
Perbaikan infrastruktur di Indonesia terus digencarkan, mencakup pembenahan Jalur Pantura serta percepatan pembangunan Jalan Tol Yogyakarta-Bawen dan Jalan Tol Gedebage-Tasikmalaya-Cilacap (Getaci). Langkah ini diharapkan mampu meningkatkan konektivitas antarwilayah, mendukung pertumbuhan ekonomi, dan menjamin kenyamanan pengguna jalan.
Pembenahan Jalur Pantura Hadapi Tantangan Jelang Arus Mudik dan Liburan
Jalur Pantai Utara (Pantura) Jawa, urat nadi transportasi darat, telah dan terus menjalani perbaikan intensif. Wakil Menteri Pekerjaan Umum (Wamen PU) RI, Diana Kusumastuti, menyatakan bahwa perbaikan jalan di sepanjang Pantura dari Banyuwangi hingga Jakarta ditargetkan selesai pada H-10 Idulfitri 2025. Fokus perbaikan mencakup penutupan lubang jalan dengan patching aspal dan pengerjaan timbunan.
Di beberapa titik, seperti ruas Brebes-Tegal, peningkatan jalan senilai Rp62 miliar sedang berlangsung dengan metode rigid pavement atau cor beton, ditargetkan rampung akhir November 2025. Metode ini dipilih mengingat tingginya intensitas lalu lintas dan beban berat kendaraan logistik. Pekerjaan serupa juga dilakukan di Pantura Demak dan Semarang, termasuk peninggian jalan hingga 100 sentimeter dan pengerasan beton setebal 31 cm di Kaligawe, dengan target selesai akhir Desember 2025.
Anggota Komisi V DPR RI, Daniel Mutaqien Syafiuddin, memastikan perbaikan jalan arteri Pantura, khususnya di Indramayu dan Cirebon, akan tuntas sebelum arus mudik Lebaran 2025. Namun, ia juga menyoroti kondisi penerangan jalan umum (PJU) yang mati di sejumlah titik, yang perlu segera diperbaiki.
Meskipun demikian, Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo mengakui adanya keterlambatan penanganan infrastruktur di Jalur Pantura menjelang libur Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru). Hal ini berdampak pada penurunan tingkat kemantapan jalan nasional di wilayah Jawa Tengah dan Yogyakarta menjadi 88,86%, di bawah rata-rata nasional. Untuk mengantisipasi, Kementerian PU menyiagakan 19 Posko Nataru yang dilengkapi dengan Disaster Relief Unit (DRU) di Jawa Tengah, guna merespons 24 titik rawan bencana (15 banjir, 9 longsor). Selain itu, perbaikan perlintasan kereta api di Pantura Probolinggo juga dilakukan hingga 18 Desember 2025, yang sempat memicu kemacetan panjang.
Progres Signifikan Tol Yogyakarta-Bawen, Seksi Prioritas Rampung Lebih Awal
Pembangunan Jalan Tol Yogyakarta-Bawen sepanjang total 75,12 kilometer, yang terbagi menjadi enam seksi, terus dikebut. Proyek ini diharapkan dapat memangkas waktu tempuh antara Yogyakarta dan Semarang menjadi sekitar satu jam, serta memperlancar konektivitas kawasan Joglosemar.
PT Jasamarga Jogja Bawen (JJB) menargetkan Seksi 1 (Yogyakarta-Banyurejo) dan Seksi 6 (Ambarawa-Bawen) rampung pada tahun 2026. Hingga Oktober 2025, progres konstruksi Seksi 1 (Yogyakarta-Banyurejo) sepanjang 8,80 kilometer telah mencapai 83%, dengan target penyelesaian Triwulan 2 tahun 2026. Pembebasan lahannya juga hampir tuntas, mencapai 98,73% per Desember 2025. Sementara itu, Seksi 6 (Ambarawa-Bawen) sepanjang 4,98 kilometer menunjukkan progres konstruksi 74% per Oktober 2025, atau hampir 70% per Juni 2025, dan ditargetkan selesai serta dapat beroperasi pada Desember 2025. Seksi 6 menjadi prioritas karena akan langsung terhubung dengan Jalan Tol Semarang-Solo yang sudah eksisting.
Secara keseluruhan, pembebasan lahan untuk Jalan Tol Yogyakarta-Bawen telah terealisasi sekitar 70% hingga pertengahan Desember 2025, dan ditargetkan tuntas 100% pada akhir tahun 2026. Adapun pembangunan seluruh seksi tol ini diperkirakan akan selesai pada tahun 2030. Kendala efisiensi anggaran sempat memunculkan kemungkinan revisi pembiayaan untuk seksi 2-5, yang berpotensi memengaruhi jadwal konstruksi pada seksi-seksi tersebut.
Jalan Tol Getaci: Proyek Strategis Nasional dengan Tantangan Pembebasan Lahan
Jalan Tol Gedebage-Tasikmalaya-Cilacap (Getaci), yang digadang-gadang akan menjadi jalan tol terpanjang di Indonesia dengan total panjang 206,65 kilometer, telah resmi masuk dalam daftar Proyek Strategis Nasional (PSN) 2025. Proyek ini akan dibangun dalam dua tahap, dimulai dengan tahap 1 ruas Gedebage-Tasikmalaya sepanjang 95,52 kilometer, yang direncanakan mulai konstruksi pada tahun 2026 dan ditargetkan beroperasi penuh tahun 2029.
Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo menegaskan bahwa proyek ini menggunakan skema multi years sehingga pembangunan tidak akan terhenti setiap pergantian tahun anggaran. Ia berharap proyek ini dapat selesai pada tahun 2026 jika memungkinkan.
Proses pembebasan lahan, khususnya untuk tahap 1 (Gedebage-Tasikmalaya), terus dikebut. Pembayaran Uang Ganti Rugi (UGR) telah dimulai di Kabupaten Bandung dan Garut. Di Kabupaten Garut, progres pembebasan lahan telah mencapai 50%, dengan lima desa tuntas dan 2.200 bidang tanah telah dibebaskan per November 2025. Namun, Komisi III DPRD Kabupaten Tasikmalaya pada November 2025 melaporkan bahwa pembebasan lahan di wilayah Kabupaten Tasikmalaya masih sangat jauh, baru sebagian di Garut, dan terdapat kenaikan harga tanah yang signifikan. Bappenas bahkan memprediksi pembangunan mungkin baru dimulai pada tahun 2027.
Sebelumnya, pada awal tahun 2025, proyek Tol Getaci sempat mengalami kevakuman proses pembebasan lahan selama berbulan-bulan akibat kebijakan efisiensi anggaran dan sempat tidak tercantum dalam PSN di awal pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Namun, proyek ini akhirnya kembali menemukan kepastian dan akan dilelang ulang pada tahun 2026. Meski demikian, terdapat revisi rencana bentangan proyek yang menyusut menjadi sekitar 95,52 kilometer, hanya sampai Tasikmalaya, dari rencana semula hingga Cilacap. Kualitas layanan jalan yang rendah di ruas Bandung-Tasikmalaya menjadi salah satu alasan kuat pentingnya pembangunan Tol Getaci untuk meningkatkan konektivitas dan mendukung perekonomian.