
Mata uang rupiah terus menghadapi dinamika dari kebijakan ekonomi di Amerika Serikat, yang kerap disebut Negeri Paman Sam. Meskipun belakangan ini rupiah menunjukkan penguatan, gejolak kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed) tetap menjadi faktor penentu utama arah nilai tukar rupiah ke depan.
Pada pembukaan perdagangan Senin, 1 Desember 2025, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terpantau menguat, dengan ditutup di level Rp16.655 per dolar AS, naik 20 poin atau 0,12 persen dari penutupan sebelumnya di Rp16.675 per dolar AS. Penguatan ini berlanjut ke Rp16.658 per dolar AS pada hari yang sama, didorong oleh sentimen pelemahan mata uang Paman Sam. Sepanjang 52 minggu terakhir, nilai tukar rupiah bergerak dalam rentang Rp15.828 hingga Rp17.224.
Pergerakan positif rupiah ini sebagian besar didorong oleh meningkatnya ekspektasi pasar terhadap pemangkasan suku bunga acuan The Fed. Bank sentral AS memang telah memangkas suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps) pada September 2025, menurunkan suku bunga menjadi 4-4,25 persen. Para ekonom memperkirakan The Fed akan kembali menurunkan suku bunga dua kali lagi pada akhir Oktober dan Desember 2025. Spekulasi bahkan menyebutkan adanya potensi pergantian Ketua The Fed kepada sosok yang lebih dovish seperti Kevin Hassett, yang dapat mendorong pemangkasan suku bunga yang lebih agresif. Bank Indonesia (BI) sendiri memproyeksikan suku bunga The Fed akan turun ke sekitar 4 persen pada 2025 dan 3,5 persen pada akhir 2026, yang berpotensi mendorong aliran modal kembali ke negara-negara berkembang seperti Indonesia.
Di sisi inflasi, Amerika Serikat mencatat inflasi 2,7 persen secara tahunan pada Juli 2025. Angka ini sedikit meningkat menjadi 3 persen pada September 2025, dari 2,90 persen di bulan Agustus. Sementara itu, pertumbuhan ekonomi AS menunjukkan sinyal beragam. Setelah melambat tajam pada kuartal I 2025 dengan kontraksi 0,3 persen, Produk Domestik Bruto (PDB) AS tumbuh 3,3 persen pada kuartal II 2025 dan bahkan melampaui estimasi dengan pertumbuhan 3,8 persen secara tahunan pada kuartal yang sama. Meskipun demikian, ancaman resesi ekonomi AS pada paruh kedua 2025 sempat menjadi kekhawatiran akibat perang tarif yang berdampak pada hubungan dagang dan potensi capital outflow dari Indonesia.
Dalam menghadapi dinamika eksternal, Bank Indonesia telah mengambil langkah proaktif. Sejak September 2024, BI telah memangkas BI Rate secara bertahap, total 125 bps hingga September 2025. Terakhir, BI mempertahankan BI-Rate di level 4,75 persen, menjaga stabilitas di tengah ketidakpastian global dan arah suku bunga kebijakan AS. BI juga mencatat aliran modal asing keluar (capital outflow) senilai Rp4,58 triliun pada awal November 2025, terutama dari pasar Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Secara kumulatif, hingga 6 November 2025, nonresiden mencatat jual neto sebesar Rp39,13 triliun di pasar saham, Rp0,91 triliun di SBN, dan Rp137,71 triliun di SRBI. Namun, pada pekan terakhir November 2025 (24-27 November), aliran modal asing justru tercatat masuk bersih sebesar Rp12,70 triliun ke pasar keuangan domestik, yang terdiri dari beli neto di pasar saham, SBN, dan SRBI.
Gubernur BI, Perry Warjiyo, menegaskan bahwa arah kebijakan moneter 2026 akan tetap pro-stabilitas dan pro-pertumbuhan. Bank Indonesia terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah dan otoritas terkait, serta mengoptimalkan strategi bauran kebijakan untuk mendukung ketahanan eksternal ekonomi Indonesia. BI memproyeksikan pertumbuhan ekonomi nasional untuk tahun 2026 akan mencapai 4,9–5,7 persen dan meningkat menjadi 5,1–5,9 persen pada 2027. Hal ini menunjukkan optimisme Bank Indonesia dalam menavigasi tantangan global demi stabilitas dan pertumbuhan ekonomi domestik.