
Kondisi harga daging sapi dan telur ayam menunjukkan dinamika menjelang perayaan Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru), dengan tren kenaikan pada beberapa komoditas namun pasokan secara umum dipastikan aman. Pemerintah melalui sejumlah kementerian dan lembaga menegaskan komitmen untuk menjaga stabilitas harga dan ketersediaan pasokan.
Untuk komoditas telur ayam, harga terpantau mengalami kenaikan di berbagai daerah. Di Semarang, harga telur ayam ras naik dari kisaran Rp24.000-Rp25.000 menjadi Rp32.000 per kilogram per 18 Desember 2024, dengan kenaikan harian antara Rp500 hingga Rp1.000. Secara nasional, rata-rata harga telur ayam ras mencapai Rp31.654 per kilogram, melebihi Harga Acuan Penjualan (HAP) tingkat konsumen yang ditetapkan sebesar Rp30.000 per kilogram. Di wilayah lain seperti Padang, harga telur ayam ras bahkan mencapai Rp63.000 per papan, dan di Bontang, telur ukuran besar dijual hingga Rp72.000 per piring. Kenaikan harga ini mulai terasa sejak akhir November 2024 dan diperkirakan akan berlanjut hingga awal 2025.
Penyebab kenaikan harga telur ayam antara lain adalah peningkatan permintaan masyarakat menjelang Nataru untuk kebutuhan memasak dan membuat kue, serta adanya libur sekolah. Selain itu, permintaan non-musiman seperti program pemerintah dan bantuan bencana juga turut menekan pasokan di pasar. Faktor cuaca buruk dan hambatan distribusi akibat kemacetan lalu lintas juga disebut mempengaruhi harga.
Meskipun demikian, Badan Pangan Nasional (Bapanas) memastikan ketersediaan telur ayam secara nasional dalam kondisi aman dan mencukupi. Proyeksi produksi telur ayam ras pada Desember 2025 diperkirakan mencapai 544,4 ribu ton, dengan total ketersediaan setelah ditambah carry-over stock November mencapai 655,5 ribu ton. Angka ini dinilai cukup untuk memenuhi kebutuhan konsumsi Desember yang diproyeksikan meningkat sekitar 7,9 persen menjadi 581 ribu ton dibandingkan bulan sebelumnya. Peternak di Bogor juga melaporkan harga telur ayam ras stabil di kisaran Rp29.000 per kilogram dengan produksi yang terus berjalan normal.
Sementara itu, untuk komoditas daging sapi, kondisi pasokan dipastikan aman, meskipun ada sedikit penyesuaian harga di tingkat konsumen. Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Agung Suganda, menegaskan bahwa harga sapi hidup di tingkat peternak tetap terkendali, berada di kisaran Rp52.000-Rp53.000 per kilogram bobot hidup, di bawah harga acuan pembelian Rp56.000-Rp58.000 per kilogram. Gabungan Pengusaha Sapi Potong Indonesia (Gapuspindo) juga memastikan stok sapi pedaging aman untuk kebutuhan Nataru. Kementan mencatat ketersediaan sapi dan kerbau bakalan di seluruh feedlot mencapai 193.705 ekor, jumlah yang cukup hingga Idul Fitri 2026.
Namun, di tingkat konsumen, harga daging sapi terpantau mengalami kenaikan tipis. Di Surabaya, harga daging sapi kelas 1 naik dari Rp110.000 menjadi Rp115.000 per kilogram. Di Medan, harga rata-rata daging sapi adalah Rp125.000 per kilogram. Data Bapanas menunjukkan harga daging sapi murni secara nasional mencapai Rp128.730 per kilogram, naik 0,87 persen. Kenaikan harga ini disebabkan oleh meningkatnya permintaan menjelang libur Nataru yang diprediksi naik sekitar 5 persen, serta kenaikan harga sapi hidup siap potong.
Pemerintah secara keseluruhan memperketat pengawasan harga dan distribusi pangan menjelang Nataru. Menteri Pertanian sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional, Andi Amran Sulaiman, menegaskan bahwa pelaku usaha yang menjual bahan pangan pokok di atas Harga Eceran Tertinggi (HET) akan dikenai sanksi tanpa peringatan. Satuan Tugas Pangan (Satgas Pangan) akan diterjunkan untuk memastikan tidak ada praktik penjualan yang melampaui HET, terutama pada komoditas strategis. Pemerintah juga mencermati peran middleman atau perantara yang berpotensi mempermainkan harga. Program bantuan sosial, diskon tarif transportasi, dan gerakan pangan murah juga disiapkan untuk menjaga daya beli masyarakat dan mengendalikan inflasi.