Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

AADI Tembus 52,69 Juta Ton Penjualan Batu Bara hingga Kuartal III 2025

2025-12-22 | 20:57 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2025-12-22T13:57:28Z
Ruang Iklan

AADI Tembus 52,69 Juta Ton Penjualan Batu Bara hingga Kuartal III 2025

PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) mencatatkan volume penjualan batu bara sebesar 52,69 juta ton hingga kuartal ketiga tahun 2025, sejalan dengan target penjualan perusahaan untuk setahun penuh di tengah pasar komoditas yang dilanda tekanan harga. Laporan keuangan yang dirilis pada Senin (22/12/2025) menunjukkan bahwa meskipun volume penjualan kuat, pendapatan AADI mengalami penurunan 11 persen menjadi 3,609 miliar dolar AS dan laba bersih anjlok 44 persen menjadi 655 juta dolar AS secara tahunan, terutama disebabkan oleh melemahnya harga batu bara global.

Kinerja operasional AADI ini mencerminkan dinamika yang kompleks dalam industri batu bara global sepanjang 2025, di mana kelebihan pasokan dan permintaan yang melambat dari sektor pembangkit listrik serta produksi baja di ekonomi-ekonomi utama terus menekan harga. Harga batu bara termal, yang menjadi fokus utama AADI, mengalami penurunan signifikan. Direktur AADI Lie Luckman menjelaskan bahwa meskipun pasar menghadapi tekanan harga, manajemen memandang batu bara tetap memegang peran penting dalam bauran energi global, terutama untuk kebutuhan pembangkit listrik.

Secara historis, pasar batu bara telah mengalami normalisasi bertahap sejak puncak krisis energi 2022. Pada awal 2025, harga batu bara di seluruh wilayah utama diperdagangkan di bawah 100 dolar AS per ton, dengan stok surplus di Cina dan India serta permintaan yang menurun di Eropa berkontribusi pada penurunan harga. Namun, di sisi lain, pasar batu bara Indonesia menunjukkan ketahanan, didorong oleh permintaan domestik yang kuat untuk pembangkit listrik dan pengembangan industri, termasuk sektor besi dan baja. Data menunjukkan bahwa ukuran pasar batu bara Indonesia dalam hal volume produksi diperkirakan mencapai 0,89 miliar ton pada tahun 2025.

Penjualan AADI hingga September 2025 didominasi oleh pasar domestik Indonesia, diikuti oleh Malaysia, India, dan Cina, dengan mayoritas pelanggan berasal dari sektor pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) dan pengguna akhir lainnya. Diversifikasi pasar ini penting mengingat upaya Cina dan India untuk meningkatkan produksi batu bara domestik guna mengurangi ketergantungan pada impor, sebuah tren yang telah menekan volume ekspor Indonesia. Indonesia sebagai eksportir batu bara termal terbesar dunia, menghadapi tantangan dari volume ekspor yang menurun sebesar 6,33 persen tahun-ke-tahun pada paruh pertama 2025.

Untuk menghadapi tantangan pasar ini, AADI telah mengalokasikan belanja modal (capex) sebesar 243 juta dolar AS hingga September 2025. Dana tersebut terutama dialokasikan untuk investasi pembangkit listrik guna menunjang kegiatan industri di Kalimantan Utara, pembelian tongkang, serta penguatan sarana pendukung lainnya. Para analis memproyeksikan pendapatan AADI akan meningkat menjadi 6 miliar dolar AS pada 2025 dan 6,6 miliar dolar AS pada 2026, didorong oleh ekspektasi harga batu bara yang lebih kuat dan kontribusi dari pembangkit listrik tenaga batu bara yang baru beroperasi. Laba bersih diperkirakan mencapai 1,2 miliar dolar AS pada 2025.

Kendati demikian, prospek jangka panjang industri batu bara Indonesia tidak lepas dari risiko transisi energi global. Meskipun pemerintah Indonesia menargetkan produksi batu bara sebesar 735 juta ton pada 2025, menurun dari 836 juta ton pada 2024, sektor ini masih dihadapkan pada tekanan kebijakan transisi energi dan komitmen iklim. Beberapa penambang besar di Indonesia telah mulai melakukan diversifikasi ke sektor non-batu bara, seperti produksi aluminium dan energi terbarukan, untuk mengurangi eksposur terhadap pasar batu bara yang volatil. Kebijakan pemerintah seperti Domestic Market Obligation (DMO) dan rencana pengenaan pajak ekspor batu bara 1-5 persen mulai 2026 juga akan memengaruhi margin produsen. Tekanan terhadap harga batu bara global juga diproyeksikan terus berlanjut hingga akhir dekade ini, seiring dengan percepatan ekspansi energi terbarukan dan peningkatan penggunaan gas alam cair. Dalam konteks ini, strategi AADI dalam mengelola biaya operasional yang efektif dan diversifikasi geografis serta investasi infrastruktur akan krusial untuk mempertahankan profitabilitas dan daya saing di tengah lanskap pasar energi yang terus berubah.