
Dana Moneter Internasional (IMF) baru-baru ini menyelesaikan evaluasi komprehensif terhadap kinerja ekonomi Malaysia, menyoroti ketahanan negara tersebut di tengah ketidakpastian global. IMF memuji fundamental ekonomi Malaysia yang kuat, kebijakan makroekonomi dan keuangan yang bijaksana, serta permintaan domestik yang solid sebagai pendorong utama pertumbuhan.
Menurut pernyataan IMF, ekonomi Malaysia tumbuh pada laju yang sehat di tahun 2025, didukung oleh konsumsi dan investasi domestik yang kuat, pertumbuhan lapangan kerja yang solid, dan siklus naik di sektor teknologi global. Produk Domestik Bruto (PDB) Malaysia mencatat pertumbuhan 5,2 persen pada kuartal ketiga tahun 2025. Selain itu, perjanjian perdagangan Malaysia-Amerika Serikat pada Oktober 2025 juga turut membantu mengurangi ketidakpastian bagi bisnis dan konsumen.
Meskipun prospek jangka pendek tetap positif, IMF memproyeksikan pertumbuhan akan sedikit melambat dari 4,6 persen pada tahun 2025 menjadi 4,3 persen pada tahun 2026, terutama mencerminkan dampak tarif AS yang lebih tinggi terhadap Malaysia. Proyeksi pertumbuhan PDB riil Malaysia pada tahun 2025 telah dipertahankan di angka 4,5 persen oleh IMF pada Oktober 2025. Risiko penurunan utama berasal dari faktor eksternal seperti melemahnya permintaan global, gangguan perdagangan akibat peristiwa geopolitik, volatilitas pasar keuangan, dan potensi koreksi di sektor kecerdasan buatan (AI). Namun, potensi kenaikan juga ada dari sektor pariwisata yang lebih kuat dari perkiraan, kemajuan dalam negosiasi perdagangan global, dan percepatan implementasi reformasi struktural.
Terkait inflasi, IMF mencatat bahwa inflasi rata-rata 1,4 persen selama Januari-Oktober 2025. Lembaga tersebut memproyeksikan inflasi akan tetap stabil dan secara bertahap kembali ke rata-rata jangka panjang sebesar 2 persen. Dalam konteks ini, IMF menilai sikap kebijakan moneter saat ini sebagai tepat, dan menekankan perlunya kebijakan moneter yang tetap bergantung pada data untuk menjaga ekspektasi inflasi dan melindungi pertumbuhan di tengah ketidakpastian global yang meningkat. Bank Negara Malaysia (BNM) telah mempertahankan suku bunga kebijakan semalam (OPR) di 3,0 persen sejak Mei 2023.
Dalam hal kebijakan fiskal, IMF menyambut baik komitmen pemerintah Malaysia terhadap konsolidasi fiskal, yang ditunjukkan oleh pengesahan Undang-Undang Keuangan Publik dan Tanggung Jawab Fiskal pada tahun 2023 dan pengurangan defisit fiskal yang stabil sejak tahun 2022. IMF menyambut baik rencana pihak berwenang untuk mengurangi defisit fiskal lebih lanjut menjadi 3,5 persen dari PDB pada tahun 2026 dan menjadi 3,0 persen dari PDB pada tahun 2028. Namun, utang pemerintah federal yang mencapai 64,6 persen dari PDB pada akhir 2024, masih di atas tingkat pra-pandemi, menggarisbawahi pentingnya terus membangun kembali penyangga fiskal melalui langkah-langkah pendapatan dan pengeluaran yang berkualitas tinggi dan berkelanjutan.
IMF juga menekankan pentingnya reformasi struktural yang cepat di bawah Rencana Malaysia ke-13 (2026-2030), termasuk reformasi pasar tenaga kerja, peningkatan partisipasi angkatan kerja wanita, dan integrasi ASEAN yang lebih dalam untuk mendorong pertumbuhan yang berkelanjutan dan inklusif.
Perdana Menteri Datuk Seri Anwar Ibrahim menyambut baik penilaian IMF ini, menegaskan bahwa prioritas pemerintah tetap pada pengelolaan stabilitas ekonomi yang bertanggung jawab dan memastikan manfaatnya dirasakan oleh seluruh rakyat Malaysia melalui peluang kerja yang aman dan adil. Senada, Menteri Keuangan II Datuk Seri Amir Hamzah Azizan menyatakan bahwa penilaian IMF mencerminkan manajemen fiskal yang bijaksana, permintaan domestik yang kuat, dan komitmen terhadap reformasi struktural di bawah kerangka Ekonomi MADANI. Ekonom Associate Professor Ahmed Razman Abdul Latiff dari Putra Business School dan Dr Yeah Kim Leng dari Sunway University juga mengamini bahwa evaluasi positif IMF ini menegaskan ketahanan dan fundamental ekonomi Malaysia yang solid.