:strip_icc()/kly-media-production/medias/1817916/original/096432200_1514865744-20180102-IHSG-FF2.jpg)
PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) pada 19 Desember 2025 mengumumkan rencana pembagian dividen interim tahun buku 2025 sebesar Rp 9,3 triliun, atau Rp 100 per saham, dengan jadwal pembayaran yang akan terealisasi pada 14 Januari 2026. Keputusan ini, yang secara resmi disampaikan melalui keterbukaan informasi kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK), menegaskan komitmen perseroan terhadap pengembalian nilai kepada pemegang saham di tengah dinamika ekonomi. Corporate Secretary Bank Mandiri, Adhika Vista, menyatakan bahwa kebijakan dividen interim ini merefleksikan optimisme manajemen terhadap fundamental perusahaan yang tetap kuat serta prospek bisnis yang terjaga.
Langkah korporasi ini didukung oleh kinerja keuangan Bank Mandiri yang solid hingga akhir November 2025, dengan kondisi permodalan dan likuiditas yang terpelihara. Bank Mandiri mencatatkan laba bersih konsolidasi sebesar Rp 37,73 triliun hingga kuartal ketiga 2025, meskipun angka ini menunjukkan penurunan sekitar 10,2% secara tahunan (Year-on-Year/YoY) dibandingkan periode yang sama di tahun 2024 sebesar Rp 42,02 triliun. Namun, capaian laba bersih sembilan bulan tersebut masih sesuai dengan ekspektasi estimasi laba bersih setahun penuh.
Pertumbuhan intermediasi Bank Mandiri menunjukkan tren positif, dengan penyaluran kredit secara bank only tumbuh 13,1% YoY mencapai Rp 1.452 triliun hingga November 2025, melampaui rata-rata pertumbuhan kredit industri. Kinerja ini didukung oleh pengelolaan dana pihak ketiga (DPK) yang kuat, dengan pertumbuhan 15,9% YoY menjadi Rp 1.584 triliun. Rasio Loan to Deposit Ratio (LDR) Bank Mandiri stabil di kisaran 91%, menunjukkan kondisi likuiditas yang sehat dan ruang ekspansi yang memadai. Total aset bank only per November 2025 mencapai Rp 2.120 triliun, tumbuh 14,6% YoY. Pendapatan bunga bersih (Net Interest Income/NII) tumbuh 4,9% YoY mencapai Rp 78,3 triliun pada kuartal ketiga 2025, sementara pendapatan non-bunga naik 7,97% YoY menjadi Rp 33,2 triliun. Meskipun demikian, tekanan pada profitabilitas terlihat dari kenaikan beban operasional sebesar 25,3% YoY pada kuartal ketiga 2025, yang memengaruhi laba bersih.
Secara historis, Bank Mandiri memiliki kebijakan dividen yang cenderung konservatif, dengan pembagian dividen umumnya dilakukan setahun sekali setelah Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) dan menargetkan rasio pembayaran dividen (payout ratio) sekitar 45% atau lebih dari laba bersih tahunan. Pada Maret 2025, Bank Mandiri membagikan dividen tunai sebesar Rp 43,5 triliun, atau Rp 466,18 per saham, dari laba bersih tahun buku 2024, yang merepresentasikan 78% dari laba bersih. Pembagian dividen interim Rp 100 per saham untuk tahun buku 2025 ini menunjukkan fleksibilitas manajemen dalam mengembalikan keuntungan kepada pemegang saham di luar jadwal dividen tahunan reguler.
Bagi investor, pengumuman dividen interim ini berpotensi meningkatkan daya tarik saham BMRI, terutama di tengah volatilitas pasar. Saham BMRI sempat mencatatkan net buy signifikan dari investor asing pada periode 15-17 Desember 2025, dengan nilai Rp 328,9 miliar di pasar reguler, dan penguatan saham sebesar 6,63% sejak awal pekan hingga 18 Desember 2025. Ini mengindikasikan respons positif pasar terhadap prospek pengembalian keuntungan. Regulasi OJK mengenai dividen bank tidak secara spesifik mengatur persentase payout ratio, namun menekankan pentingnya bank memiliki kebijakan dividen yang jelas dan mengkomunikasikannya kepada pemegang saham, serta memastikan pembagian dividen tidak mengganggu kesehatan keuangan bank, termasuk kewajiban terhadap kreditor dan kegiatan usaha. Kebijakan dividen interim Bank Mandiri ini memperkuat persepsi stabilitas finansial dan prospek pertumbuhan di tengah ekspektasi normalisasi beban operasional dan pertumbuhan kredit yang lebih tinggi pada 2026.