
BANDA ACEH – Aliran listrik telah kembali menyala di 184 desa di Kabupaten Aceh Tengah per Jumat (26/12/2025), menyusul upaya intensif pemulihan pascabencana banjir bandang dan tanah longsor yang melanda wilayah tersebut pada akhir November 2025. PT PLN (Persero) berhasil menormalkan 323 gardu distribusi secara bertahap, memberikan harapan baru bagi masyarakat yang sempat terendam kegelapan selama lebih dari dua pekan.
Bencana alam berupa banjir bandang dan tanah longsor pada akhir November lalu menyebabkan kerusakan masif pada infrastruktur ketenagalistrikan di Aceh Tengah, termasuk Takengon. Kerusakan yang mencapai sekitar 40 persen pada jaringan distribusi listrik dan ambruknya enam menara transmisi di jalur Bireuen–Arun menjadi penyebab utama pemadaman total di sejumlah wilayah. Kondisi ini diperparah oleh akses jalan darat yang terputus, menghambat mobilisasi material dan alat berat untuk perbaikan.
Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo menekankan prioritas pemulihan kelistrikan untuk mendukung aktivitas masyarakat. "Kami memahami tingginya urgensi listrik bagi masyarakat Takengon dalam masa pemulihan pascabencana," ujar Darmawan. Ia menambahkan bahwa PLN terus berkoordinasi dengan Pemerintah Daerah, TNI, dan Polri untuk membuka akses jalan guna mobilisasi material. Sebagai langkah darurat, PLN bahkan mengirimkan genset melalui jalur udara ke RSUD Takengon untuk memastikan layanan kesehatan tetap berjalan.
Meskipun 184 desa telah kembali dialiri listrik, General Manager PLN Unit Induk Distribusi (UID) Aceh Eddi Saputra menjelaskan bahwa timnya masih berjuang menormalkan 139 gardu distribusi tambahan yang masih terdampak, termasuk di beberapa area Takengon. "Petugas kami di lapangan bekerja menyesuaikan kondisi infrastruktur dan medan, dengan tetap mengutamakan keselamatan serta keandalan pasokan listrik," kata Eddi. Pemulihan menyeluruh masih bergantung pada perbaikan infrastruktur jalan dan kondisi cuaca yang tidak menentu, yang menghambat pergerakan alat berat dan material ke lokasi terisolasi.
Kembalinya aliran listrik ini memiliki implikasi signifikan bagi kehidupan masyarakat Aceh Tengah. Warga yang sebelumnya terpaksa menggunakan penerangan darurat dan mengalami kesulitan dalam aktivitas sehari-hari, kini dapat kembali menjalankan fungsi rumah tangga, ekonomi, dan pendidikan. Dimas, seorang warga Aceh Tengah, mengungkapkan rasa syukurnya meskipun kondisi kelistrikan sempat belum stabil. Namun, tantangan logistik dan geografis di wilayah pegunungan seperti Aceh Tengah menuntut solusi infrastruktur energi yang lebih tangguh di masa depan. Kerentanan jaringan listrik terhadap bencana alam menjadi pelajaran penting untuk pembangunan sistem yang lebih resilien, mungkin dengan diversifikasi sumber energi atau penguatan jaringan transmisi dan distribusi agar tidak mudah terputus total. Upaya pemulihan ini tidak hanya sekadar mengembalikan cahaya, tetapi juga merevitalisasi harapan dan fondasi bagi kebangkitan ekonomi lokal.