
Lebih dari 829.000 kendaraan telah meninggalkan wilayah Jabodetabek menuju berbagai destinasi sejak H-7 hingga H-3 menjelang Hari Raya Natal 2025, periode 18-23 Desember 2025, mencerminkan pola pergerakan masif masyarakat yang dipengaruhi oleh libur panjang akhir tahun dan adaptasi kebijakan kerja. PT Jasa Marga (Persero) Tbk mencatat angka kumulatif ini meningkat 10,1 persen dibandingkan lalu lintas normal sebesar 753.284 kendaraan pada periode yang sama. Puncak arus kendaraan keluar Jakarta ini diprediksi akan terjadi pada 24 Desember 2025.
Fenomena eksodus tahunan ini menyoroti kapasitas infrastruktur jalan tol di Indonesia, khususnya yang menghubungkan Ibu Kota dengan daerah-daerah di Jawa. Mayoritas kendaraan, sekitar 377.497 unit atau 45,5 persen, bergerak ke arah Timur melalui jalur Trans Jawa dan Bandung. Sementara itu, 254.004 kendaraan (30,6 persen) mengarah ke Barat menuju Merak, dan 197.722 kendaraan (23,8 persen) memilih jalur Selatan menuju Puncak. Gerbang Tol Cikampek Utama, sebagai pintu gerbang utama menuju Trans Jawa, mencatat peningkatan volume lalu lintas sebesar 26,2 persen dengan 189.046 kendaraan melintas. Demikian pula, Gerbang Tol Kalihurip Utama yang mengarah ke Bandung mengalami kenaikan 14,8 persen dengan 188.451 kendaraan.
Direktur Utama Jasa Marga, Rivan A. Purwantono, menyatakan bahwa perubahan pola perjalanan, termasuk dampak dari kebijakan Work From Anywhere (WFA), menjadi faktor penting dalam perencanaan operasional Nataru 2025/2026. Rivan juga menegaskan bahwa Jasa Marga telah mengintensifkan koordinasi lintas instansi guna memastikan layanan jalan tol tetap andal melalui sistem monitoring real-time, penambahan personel di titik rawan kemacetan, pengaturan lalu lintas bersama Kepolisian, dan optimalisasi fasilitas di rest area. Untuk periode Nataru 2025/2026 secara keseluruhan, Kepala Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) Kementerian Pekerjaan Umum, Wilan Oktavian, memproyeksikan sebanyak 2,9 juta kendaraan akan meninggalkan Jakarta, meningkat 12,2 persen dari kondisi lalu lintas normal harian dan sedikit naik 0,9 persen dari periode Nataru 2024/2025.
Peningkatan mobilitas ini bukan sekadar statistik, melainkan juga cerminan dari tantangan berkelanjutan bagi infrastruktur nasional dan manajemen lalu lintas. Korps Lalu Lintas (Korlantas) Polri, melalui Operasi Lilin 2025 yang dimulai 20 Desember 2025, memfokuskan perhatian pada tiga klaster persoalan utama, termasuk titik-titik krusial kemacetan di jalan tol. Kesiapan infrastruktur menjadi krusial, terutama dengan adanya prediksi cuaca ekstrem seperti hujan intensitas tinggi, gelombang tinggi, dan angin kencang yang dapat memperburuk kondisi perjalanan. Kementerian Pekerjaan Umum juga telah mengoperasikan secara fungsional beberapa ruas tol baru, seperti Tol Yogyakarta-Bawen Seksi Ambarawa-Bawen dan Tol Probolinggo-Banyuwangi ruas Gending-Paiton, sebagai upaya mengurai kepadatan di jalur utama non-tol. Wilan Oktavian menekankan bahwa periode Nataru berfungsi sebagai "ajang simulasi" penting sebelum menghadapi skala pergerakan yang lebih besar pada musim Lebaran. Hal ini menunjukkan bahwa tantangan infrastruktural akibat mobilitas masif tahunan terus mendorong inovasi dan adaptasi dalam perencanaan transportasi nasional.