi masyarakat Batang dan Jawa Tengah. Direktur Utama KEK Industropolis Batang, Ngurah Wirawan, menyatakan bahwa realisasi investasi ini merefleksikan peningkatan kepercayaan investor global terhadap kawasan tersebut. "Capaian tahun ini menunjukkan bahwa kita berada di jalur yang tepat dalam mendorong realisasi investasi industri nasional,” ujar Ngurah Wirawan. Presiden Prabowo Subianto, saat meresmikan KEK Industropolis Batang pada 20 Maret 2025, juga menyoroti potensi kawasan ini untuk berkembang menjadi "Shenzhen-nya Indonesia", sebuah pusat industri maju yang mampu bersaing secara global.

Sejak diresmikan sebagai Proyek Strategis Nasional (PSN), KEK Industropolis Batang memang dirancang sebagai hub industri modern yang beragam. Sektor-sektor yang telah menarik investasi meliputi industri baterai, otomotif, alat kesehatan, garmen, furnitur luar ruang, makanan dan minuman, alas kaki, baja, tekstil, hingga kemasan. PT LBM Energi Baru Indonesia, yang bergerak di industri kendaraan listrik (EV), menjadi salah satu investor skala besar dengan pemanfaatan lahan terbesar tahun ini, mencapai 31,72 hektare, memperkuat rantai pasok EV nasional. Sementara itu, Yotrio/JJD Outdoors, produsen furnitur luar ruang berorientasi ekspor, memberikan kontribusi signifikan terhadap proyeksi kebutuhan tenaga kerja untuk memenuhi pasar Amerika Serikat dan Eropa. Beberapa perusahaan, seperti PT Fondfashion Seamless Garment, telah memulai operasional lebih awal dengan memanfaatkan fasilitas Bangunan Pabrik Siap Pakai (BPSP), sementara investor lainnya dijadwalkan beroperasi secara bertahap hingga tahun 2028.

Namun, di balik narasi pertumbuhan ekonomi, analisis dari Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (LPPM Unusia) menyoroti adanya "backwash effect" atau efek limpahan balik, di mana manfaat ekonomi dari industrialisasi cenderung terkonsentrasi di pusat industri tanpa terdistribusi merata ke wilayah sekitarnya. Peneliti LPPM Unusia, Nugroho Habibi, mengungkapkan perbedaan signifikan dalam tingkat kemiskinan antar-desa di sekitar kawasan KEK. Sebagai contoh, pada tahun 2023, Desa Ketanggan yang berdekatan dengan industri mencatat tingkat kemiskinan 8,25 persen, sementara Desa Madugowongjati yang lebih jauh memiliki tingkat kemiskinan 21,19 persen. Habibi juga menyoroti ketidaksesuaian antara keterampilan tenaga kerja lokal dengan kebutuhan industri, menunjukkan bahwa target penyerapan 70 persen tenaga kerja lokal sesuai Perda Kabupaten Batang No. 1 Tahun 2025 belum sepenuhnya tercapai. Program pelatihan tenaga kerja baru dinilai terlambat, baru intensif berjalan dalam dua tahun terakhir, padahal kawasan ini telah beroperasi sejak tahun 2020, mengindikasikan ketidaksiapan pemerintah daerah dalam mengantisipasi perubahan struktur ketenagakerjaan.

Melihat ke depan, pemerintah Indonesia memperkuat kerja sama strategis melalui inisiatif "Two Countries, Twin Parks" (TCTP) dengan Tiongkok, yang akan mengintegrasikan KEK Industropolis Batang dengan kawasan industri di Provinsi Fujian, Tiongkok. Pada akhir November lalu, pertemuan antara Pemerintah Kota Fuzhou dan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia menghasilkan 16 Memorandum of Understanding (MoU) investasi senilai Rp36,4 triliun yang direncanakan masuk ke KEK Industropolis Batang, dengan eksekusi proyek dimulai tahun depan. Investasi ini akan mencakup sektor-sektor prioritas seperti mineral dan logam (nikel, baja), pengolahan pangan dan kelautan, industri perikanan terpadu, pengembangan energi matahari dan sistem penyimpanan energi, hingga riset dan kolaborasi di bidang kecerdasan buatan. Kerja sama TCTP ini diharapkan tidak hanya menarik investasi lebih lanjut dan menciptakan lapangan kerja, tetapi juga memperkuat basis industri nasional, mendorong peningkatan ekspor, substitusi impor, dan peningkatan nilai tambah produk dalam negeri. Transformasi ini menunjukkan KEK Industropolis Batang bukan hanya sekadar pengelola lahan industri, melainkan pengelola kawasan industri modern berstandar global yang berpotensi menjadi motor pertumbuhan ekonomi baru bagi Indonesia.