Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Danantara Genjot Investasi Rp 1.500 T Demi 70 GW Pembangkit Listrik

2025-12-13 | 20:24 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2025-12-13T13:24:21Z
Ruang Iklan

Danantara Genjot Investasi Rp 1.500 T Demi 70 GW Pembangkit Listrik

Danantara, sebagai lembaga pengelola investasi strategis, secara agresif mengejar target investasi senilai lebih dari Rp 1.500 triliun untuk merealisasikan pembangunan pembangkit listrik berkapasitas 70 gigawatt (GW) dalam sepuluh tahun ke depan. Ambisi ini tertuang dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PT PLN (Persero) periode 2025-2034, yang menekankan 76% dari kapasitas baru tersebut akan berasal dari Energi Baru Terbarukan (EBT).

Senior Director Business Performance & Assets Optimization Danantara, Bhimo Aryanto, menegaskan bahwa besarnya investasi yang dibutuhkan tidak mungkin dipenuhi hanya dari sumber domestik, sehingga mengundang partisipasi investor asing menjadi krusial. Danantara secara aktif menjalin diskusi dan pertemuan dengan komunitas investasi global untuk menarik modal ke proyek-proyek EBT di Indonesia.

Proyeksi investasi ini sejalan dengan target ambisius pemerintah untuk mencapai bauran energi terbarukan sebesar 34% pada tahun 2034 dan meningkat menjadi 87% pada tahun 2060. Danantara telah mengidentifikasi peluang investasi hingga US$200 miliar, atau sekitar Rp 3.295 triliun (kurs Rp 16.480/USD), yang mencakup pengembangan tenaga surya, hidro, limbah menjadi energi (Waste-to-Energy/WTE), biomassa, sistem penyimpanan energi baterai, dan proyek-proyek EBT lainnya.

Dalam upayanya, Danantara telah membentuk kemitraan strategis. Salah satunya adalah penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) senilai hingga US$10 miliar dengan perusahaan energi Arab Saudi, ACWA Power. Kemitraan ini akan mengeksplorasi investasi dalam pembangkit listrik EBT, turbin gas siklus gabungan, hidrogen hijau, dan fasilitas desalinasi air. Selain itu, Uni Emirat Arab (UEA) telah menunjukkan komitmen untuk menginvestasikan US$10 miliar dalam proyek EBT berkapasitas 10 GW melalui usaha patungan, seperti disampaikan oleh Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan. Kerjasama juga terjalin dengan PT Pertamina (Persero) untuk pengembangan proyek energi bersih gabungan, termasuk 500MW EBT dan gas-to-power, serta pengembangan hidrogen hijau. Danantara juga menjalin kesepakatan co-investasi dengan Japan Bank for International Cooperation (JBIC) di bidang energi terbarukan dan infrastruktur transmisi. Bahkan, CEO Danantara Rosan Perkasa Roeslani menyatakan kesiapan untuk berkolaborasi dengan Temasek Singapura dalam pembangunan kawasan industri energi bersih.

Salah satu fokus utama Danantara adalah pengembangan proyek WTE. Lembaga ini berencana meluncurkan setidaknya 33 proyek WTE di seluruh negeri, dengan perkiraan investasi antara Rp 2 triliun hingga Rp 3 triliun per pembangkit. Ibu Kota menjadi prioritas dengan empat hingga lima lokasi yang direncanakan. Setiap fasilitas WTE ditargetkan mampu mengolah 1.000 ton sampah per hari untuk menghasilkan sekitar 15 megawatt listrik.

Stefanus Ade Hadiwidjaja, Managing Director Investment Holding BPI Danantara, menyatakan bahwa proyek-proyek ini akan dieksekusi dalam satu hingga dua tahun ke depan. Inisiatif investasi besar ini tidak hanya diharapkan dapat menggerakkan perekonomian nasional dan membantu Indonesia keluar dari perangkap negara berpendapatan menengah, tetapi juga berperan penting dalam transisi energi hijau serta mempercepat pengakhiran operasional pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) batu bara, guna mencapai target emisi nol bersih.