Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Ekonomi Manufaktur RI Dominasi ASEAN: Capaian Nilai Tambah Kalahkan Vietnam-Thailand

2025-12-15 | 22:24 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2025-12-15T15:24:46Z
Ruang Iklan

Ekonomi Manufaktur RI Dominasi ASEAN: Capaian Nilai Tambah Kalahkan Vietnam-Thailand

Sektor manufaktur Indonesia telah mengukuhkan posisinya sebagai yang tertinggi di ASEAN dalam hal nilai tambah manufaktur (Manufacturing Value Added/MVA), mengungguli negara-negara tetangga seperti Vietnam dan Thailand. Capaian ini menempatkan Indonesia pada peringkat ke-13 secara global pada tahun 2024, dengan nilai MVA mencapai US$265,07 miliar atau setara Rp4.400 triliun (dengan kurs Rp16.600). Angka ini jauh di atas rata-rata MVA global yang hanya US$78,73 miliar.

Menurut data Bank Dunia yang dikutip oleh Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita, nilai MVA Indonesia pada tahun 2023 tercatat sebesar US$255 miliar, menempatkannya di peringkat ke-12 dunia. Posisi ini jauh melampaui Thailand yang berada di urutan kedua di kawasan Asia Tenggara dengan nilai MVA US$128,04 miliar (data 2024/2023) dan Vietnam di posisi ketiga dengan US$116,38 miliar (data 2024) atau US$102 miliar (data 2023).

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menekankan bahwa ukuran ekonomi dan manufaktur Indonesia, termasuk penciptaan MVA, jauh lebih besar dibandingkan Vietnam. Ia juga optimis bahwa Indonesia akan mampu menyusul MVA negara-negara lain di Asia dalam beberapa tahun ke depan, meskipun saat ini masih di bawah Tiongkok, Jepang, India, dan Korea Selatan.

Sektor industri manufaktur terus menjadi pilar utama perekonomian nasional, memberikan kontribusi signifikan terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Pada triwulan III 2024, industri manufaktur menyumbang 17,18 persen terhadap PDB, dan meningkat menjadi 19,13 persen pada triwulan IV 2024. Kontribusi rata-rata industri manufaktur terhadap PDB nasional pada tahun 2024 adalah 18,98 persen. Sektor industri pengolahan nonmigas pada triwulan I 2024 bahkan menjadi penyumbang PDB nasional terbesar, yakni 17,47 persen dengan pertumbuhan 4,64 persen, dan memberikan penerimaan pajak terbesar hingga 26,9 persen.

Peningkatan MVA Indonesia sebesar 36,4 persen dari tahun 2022 (US$187 miliar) ke tahun 2023 (US$255 miliar) menunjukkan pertumbuhan positif yang konsisten. Kinerja sektor ini juga tercermin dari Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur Indonesia yang sering kali berada di zona ekspansi (di atas 50). Pada Oktober 2025, PMI manufaktur Indonesia meningkat ke level 51,2, menunjukkan ekspansi selama tiga bulan berturut-turut sejak Agustus. Demikian pula, pada Maret 2024, PMI Manufaktur Indonesia mencapai 54,2, melampaui negara-negara seperti Malaysia, Thailand, Vietnam, Jepang, Korea Selatan, Jerman, Prancis, dan Inggris yang masih berada di fase kontraksi.

Keberhasilan ini didorong oleh beberapa faktor kunci, termasuk transformasi struktural dan program hilirisasi industri yang mendorong pengolahan bahan mentah menjadi produk bernilai tambah tinggi. Kebijakan pemerintah yang pro-investasi dan pro-bisnis, seperti insentif fiskal, kemudahan perizinan, dan pembangunan kawasan industri, juga turut menarik investasi. Selain itu, adopsi teknologi Industri 4.0, seperti otomatisasi dan digitalisasi, serta inovasi produk, telah meningkatkan efisiensi dan daya saing global. Pasar domestik yang besar juga menjadi salah satu kekuatan pendorong utama bagi industri manufaktur Indonesia.

Meskipun menunjukkan kinerja yang membanggakan, sektor manufaktur Indonesia masih menghadapi tantangan seperti persaingan dari produk impor murah dan ketidakpastian global. Namun, Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan bahwa data-data ini seharusnya mematahkan pandangan mengenai deindustrialisasi dini yang kerap disuarakan sejumlah kalangan. Dengan struktur manufaktur yang lebih dalam dan tersebar merata, serta upaya berkelanjutan untuk memperkuat daya saing, Indonesia optimis dapat terus meningkatkan prestasinya di kancah manufaktur global.