:strip_icc()/kly-media-production/medias/4868082/original/029972100_1718797232-20240619-Launching_Superbank-ANG_7.jpg)
Initial Public Offering (IPO) PT Super Bank Indonesia Tbk (SUPA) telah menjadi sorotan utama di pasar modal Indonesia, mencatat antusiasme investor yang luar biasa dengan kelebihan permintaan (oversubscription) hingga ratusan kali lipat. Penawaran umum perdana saham bank digital ini berhasil menghimpun dana signifikan untuk mendukung rencana ekspansi ke depan.
Berikut adalah tujuh fakta penting seputar IPO Superbank (SUPA):
1. Kelebihan Permintaan (Oversubscribed) Hingga 318 Kali.
IPO Superbank mencatatkan respons fantastis dari investor, dengan tingkat kelebihan permintaan mencapai 318,69 kali dari alokasi penjatahan terpusat. Antusiasme tinggi ini menandakan kepercayaan pasar yang kuat terhadap fundamental dan prospek jangka panjang Superbank sebagai bank digital yang menjanjikan. CEO Sucor Sekuritas, Bernadus Wijaya, bahkan menyebut tingkat oversubscription ini sebagai rekor, dengan permintaan investor melebihi satu juta order.
2. Potensi Himpun Dana Hingga Rp 3,06 Triliun.
Superbank menargetkan penghimpunan dana segar maksimal sebesar Rp 3,06 triliun dari aksi korporasi ini. Jumlah ini merupakan potensi dana yang bisa diraup jika saham ditawarkan pada rentang harga tertinggi saat periode penawaran awal.
3. Harga IPO Ditetapkan Rp 635 per Saham dengan Melepas 4,4 Miliar Saham.
Setelah melalui masa penawaran awal (bookbuilding) pada 25 November hingga 1 Desember 2025, Superbank menetapkan harga pelaksanaan IPO sebesar Rp 635 per saham, berada di titik tengah dari rentang harga awal Rp 525-Rp 695 per saham. Dalam aksi korporasi ini, Superbank melepas sebanyak 4,4 miliar saham baru atau setara 13% dari modal ditempatkan dan disetor penuh setelah IPO. Dengan harga tersebut, dana segar yang dihimpun secara riil diperkirakan mencapai Rp 2,79 triliun.
4. Mayoritas Dana untuk Penyaluran Kredit.
Superbank akan mengalokasikan sekitar 70% dari dana hasil IPO untuk modal kerja penyaluran kredit. Langkah ini bertujuan untuk mendorong pertumbuhan pembiayaan seiring perluasan ekosistem digital dan penetrasi pasar baru. Sementara itu, sekitar 30% sisanya akan digunakan sebagai belanja modal jangka menengah, mencakup pengembangan produk pendanaan dan pembiayaan digital, sistem pembayaran, infrastruktur teknologi informasi, penguatan operasional, investasi AI dan analitik data, serta peningkatan keamanan siber.
5. Didukung oleh Konsorsium Strategis.
Superbank didukung oleh pemegang saham yang kuat, termasuk Emtek Group, Grab, Singtel, dan KakaoBank. Dukungan ekosistem digital raksasa seperti Grab dan OVO memungkinkan Superbank untuk mengakuisisi jutaan pengguna dan terintegrasi langsung dengan aplikasi tersebut, mempermudah proses pembukaan rekening tanpa aplikasi tambahan.
6. Kinerja Keuangan yang Menjanjikan.
Superbank menunjukkan kinerja keuangan yang kuat dan mengalami pertumbuhan signifikan. Hingga Kuartal III 2025, Superbank membukukan laba bersih Rp 60,12 miliar, pulih dari kerugian pada periode yang sama tahun sebelumnya. Pendapatan bunga bersih melonjak 176% secara tahunan (YoY) menjadi Rp 1,1 triliun, sementara penyaluran kredit tumbuh 84% menjadi Rp 9,04 triliun. Rasio kecukupan modal (CAR) juga sangat tinggi di angka 74,74%.
7. Didukung Penjamin Emisi Ternama.
Dalam pelaksanaan IPO, Superbank bekerja sama dengan enam penjamin pelaksana emisi efek. Mereka adalah Mandiri Sekuritas, CLSA Sekuritas Indonesia, Trimegah Sekuritas Indonesia Tbk, Sucor Sekuritas, serta dua penjamin emisi tambahan yaitu Korea Investment And Sekuritas Indonesia dan Bahana Sekuritas. Kolaborasi ini berkontribusi pada peningkatan kepercayaan investor terhadap IPO SUPA.
Dengan pencatatan saham perdana di Bursa Efek Indonesia yang dijadwalkan pada 17 Desember 2025, IPO Superbank dipandang sebagai salah satu peristiwa paling menonjol di pasar modal Indonesia pada akhir tahun ini, terutama di sektor perbankan digital.