:strip_icc()/kly-media-production/medias/3372966/original/057089700_1612924679-bitcoin-2007769_640.jpg)
Pasar kripto kembali diwarnai kepanikan seiring dengan terperosoknya harga Bitcoin secara signifikan, mendorong sentimen investor ke zona "Extreme Fear". Bitcoin, aset digital terbesar berdasarkan kapitalisasi pasar, saat ini diperdagangkan di sekitar $85.983 atau Rp1.441.039.000,00, setelah mengalami penurunan tajam hampir 5% dalam 24 jam terakhir. Penurunan ini bahkan membuat Bitcoin anjlok di bawah level $88.000 pada awal Desember dan $87.000, menghapus keuntungan yang terkumpul selama seminggu dalam satu sesi perdagangan.
Indeks Fear & Greed Crypto, sebuah indikator penting sentimen pasar, kini berada di angka 24, menandakan kondisi "Extreme Fear" atau Ketakutan Ekstrem di kalangan investor. Indeks ini telah menunjukkan sentimen negatif, bahkan sempat menyentuh angka 20 "Extreme Fear" pada minggu lalu. Angka yang rendah ini mencerminkan kekhawatiran yang mendalam di pasar, di mana nilai 0 menunjukkan ketakutan ekstrem dan 100 menunjukkan keserakahan ekstrem.
Berbagai faktor telah diidentifikasi sebagai pemicu utama koreksi pasar ini. Kombinasi antara faktor makroekonomi global dan dinamika pasar kripto yang sangat volatil menjadi penyebab utama. Kebijakan Federal Reserve terkait suku bunga dan tarif perdagangan global turut memberikan dampak negatif pada harga Bitcoin. Selain itu, korelasi yang kuat antara aset kripto dan saham teknologi juga terlihat jelas; penurunan signifikan pada saham teknologi seperti Nvidia dan indeks Nasdaq, yang dipicu kekhawatiran gelembung kecerdasan buatan (AI), menciptakan efek domino bagi Bitcoin.
Koreksi ini juga diperparah oleh aksi jual besar-besaran dari investor ritel yang menarik sekitar $4 miliar dari spot ETF Bitcoin dan Ether sepanjang November. Penembusan level $94.000, yang diperkirakan setara dengan biaya produksi Bitcoin, memicu gelombang kepanikan dan aksi ambil untung yang mempercepat penurunan harga. Volatilitas tinggi yang terjadi dalam dua minggu terakhir, dengan Bitcoin sempat anjlok di bawah $87.000, mengindikasikan sensitivitas pasar terhadap sentimen makro dan teknikal.
Selain itu, lonjakan likuidasi posisi leverage juga memperparah kondisi. Data menunjukkan lebih dari 180.000 trader terlikuidasi dalam 24 jam terakhir, dengan total likuidasi mencapai $539 juta, sebagian besar merupakan posisi long pada Bitcoin dan Ether. Sebanyak $400 juta dilaporkan terlikuidasi hanya dalam satu jam. Kegagalan Bitcoin untuk menembus level resistance kunci dan anjlok hampir 5% hanya dalam tiga jam pada Minggu malam, 30 November 2025, menjadi katalisator bagi sentimen "risk-off" di awal Desember. Bulan November 2025 sendiri mencatat performa terburuk bagi Bitcoin sejak 2018, dengan penurunan sekitar 17% dari $109.600 di awal bulan menjadi $90.400 di akhir bulan. Minimnya arus masuk ke ETF Bitcoin dan absennya pembeli yang menyerap penurunan juga menjadi kekhawatiran.
Ke depan, para analis memperingatkan bahwa pola Bitcoin saat ini mencerminkan siklus sebelumnya yang dapat mengarah pada penurunan lebih lanjut, dengan beberapa pihak bahkan memperkirakan potensi penurunan ke $48.000 jika level support $80.000 tidak bertahan. Sean McNulty, pemimpin perdagangan derivatif APAC di FalconX, mengamati level $80.000 sebagai support kunci berikutnya. Mike McGlone, analis senior Bloomberg Intelligence, bahkan memprediksi Bitcoin bisa jatuh ke $50.000 atau setara Rp830 juta karena faktor makroekonomi yang sedang berlangsung. Meskipun tekanan jangka pendek masih kuat, Bitcoin diperkirakan akan bergerak terbatas di rentang $87.000 – $89.000 dalam waktu dekat, berpotensi menjadi area konsolidasi bagi investor yang menantikan arah tren berikutnya.