:strip_icc()/kly-media-production/medias/2300251/original/089421400_1533277572-Foto_Liputan6.com.jpg)
Substansialnya pertumbuhan ekonomi digital Indonesia yang diproyeksikan mencapai nilai lebih dari 100 miliar dolar AS pada tahun 2025 dan berpotensi menyentuh 400 miliar dolar AS atau sekitar Rp 6.640 triliun pada 2030, memicu anak-anak usaha PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) untuk agresif memperluas konektivitas dan infrastruktur digital di seluruh penjuru negeri. Strategi ini, yang merupakan bagian integral dari inisiatif "Five Bold Moves" Telkom, berupaya mengukuhkan posisi perseroan sebagai pemain kunci dalam ekosistem digital nasional dan global.
Telkomsel, anak usaha yang kini mengelola layanan IndiHome setelah integrasi Fixed Mobile Convergence (FMC) pada tahun 2023, menjadi ujung tombak penetrasi broadband ke segmen konsumen. IndiHome, yang telah menguasai 54,21% pangsa pasar internet rumah pada survei APJII 2023, fokus pada strategi "quality-led growth" untuk menjaga kepuasan pelanggan melalui keandalan layanan dan ketepatan penanganan. Perusahaan ini mengoptimalkan sinergi FMC dengan basis 158,8 juta pelanggan mobile Telkomsel, meluncurkan paket bundling Telkomsel One yang mengintegrasikan internet rumah, TV interaktif, dan layanan video streaming. Selain itu, Telkomsel juga menghadirkan IndiHome Fiber-to-the-Room (FTTR) untuk memperluas jangkauan sinyal Wi-Fi di setiap ruangan menggunakan konektivitas serat optik transparan, yang saat ini tersedia di Jabodetabek dan akan diperluas secara bertahap. Untuk menjangkau segmen pasar yang lebih sensitif harga, Telkomsel juga mengandalkan produk EZnet dengan harga yang lebih terjangkau. Per kuartal I/2025, IndiHome melayani 9,8 juta pelanggan residensial, tumbuh 10,4% secara tahunan, dan total pelanggan IndiHome (B2C dan B2B) mencapai 11 juta pelanggan.
Paralel dengan ekspansi konektivitas residensial, PT Telkom Data Ekosistem (TDE) atau NeutraDC, anak usaha Telkom lainnya, gencar mengembangkan bisnis pusat data. TDE menargetkan kapasitas pusat data menjadi 500 megawatt (MW) pada tahun 2030, meningkat signifikan dari kapasitas 48 MW yang saat ini dioperasikan melalui 35 pusat data (30 domestik dan 5 luar negeri). Proyek-proyek strategis termasuk penambahan kapasitas Hyperscale Data Center (HDC) di Cikarang sebesar 18 MW melalui suntikan modal Rp 1,62 triliun, serta pembangunan HDC berukuran 50 MW di Batam yang diprediksi rampung pada semester I 2025. Direktur Wholesale & International Service Telkom, Honesti Basyir, mengungkapkan bahwa Batam menjadi lokasi strategis untuk menangkap potensi limpahan permintaan dari Singapura dan Johor, Malaysia, sejalan dengan tren global dan kebutuhan kapasitas yang meningkat akibat adopsi kecerdasan buatan (AI). Telkom juga membuka opsi monetisasi bisnis pusat datanya melalui skema penawaran umum perdana (IPO) atau investasi strategis untuk memaksimalkan valuasi.
Di sisi infrastruktur jaringan grosir, Telkom melalui PT Telkom Infrastruktur Indonesia (TIF) atau InfraNexia, telah meresmikan spin-off sebagian bisnis dan aset wholesale fiber connectivity tahap I senilai sekitar Rp 35 triliun. Setelah seluruh proses rampung, nilai aset InfraNexia diproyeksikan mencapai Rp 90 triliun. Langkah ini bertujuan mempercepat implementasi strategi Telkom 3.0, meningkatkan efisiensi operasional, transparansi model bisnis wholesale, serta memperkuat peran Telkom Group sebagai enabler ekosistem digital nasional yang inklusif. InfraNexia akan berfokus pada layanan wholesale dan penyedia layanan internet, serta diproyeksikan menjadi platform pertumbuhan vital dalam rangka fiberisasi Indonesia.
Investasi Telkom dalam infrastruktur digital hingga semester I 2025 mencapai Rp 9,5 triliun, dengan lebih dari 50% dialokasikan untuk memperluas jaringan fiber optik, menara telekomunikasi, dan penguatan backbone digital seperti satelit dan kabel bawah laut. Perseroan juga menjalin kerja sama strategis dengan PT Communication Cable Systems Indonesia (CCSI) untuk penjajakan pengembangan Sistem Komunikasi Kabel Laut (SKKL) SUB-2 yang akan menghubungkan Gresik–Makassar–Takisung, melintasi Jawa, Sulawesi, hingga Kalimantan, untuk memperkuat konektivitas antarwilayah kepulauan.
Pemerintah Indonesia, melalui Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, memproyeksikan ekonomi digital Indonesia akan mencapai USD400 miliar pada 2030, didukung oleh pertumbuhan signifikan di sektor e-commerce, teknologi finansial, analitik berbasis AI, dan adopsi cloud. Penetrasi internet di Indonesia terus meningkat, mencapai 80,66% pada tahun 2025 atau sekitar 229 juta penduduk, naik dari 79,5% pada 2024. Namun, pemerataan akses internet masih menjadi pekerjaan rumah, terutama di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T). Dalam konteks ini, program Smart Village Nusantara (SVN) yang diinisiasi Telkom sejak Oktober 2020 mendukung pengembangan ekosistem desa digital dengan menyediakan infrastruktur, aplikasi, dan layanan untuk tata kelola pemerintahan, ekonomi, dan sosial di desa-desa, termasuk di Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara.
Transformasi ini selaras dengan upaya Telkom Group untuk menjadi "digital telco" kelas dunia dan penggerak utama transformasi digital bangsa, sebagaimana ditegaskan oleh Direktur Utama Telkom Ririek Adriansyah dan Direktur Utama Telkom Dian Siswarini. Perusahaan berupaya menciptakan nilai tambah, meningkatkan daya saing, dan memberikan kontribusi nyata bagi ekosistem digital nasional, mendukung visi Indonesia Emas 2045.